Bukan Pakar SEO Ganteng

Showing posts with label Pencerahan. Show all posts
Showing posts with label Pencerahan. Show all posts

Nikmat Allah Yang Tak Ternilai

Pada umumnya kita ingin mengetahui apa yang membuat kita sakit, bagaimana penyakit mengambil alih sepenuhnya tubuh kita, apa yang menyebabkan demam, kelelahan mendalam, rasa nyeri di tulang dan sendi, serta proses apa yang terjadi dalam tubuh mereka selama sakit.

Seperti halnya saya hari ini, ketika terbangun oleh sapaan isteri untuk berjamaah subuh, rasanya ada sesuatu yang tidak lazim yang saya rasakan. Tubuh saya rasanya lunglai dan sakit bila digerakkan, namun saya berupaya untuk bangkit menunaikan shalat subuh.

Usai shalat subuh saya berdoa dan pikiran saya menerawang tentang apa yang telah saya lakukan belakangan ini sehingga kemungkinan membuat kondisi tubuh saya serasa kehilangan energi. Mulai dari kesibukan pelaksanaan pendaftaran SNMPTN, persiapan administrasi Ujian Nasional, pelaksanaan Ujian Sekolah dan beberapa aktifitas lain yang tidak kalah pentingnya, sehingga waktu untuk beristirahat agak terabaikan ditambah lagi kegiatan ngeblog yang sudah menjadi kebutuhan saya lima tahun terakhir. Namun kegiatan yang terakhir ini saya segera eliminasi dari pikiran saya sebagai penyebab menurunnya kondisi tubuh saya.

Namun saya enggan mendramatisasi realitas yang terlintas dalam pikiran saya, karena saya takut jangan sampai akan berkembang menjadi semakin parah dan menegangkan.

Saya mencoba untuk tidak memunculkan sugesti yang nantinya akan menjadi buah pikiran yang lebih mengerikan dari kondisi sebenarnya, karena saya tahu bahwa bila terjadi kesalahan cara berpikir dalam memahami hikmah dari suatu kondisi tubuh yang rasanya tidak dalam keadaan sehat, malah akan memunculkan kesalahan dalam menyikapinya yang berdampak pada pemikiran yang lebih menderita dari kenyataan yang sebenarnya.

Saya pernah mendengar sebuah pencerahan dari seorang Udztads terkenal bahwa
"Bila sikap mental kita merasakan kondisi tubuh yang menurun haruslah dijauhkan dari pikiran yang negatif karena pada dasarnya hanya akan menggiring kita pada sugesti yang lebih parah".

Memang benar bahwa badan kita haruslah tetap sehat, karena hanya dengan badan yang sehatlah maka aktifitas kita akan menjadi lancar. Kalaupun tubuh kita harus sakit, suatu saat nanti, maka hati kita harus tetap berfungsi dengan baik.

Kita harus yakin bahwa hidup kita akan selalu dipergilirkan. Boleh jadi sekarang kita sehat, tetapi esok hari kita sakit. Ini adalah sebuah keniscayaan. Kita harus yakin bahwa segala yang ada dan yang terjadi di dunia ini, ada dalam genggaman Tuhan.

Kalaupun Tuhan menghendaki kita sakit, itu adalah hal yang wajar, karena tubuh kita adalah milik-Nya. Kenapa kita harus kecewa atau protes ?Ibarat seseorang menitipkan barang miliknya kepada kita. Kita harus yakin bahwa suatu saat pasti akan diambil kembali, dan sangat tidak layak bila kita menahannya.

Alangkah baiknya bila kita memilih ridha saja dalam menerima semua yang terjadi. Segala kekecewaan, penyesalan dan keluh-kesah, sama sekali tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Tugas kita hanyalah ridha akan ketentuan-Nya dan berikhtiar seoptimal mungkin untuk mengobati penurunan kondisi tubuh yang kita alami.

Kita harus yakin bahwa Tuhan sangat adil dan bijaksana dalam menentukan sesuatu hal bagi makhluk-Nya. Tuhan Maha tahu akan keadaan tubuh kita. Semua yang ditimpakan kepada kita sudah diukur dengan sangat sempurna dan mustahil ’over dosis’.


Dengan sakit, kita dapat terhindar dari kemaksiatan yang mungkin akan kita lakukan dalam keadaan sehat.
Dengan sakit, kita akan menyadari betapa penting dan mahalnya harga kesehatan yang sering kali kita sia-siakan ketika sehat.
Sesungguhnya nikmat yang tiada ternilai dari Allah SWT yang terkadang kita lupa untuk mensyukurinya adalah nikmat kesehatan.

Denaihati
Pramudya Ksatria Budiman Pencerahan , Renungan , Tauziyah

Kontroversi Hari Kiamat 21 Desember 2012

Isu hari kiamat 2012 ini memang cukup meresahkan masyarakat, terlebih yang masih awam dan menelan isu ini bulat-bulat. Besarnya keyakinan akan terjadinya hari kiamat pada 2012 membuat perfilman Hollywood memproduksi sebuah film berjudul 2012 yang menyedot perhatian jutaan penonton.


Bagaimana tidak, masyarakat begitu penasaran untuk menyaksikan proses terjadinya hari kiamat versi Hollywood itu. Meskipun sempat menuai kontroversi dan pencabutan izin tayang di Indonesia, nyatanya film 2012 semakin memancing rasa penasaran masyarakat. Alhasil, industri Hollywoodlah yang diuntungkan.

Kini tanggal itu semakin dekat, kabar ramalan kiamat di penghujung 2012 membuat orang-orang tak tenang (cosmophobia). Mauren Dowd, kolumnis, bekas reporter Majalah TIME dan Star Washington, itu sempat menulis curahan hati kegelisahan orang-orang, termasuk dirinya dalam sebuah artikel di The New York Times, edisi 12 Mei 2012 lalu.

Ketakutan para astronom tentang perubahan alam semesta telah berkembang dalam dekade terakhir. Dowd khawatir tentang dua asteroid kecil yang mendekati Bumi. Begitu juga dengan dua gempa bumi besar di Italia dan hitungan mundur menuju kiamat pada 21 Desember berdasar ramalan kalender Maya.

Apalagi ramalah tentang Planet X atau Nibiru, yang konon akan menabrak Bumi sebelum Natal. "Dan benarkah badai matahari mampu membalikan geomagnetik dari Kutub Utara ke Selatan? Akankah lubang hitam menelan kita?"

Kolomnis pemenang Pulitzer Prize 1999 di New York Times itu semakin merinding ketika membaca novel "The Age of Miracles," karya novelis debutan Karen Walker Thompson. Walker menulis, dunia kiamat ketika rotasi bumi melambat, ketika siang dan malam meregang panjang selama minggu, radiasi matahari menembus pelindung bumi, dan mandegnya grafitasi sehingga bumi mendidih.

Para editor buku membumbui tulisan mereka. Misalnya ketika menulis dampak gempa di Indonesia pada 2004. Gempa dahsyat itu mampu mengubah bentuk bumi, mempercepat rotasi dan mencukur lama hari sebanyak 3 mikrodetik hari setiap hari. Hal yang sama terjadi dengan gempa Jepang tahun lalu Ketika lempeng tektonik bergeser, bagian dari Jepang benar-benar pindah lebih dekat ke AS dengan 13 kaki.

Karena gelisah, Dowd bertanya kepada David Morrison, ilmuwan senior di NASA Ames Research Center di California tentang kebenaran berita kiamat itu. Morrison menjawab, berita kiamat hanya akan menakuti anak-anak, dan itu jahat.

"Saya memiliki setidaknya satu e-mail per hari dari seorang anak yang mengaku tidak bisa tidur. Beberapa mengancam bunuh diri. Saya mendengar tentang dua pasang orangtua yang berbicara tentang membunuh anak-anak mereka, lalu bunuh diri sebelum tanggal kiamat."

Morrison melanjutkan, manusia bisa melakukan hal-hal yang mengerikan di dunia misalnya dampak pemanasan global atau perang nuklir. "Tapi kita tidak bisa menggeser jarak ke matahari atau memperlambat rotasi." Dia lalu bertanya kepada Dowd, "Mengapa masyarakat kita begitu terfokus pada potensi bencana?"

Andromeda, Morrison melanjutkan, akan menabrak Bima Sakti dalam dua miliar tahun. Apakah tabrakan ini akan melenyapkan Bumi dan Matahari yang ada di Bimasakti dan mengakibatkan kiamat? Tabrakan tidak membahayakan bumi karena diselamatkan ruang kosong pada galaksi Bima Sakti.

Lalu Morrison berujar, "Akhir dunia adalah sebuah konsep yang benar-benar konyol. Kita sudah di sini selama empat miliar tahun." Dowd bertanya, bagaimana anda yakin? "Saya memiliki gelar doktor dalam astronomi dari Harvard."

Agama Islam mengajarkan bahwa datangnya hari kiamat merupakan misteri yang kekal. Tidak ada seorang makhluk pun yang mengetahui kapan persisnya hari kiamat tiba.

Jangankan manusia biasa, para nabi dan malaikat pun tidak ada yang tahu kapan hari kiamat akan tiba karena Allah Swt. tidak pernah memberitahukan tentang hari tepat terjadinya kiamat. Allah Swt. hanya memberitahukan tanda-tanda datangnya hari kiamat, bukan hari terjadinya kiamat.

Dengan demikian, alangkah bijaknya jika kita tidak memandang isu hari kiamat pada 2012 sebagai sebuah kepastian. Sekali lagi, 21 Desember 2012 hanyalah sebuah prediksi yang telanjur dianggap pembenaran. Hal yang perlu kita lakukan saat ini adalah memperbaiki dan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya hari kiamat.
Sebagai seorang muslim, kita memang harus meyakini bahwa hari kiamat itu ada dan pasti akan tiba. Namun, tidak ada seorang pun yang tahu mengenai kapan terjadinya hari pembinasaan itu. Apalagi, jika manusia sampai berani menyebutkan tanggal, bulan, dan tahun terjadinya hari kiamat.

Mengenai hari kiamat, umat Islam hanya diberi tanda-tandanya, bukan waktu terjadinya. Jika tanda-tanda tersebut sudah mulai tampak, berarti hari kiamat memang sudah dekat. Saat hari kehancuran itu terjadi, tak ada seorang pun yang dapat memundurkan maupun memajukannya, meskipun hanya beberapa detik.

Lantas, apa yang dimaksud dengan tanda-tanda hari kiamat? Tanda-tanda hari kiamat adalah sebuah alamat atau tanda yang menunjukkan bahwa hari kiamat tersebut akan terjadi. Tanda-tanda kiamat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tanda-tanda kiamat yang besar dan tanda-tanda kiamat yang kecil.

Tanda-tanda Kecil Hari Kiamat

Tanda-tanda kecil hari kiamat dibagi menjadi dua kelompok. Tanda-tanda kecil hari kiamat yang pertama, berupa kejadian yang telah muncul dan sudah berakhir, seperti diutusnya Rasulullah saw, terbunuhnya Utsman bin Affan, serta terjadinya fitnah besar-besaran antara dua kelompok orang beriman.

Sementara itu, tanda-tanda kecil hari kiamat yang kedua, merupakan sebuah peristiwa yang telah muncul tetapi belum berakhir. Bahkan, semakin bertambah.

Contohnya, amanah yang semakin disia-siakan, perzinahan semakin merajalela, pembunuhan semakin marak, terangkatnya ilmu, jumlah wanita semakin banyak, dan sebagainya.

Tanda-tanda Besar Hari Kiamat

Hari kiamat besar atau yang disebut dengan kiamat kubra berarti kehancuran seluruh alam semesta hingga rata dan menjadi sebuah lautan. Tibanya hari kiamat besar ditandai dengan beberapa peristiwa yang terbilang ajaib. Tanda-tanda hari kiamat besar yaitu berupa kejadian yang sangat besar.
 Tanda-tanda Besar Hari Kiamat
Timbulnya tanda-tanda besar hari kiamat menujukkan bahwa hari kiamat memang benar-benar sudah sangat dekat. Namun, mayoritas tanda-tanda besar hari kiamat belum muncul. 
 Tanda-tanda Besar Hari Kiamat
Beberapa tanda besar datangnya hari kiamat, yaitu munculnya Imam Mahdi, turunnya Nabi Isa AS atau Isa Almasih untuk mengislamkan orang-orang kafir, munculnya Dajjal, Ya’juj, dan Ma’juj.
 Tanda-tanda Besar Hari Kiamat
Berikut ini merupakan contoh ayat dan hadits yang menyebutkan mengenai tanda-tanda besar datangnya hari kiamat.
Allah swt. berfirman dalam Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 82: “Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.
Mereka berkata, “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” Dzulqarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 82)
Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman: “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (QS. An-Naml: 82)

Selain dalam ayat-ayat Al-Quran, tanda-tanda besar kiamat dinyatakan pula dalam hadis berikut ini. 

Rasulullah saw bersabda, ”Kiamat tidak akan terjadi sebelum engkau melihat 10 tandanya.” Kemudian, Rasulullah saw menyebutkan: Dukhan (kabut asap), Dajjaal, binatang (pandai bicara), matahari terbit dari barat, turunnya Isa AS, Ya’juj, Ma’juj, dan tiga gerhana: gerhana di timur, barat, dan Jazirah Arab, dan terakhir api yang keluar dari Yaman mengantar manusia ke Mahsyar.” (HR Muslim)

Dalam hadits lain, dinyatakan pula bahwa tanda-tanda besar hari kiamat adalah sebagai berikut. 

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, Rasulullah saw bersabda, “Hari tidak akan berakhir, dan tahun belum akan pergi sehingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang dari keluargaku, namanya sama dengan namaku.” (HR Ahmad)

Sebenarnya, terdapat perbedaan yang cukup mencolok mengenai tanda-tanda besar hari kiamat dan tanda-tanda kecil hari kiamat.
Berikut ini merupakan beberapa perbedaannya :
Tanda-tanda besar hari kiamat datang belakangan dibanding tanda-tanda kecil hari kiamat. 
Tanda-tanda besar hari kiamat cenderung belum terjadi, sedangkan tanda-tanda kecil hari kiamat sudah, sedang, dan sebagiannya belum terjadi.
Tanda-tanda besar hari kiamat sifatnya luar biasa, sedangkan tanda-tanda kecil hari kiamat cenderung bersifat biasa.
Jika tanda-tanda besar hari kiamat sudah datang, saat itu pula pintu tobat akan tertutup. Sementara itu, tanda-tanda kecil hari kiamat biasanya merupakan peringatan untuk menyadarkan manusia agar mau bertobat. 
Jika satu tanda besar hari kiamat telah muncul, tanda-tanda lainnya akan ikut muncul. Tanda-tanda besar hari kiamat yang akan muncul pertama kali adalah terbitnya matahari dari arah barat.

Sepertinya, beberapa tanda besar dan tanda kecil hari kiamat yang telah dikemukakan mampu membuat Anda yakin bahwa hari kiamat pada 21 Desember 2012 hanyalah sebuah mitos. Secara jelas, Allah Swt. telah memberikan tanda-tanda datangnya hari kiamat yang dapat dikenali sebagai langkah persiapan.
 Tanda-tanda Besar Hari Kiamat
Oleh sebab itu, tidaklah tepat jika seorang muslim masih memercayai mitos hari kiamat yang dikemukakan berdasarkan sebuah perhitungan manusia. Bagaimanapun, tibanya hari kiamat merupakan sebuah rahasia Tuhan yang tidak mungkin diketahui oleh siapa pun.

Jadi, kapan kiamat tiba? Tidak penting kapan tiba.yang penting mari kita mempersiapkan diri untuk itu. Asal, masih ada harapan akan keadilan, kebenaran dan ketakwaan terhadap Tuhan.
Tanda-tanda Besar Hari Kiamat
Hal yang harus kita lakukan sekarang bukanlah mempersiapkan berbagai ketakutan untuk menghadapi 21 Desember 2012, melainkan mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya hari kiamat yang entah kapan saatnya. Salah satu caranya yaitu lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. agar siap menyambut dan menghadapi hari kiamat.

Denaihati
Pramudya Ksatria Budiman Hari Kiamat , Opini , Pencerahan

Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H

Ibadah qurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan manusia, agar manusia mengorientasikan kehidupannya semata-mata untuk mencapai ridha Allah SWT. 

Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati.

Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhlasan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat keserakahan dan ketamakan manusia untuk berlaku serakah dan tamak, namun kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya.

Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa
solidaritas sosial yang tinggi.

Semoga amalan kita bertambah dari tahun yang telah lalu dan dosa kita diampunkan oleh Allah SWT. Mari kita gunakan segala peluang yang ada demi menambah bekal akhirat kita sebelum bertemu dengan-Nya di hari yang tidak ada pertolongan lain selain mereka yang menemui-Nya dalam keadaan hati yang bersih dan selamat daripada kekotoran dosa dan noda.

Selamat Hari Raya Idul Adha, Mohon Maaf atas segala kekhilafan.


Denaihati
Pramudya Ksatria Budiman Idul Qurban , Pencerahan , Tauziyah

Pilihlah Pemimpin Yang Bisa Menjadi Operator Robot Pendeteksi Kebohongan

Memilih pemimpin tidaklah sembarangan karena ia akan menentukan nasib kita sebagai rakyat yang dipimpinnya. Jika pemimpinnya baik, maka kita sebagai rakyat juga akan juga menjadi baik. Namun jika pemimpinnya buruk, maka sudah pasti akan berimbas buruk pula pada kita sebagai rakyatnya. 



Saya tertarik dengan anekdot berikut ini :
Ada seorang ahli robot yang berhasil menciptakan robot manusia pendeteksi kebohongan. Cara kerja robotnya adalah dengan menampar muka siapa saja yang berbicara bohong di depannya.

Ahli robot ini memiliki istri dan seorang anak laki-laki yang duduk di bangku SMA. Suatu waktu, anaknya pulang larut malam. Dengan marahnya, sang ahli robot memanggil anaknya berdiri di depan robot dan mulailah ia menginterogasi anaknya  sambil mengancam untuk tidak berbohong karena akan ketahuan dengan tamparan robotnya.


Ia mulai bertanya: “Kamu dari mana?” Anaknya menjawab bahwa dia dari rumah teman. Robotnya diam tanpa reaksi. Sang ahli robot bertanya lagi: “Kamu kerja apa di sana? Anaknya menjawab: “Menonton film”. Robotnya masih diam. “Film apa? Tanya ayahnya. Anaknya menjawab: “Film perjuangan”. ”Plaaak....”. Robotnya tiba-tiba menampar muka anak itu. Dengan marahnya, sang ayah yang ahli robot, mencaci maki anaknya bahwa dia sudah berbohong. ”Sekarang kamu jujur saja, film apa?” Tanya ayahnya dengan suara tinggi. Anaknya menjawab: ”Film porno ayah”.


Ayahnya tambah marah dan semakin membentak anaknya dengan mengatakan: ”Kamu mau jadi apa, lihat ayah yang selama hidupnya tidak pernah menonton film porno!”. ”Plaak....., rupanya robot hasil ciptaannya berbalik ke arahnya dan menampar mukanya karena dia juga berbohong”. Saat itu pula keluar istrinya dari kamar yang mendengar suara ribut.


Dan istrinya lalu dengan muka marah, menyalahkan suaminya dengan berkata: ”Apa apaan ayah ini, kamu menyiksa anak ini. Bagaimanapun, anak ini adalah anak ayah juga!” ”Plaak....,” Robot itu langsung menampar pula muka istrinya yang menandakan bahwa dia juga berbicara bohong tentang anak yang dilahirkan yang sebenarnya adalah hasil selingkuhan.

Anekdot ini memang sekadar anekdot yang tidak terjadi dalam dunia nyata tentang robot yang bisa bergerak sendiri menampar orang yang berbohong. Namun anekdot ini telah menyajikan drama tentang anggota keluarga yang semuanya sudah terjangkiti perilaku bohong. Anak berbohong pada ayahnya. Ayah membalas dengan kebohongan lain, dan istrinya juga menyampaikan sesuatu yang mengandung kebohongan. Naudzubillahi Mindzaliq.

Anekdot di atas menyampaikan pesan moral tentang sesuatu yang nyata dalam kehidupan saat ini. Ia bukan saja menyampaikan pesan tentang sebuah keluarga yang penuh kebohongan, tetapi kecenderungan terjadinya prilaku kebohongan pada orang dari berbagai sisi-sisi kehidupan tanpa pandang bulu. Mari mencermati perilaku anak bangsa mulai dari orang-orang kecil sampai orang-orang besar, mulai dari profesi biasa sampai profesi luar biasa, mulai dari mereka yang memang rentan dengan dosa sampai pada mereka yang dianggap suci.


Pernahkah anda membeli langsat atau buah yang dijual perkilo dipinggir jalan? Anda pasti yakin kalau anda membeli jumlah yang jauh dari ukuran yang disebut penjualnya. Percayakah anda bila seorang penjual barang di pasar saat anda menawarnya dan ia mengatakan itu baru modalnya? 


Di sektor kehidupan politik, pecayakah anda pada janji-janji pembangunan di saat jalan-jalan di dekat rumah anda pada berlubang, sampah bertebaran di mana-mana, peminta-minta makin berkeliaran, pelayanan publik bermutu rendah, sementara banyak elite yang hidupnya bergelimang dengan fasilitas dan kemewahan? Percayakah anda efektivitas zikir massal, tablig akbar, kerja para spritualis yang semuanya diadakan hanya untuk pemenangan politik dibanding dengan kerja nyata dan kesungguhan kerja yang tulus untuk rakyat?


Percayakah anda pada kesucian banyak orang di negara dengan simbol agama yang kuat di saat ’candoleng-doleng’ semakin mendapatkan pasar, dan di saat kehidupan malam di sudut-sudut kota semakin kedap kedip. Siapa yang akan  mengambil manfaat dari semua itu?


Di sektor pembangunan fasilitas rakyat, percayakah anda bahwa orang-orang yang menjadi perantara untuk sampai pada tempat dimana uang itu dipakai membangun tidak menyunatnya untuk keperluan dirinya? Apakah pembaca percaya bahwa beberapa politikus yang menjadi ’calo’ dana APBN hanya sejumlah seperti yang terkena kasus selama ini?


Apa yang terjadi dibenak anda saat dana untuk pencetakan kitab suci pun dikorupsi? Bagaimana lagi dengan barang-barang lain yang tidak memiliki label suci? Apa yang terjadi dengan diri anda di saat anda patuh membayar pajak sebagai keingingan untuk menjadi warga negara yang baik, tetapi ramai-ramai mereka mengorupsi dana yang dari rakyat dan untuk rakyat itu?


Percayakah anda bila mereka yang tersandung kasus pajak itu hanya sejumlah yang selama ini dikenal? Apakah dengan cara ini sehingga bisa memahami mengapa petinggi sebuah ormas besar pernah mewacanakan untuk berhenti membayar pajak?


Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah secuil dari lingkaran kebohongan yang sudah menggorogoti bangsa ini, persis dengan analogi keluarga pada anekdot di atas yang semua anggotanya sudah dikooptasi oleh kebohongan. Merujuk pada anekdot di atas, Cara terbaik untuk keluar dari pusaran kebohongan adalah memimpikan untuk benar menemukan ’robot pendeteksi kebohongan’ bangsa dan operatornya harus terbebas dari perilaku suka berbohong bukan seperti pembuat robot di atas.


Jadi tugas kita sebagai rakyat sederhana adanya, memilih tipe pemimpin yang tidak suka berbohong. Karena dengan kapasitas itu, ia dengan percaya diri mengoperasikannya bila suatu saat memiliki ’robot pendeteksi kebohongan’.




Denaihati
Pramudya Ksatria Budiman Pencerahan , Renungan , Tauziyah

Hikmah Isra' Mi'raj Nabi Besar Muhammad SAW

Hari ini Ahad tanggal 17 Juni 2012 M bertepatan dengan 27 Rajab 1433 H sebagai seorang muslim telah diingatkan kembali sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat islam.

Sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (siirah) Rasulullah SAW yaitu peristiwa diperjalankannya beliau (isra) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi'raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di S. Al Isra (dikenal juga dengan S. Bani Israil) ayat pertama .
Artinya ; Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu (potongan) malam dari masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".

Lalu apa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Isra wal Mi'raj ini? Barangkali catatan ringan berikut dapat memotivasi kita untuk lebih jauh dan sungguh-sungguh menangkap pelajaran yang seharusnya kita tangkap dari perjalanan agung tersebut.

Kita kenal, Isra' wal Mi'raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat "sumpek", seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas.

Dalam sitausi seperti inilah, rupanya "rahmah" Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. "warahamatii wasi'at kulla syaei", demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk "berjalan-jalan" (saraa) menelusuri napak tilas "perjuangan" para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawah serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di "Sidartul Muntaha". Sungguh sebuah "penyejuk" yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah SAW untuk kembali "menenangkan" jiwa, mempermantap tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan.

Artinya, bahwa kita adalah "rasul-rasul" Rasulullah SAW dalam melanjutkan perjuangan ini. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada sebuah "perjalanan" yang menyejukkan. "Allahu Waliyyulladziina aamanu" (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman". Wali yang bertanggung jawab memenuhi segala keperluan dan kebutuhan.

Kesumpekan dan kesempitan sebagai akibat dari penentangan dan rintangan mereka yang tidak senang dengan kebenaran, akan diselesaikan dengan cara da metode yang Hanya Allah yang tahu. Yang terpenting bagi seorang pejuang adalah, maju tak gentar, sekali mendayung pantang mundur, konsistensi memang harus menjadi karakter dasar bagi seorang pejuang di jalanNya. "Wa laa taeasuu min rahmatillah" (jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah).

Disebutkan bahwa sebelum di bawa oleh Jibril, beliau dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah SAW berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit "dendam", dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya? Tidak…sungguh mati…tidak. Beliau hamba yang "ma'shuum" (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa signifikasi dari pensucian hatinya?

Rasulullah adalah sosok "uswah", pribadi yang hadir di tengah-tengah umat sebagai, tidak saja "muballigh" (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi "percontohan" bagi semua yang mengaku pengikutnya. "Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah".

Memang betul, sebelum melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan "suci" yang seharusnya dibangun dalam suasa "kefitrahan". Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai "nurani", itulah lentera perjalanan hidup.

Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang ternyata juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan "karat" kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha). Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan, diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melengket. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian "penentu" baik atau tidaknya seseorang pemilik hati.

Disebutkan bahwa hati manusia awalnya putih bersih. Ia ibarat kertas putih dengan tiada noda sedikitpun. Namun karena manusia, setiap kali melakukan dosa-dosa setiap kali pula terjatuh noda hitam pada hati, yang pada akhirnya menjadikannya hitam pekat. Kalaulah saja, manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak sadar dan bahkan menambah dosa dan noda, maka akhirnya Allah akan akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka. "Khatamallahu 'alaa quluubihim".

Di Al Qur'an sendiri, Allah berfirman" yang Artinya: Sungguh beruntung siapa yang mensucikannya, dan sungguh buntunglah siapa yang mengotorinya". Maka sungguh perjalanan ini hanya akan bisa menuju "ilahi" dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah sebelum perjalanan sucinya tersebut.

Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh menfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-nginjak akal, menurunkan tingkat inteletualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri "suci".

Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah memang melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, hanya memang ada dua alternatif di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan kerugian. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk menerima selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan "ketidak senangan" terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya.

Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan kepada pilihan-pilihan yang samar. Fitra menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, ternyata kita seringkali terperangkap kepada pilihan-pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah itu disebabkan oleh tumpulnya firtah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan.

Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepadaYang Maha Pencipta. Pada shalatlah terkumpul berbagai hikmah dan makna. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal yang seorang Muslim senantiasa menjadi tujuan hidupnya.

Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama'ah, dan tidak tanggung-tanggung ma'mumnya adalah para anbiyaa (nabi-nabi), maka sungguh itu adalah suatu pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musa yang menjadi pemimpin sebuah umat besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, Eyangnya banyak nabi dan Rasul, menerima menjadi Ma'mum Rasulullah SAW. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar bahwa Rasulullah memang memiliki kelebihan-kelebihan "leadership", walau secara senioritas beliaulah seharusnya menjadi Imam.

Kepemimpinan dalam shalat berjama'ah sesungguhnya juga simbol kepemimpinan dalam segala skala kehidupan manusia. Allah menggambarkan sekaligus mengaitkan antara kepemimpinan shalat dan kebajikan secara menyeluruh: "Wahai orang-orang yang beriman, ruku'lah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu serta berbuat baiklah secara bersama-sama. Nisacaya dengan itu, kamu akan meraih keberuntungan". Dalam situasi seperti inilah, seorang Muhammad telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh pemimpin umat lainnya.

Baghaimana dengan kita sebagai pengikut nabi muhammad dalam masalah ini? Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki kriteria tersebut. Kriteria "imaamah" atau kepemimpinan yang disebutkan dalam Al Qur'an masih menjadi "tanda tanya" besar pada kalangan umat ini. "Dan demikian kami jadikan di antara mereka pemimpin yang mengetahui urusan Kami, memiliki kesabaran dan ketangguhan jiwa, dan adalah mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami".

Kita umat Islam, yang seharusnya menjadi pemimpin umat lainnya, ternyata memang menjadi salah satu pemimpin. Sayang kepemimpinan dunia Islam saat ini terbalik, bukan dalam shalat berjama'ah, bukan dalam kebaikan dan kemajuan dalam kehidupan manusia. Namun lebih banyak yang bersifat negatif.

Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam kekiniannya. Rasulullah sungguh sadar bahwa betapapun ni'matnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa ni'mat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan keni'matan yang dirasakan malam itu, harus ditinggalkan untuk kembali ke dunia beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya.

Inilah sikap seorang Muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini dengan membawa bekal shalat yang kokoh. Shalat berintikan "dzikir", dan karenanya dengan bekal dzikir inilah kita melanjutkan ayunan langkah kaki menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada ridhaNya. "Wadzkurullaha katsiira" (dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak), pesan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari "fadhalNya" dipermukaan bumi ini. Persis seperti Rasulullah SAW membawa bekal shalat 5 waktu berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi'raj).

Mengakhiri tulisan ini hendaknya kita semua harus memperbaiki diri dan berkaca kepada setiap musibah dan bencana yang sering terjadi. Bukan hanya bencana alam saja yang bisa kita resapi dan kita maknai, melainkan bencana moral yang telah banyak melenceng baik dari tata kehidupan para selebritis, pejabat eksekutif, yudikatif maupun legislatif hingga masyarakat biasa telah banyak terefleksi dan sungguh telah jauh berpijak dari rel-rel kehidupan yang baik dan hakiki sesuai syariat Islam.

Semoga hal ini dapat menjadi pijakan kita untuk melangkah ke depan yang penuh makna dalam menjalani sisa-sisa hidup kita yang semakin hari tanpa disadari jatah usia kita semakin berkurang.


Denaihati
Pramudya Ksatria Budiman islam , Isra Miraj , Pencerahan

21022012


Hari ini tanggal 21 Februari 2012 - hari yang unik secara kalender. Bila kita menyimak format penulisan tanggal hari ini: 21-02-2012. Baliklah dari belakang maka akan tetap sama yakni 21 02 2012. Suatu yang terkira sepele ternyata amat menarik perhatian. Dan tentunya pada hari ini banyak yang menggapnya hari istimewa dan akan membuat momen penting karena gampang diingat, sama halnya dengan tanggal 11 - 11 - 11 yang lalu.

Hari ini banyak yang mengistilahkan tanggal cermin. Mari jadikan hari ini sebagai momen untuk bercermin. Saya yakin hampir setiap hari kita bercermin hanya untuk sekedar mematut diri apakah tampilan kita sudah pantas, sudah rapi, dan sudah “cantik”. Bahkan kadang terkadang, jika kita sedang drop, sedang mengalami defisiensi semangat, tertekan, maupun memiliki permasalahan yang membuat kita hampir dan bahkan menangis, kita terkadang menggunakan bantuan cermin untuk membantu berdiri kembali.

Hari ini kita jadikan sebagai momen untuk membersihkan cermin yang ada dalam hati kita. Sama seperti cermin kusam yang perlu disikat dengan sedikit sabun untuk membuatnya clingg kembali…kita juga butuh itu untuk menyucikan cermin hati kita dari segala dosa-dosa kita sebelum kita bisa mengomentari orang lain dengan kaca mata kita sendiri.

Ketika cermin hati kita tidak bersih, kita tidak dapat mengenal diri kita sebenarnya. Kekotoran kita ditutup-tutupi dengan keadaan cermin yang kotor. Jika sudah tidak dapat mengenal diri kita, kita tidak dapat mengenal Tuhan kita. Naudzubillahi mindzalik.



Denaihati

Pramudya Ksatria Budiman 21022012 , Pencerahan , Renungan

Hikmah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW


Hari ini Ahad 4 Februari 2012 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1433 H adalah Hari Kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. yang lazim disebut Maulid Nabi Besar Muhammad SAW

Seperti tahun-tahun sebelumnya Perayaan Maulid berlangsung di beberapa tempat, ada yang berlangsung sangat meriah namun ada pula yang berlangsung sederhana.

Perayaan Maulid dibeberapa daerah sudah menjadi tradisi, bahkan ada yang mengarah ke praktik syirik dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.

Dibalik semua perayaan yang berlangsung tersebut ada hal yang paling penting kita maknai, agar perayaan itu bukan sekedar seremonial belaka.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan ia banyak menyebut (Nama) Allah." (al-Ahzab: 21)

Sejarah manusia telah melahirkan banyak tokoh hebat yang telah menjadi titik balik suatu perubahan peradaban dan tatanan masyarakat tertentu hingga kemudian layak menjadi idola bagi masyarakat tersebut. Tokoh yang diidolakan ini merupakan unsur vital dari identitas yang paling sejati dari seseorang. Figur idola menjadi miniatur dari idealisme, Pengentalan dari berbagai jalan hidup yang diyakini. Bagaimana pun, sistem keyakinan selalu mengupayakan pengidolaan. Karena tanpa itu, keyakinan akan kehilangan kiblat.

Dalam tradisi Islam, ada budaya perayaan maulid Nabi: event yang dimanfaatkan untuk "menghidupkan" idola lewat pembacaan kembali lembaran-lembaran sejarah Nabi Muhammad. Dalam dunia Islam, Nabi Muhammad mestinya adalah super idol bagi setiap generasi Islam sepanjang zaman. Sayangnya, dalam proses gesekan budaya dan rentang waktu yang panjang, keidolaan Nabi terkadang tereduksi menjadi tokoh non empirik.

Sebagai ritual keagamaan, tradisi maulid memang masih diperdebatkan soal benar-tidaknya; sunnah-bid'ahnya. Perdebatan yang sebenarnya hanya pada level kulit; bentuk dan cara, bukan pada esensi "spiritualitas sejarah" dan "penghadiran ulang ketokohan" yang diupayakan lewat tradisi tersebut. Merayakan maulid Nabi berati berusaha menghadirkan kembali sosok ketokohan beliau dan memperpendek rentang waktu yang ada.

Sebagai sebuah seremonial, peringatan Maulid Nabi memang baru dilakukan pada pertengahan Abad ke-6 Hijriah. Tradisi ini dimulai di Mosul oleh Syaikh Umar bin Muhammad al-Mala, kemudian dikembangkan oleh Muzhaffar al-Din bin Zaynuddin (549-630), penguasa Irbil. Tapi, esensi maulid sebagai penghadiran tokoh sejarah secara praktis sudah sangat mengakar sejak generasi pertama umat Islam. Para sahabat adalah orang-orang yang paling "gemar" menghadirkan sejarah Rasulullah dalam ruang kehidupan mereka, mulai dari urusan rumah tangga sampai masalah politik dan militer.

Kehadiran sejarah Rasulullah menjadi inspirasi paling sempurna bagi seorang muslim dalam menjalani apapun dalam realitas hidupnya. Shalah al-Din al-Ayyubi, panglima agung muslimin dan teman perjuangan Muzhaffar dalam Perang Salib, menggunakan tradisi pembacaan sejarah Nabi sebagai strategi untuk menggedor motivasi pasukannya. Ada sisi-sisi sejarah Nabi yang memberikan gambaran sempurna sebuah jiwa heroik dan ksatria. Maka, al-Ayyubi meletakkan Rasulullah sebagai idola militer tentara melalui tradisi pembacaan sejarahnya.

Upaya al-Ayyubi membangkitkan heroisme muslimin vis a vis Pasukan Salib dalam bentuknya paling suspens. Dan, itu mutlak diperlukan sebagai urat nadi dari sebuah perlawanan dan perjuangan.

Al-Ayyubi memenangkan Perang Salib, mengusir mereka dari Al-Quds dan daerah-daerah muslimin yang lain--mungkin salah satunya berkat pengidolaan sejarah dan motivasi historik yang terus ditanamkan dalam ruang pikiran, jiwa dan pandangan hidup mereka.

Sejarah dibaca memang untuk melahirkan tokoh di masa lampau. Ini menjadi salah satu filosofi dari displin sejarah itu sendiri. Dalam tradisi maulid kita, hal itu sangat kental. Bahkan, tidak hanya melahirkan tapi juga menyegarkan kembali bahwa hanya ada satu tokoh kunci dan super idol dalam keyakinan kita, yakni Nabi Muhammad saw.

Menciptakan idola dari tokoh sejarah adalah hal yang cukup sulit. Tokoh sejarah hanya digambarkan dalam bentuk cerita-cerita, tidak bersentuhan secara empirik dengan realitas yang sedang kita alami. Gambaran dalam sejarah tidak sekongkrit ketika seseorang secara langsung bertemu atau merasakan sendiri bagaimana sepak terjang tokoh itu. Diperlukan penciptaan momen yang tepat agar sejarahnya hadir, menyentuh dan meninggalkan pengaruh semi-empirik terhadap seseorang.

Di sinilah, peringatan sejarah secara serentak seperti Maulid Nabi menemukan urgensitasnya yang paling esensial. Seseorang lebih mudah mencintai ayah, ibu, saudara atau temannya daripada mencintai Rasulullah, karena ada interaksi langsung dengan mereka. Lebih mudah mengidolakan tokoh yang berada di sekeliling kita daripada mengidolakan tokoh sejarah seperti Rasulullah saw. Kita bisa bersentuhan langsung dengan kiprah dan kepribadian orang-orang yang berada di sekeliling kita. Mereka lebih mudah mengisi ruang pikiran dalam hidup kita daripada tokoh sejarah.

Sulitnya menghadirkan tokoh sejarah di detak dada, diakui oleh Rasulullah sendiri. Beliau memberikan posisi istimewa untuk orang-orang yang mempercayai beliau padahal mereka tidak pernah melihat beliau. "Mereka saudara-saudaraku," sabda beliau dalam sebuah hadits. Untuk para shahabat di sekelilingnya, Rasulullah tidak menyebut mereka "saudara", tapi "teman".

Keyakinan terhadap tokoh sejarah menjadi salah satu bagian paling inti dari agama. Dalam al-Durr al-Mantsur, al-Suyuthi menyebutnya sebagai keimanan terhadap al-ghayb dalam arti tidak hadir dalam realitas hidup. Kepercayaan terhadap al-ghayb ini merupakan point pokok dari religiusitas seseorang.

Makna Maulid Nabi yang dalam dunia kita terus diperingati setiap tanggal kelahiran beliau bukan lagi sebuah kesemarakan seremonial, tapi sebuah momen spiritual untuk mentahbiskan beliau sebagai figur tunggal yang mengisi pikiran, hati dan pandangan hidup kita.

Dalam maulid kita tidak sedang membikin sebuah upacara, tapi perenungan dan pengisian batin agar tokoh sejarah tidak menjadi fiktif dalam diri kita, tapi betul-betul secara kongkrit tertanam, mengakar, menggerakkan detak-detak jantung dan aliran darah ini.

Maka seperti al-Ayyubi yang menghadirkan Nabi Muhammad di medan perang kita mesti menghadirkan beliau dalam ruang hidup yang lain. Tidak hanya dalam bentuk cerita-cerita yang mengagumkan, tapi juga semangat keteladanan dalam menjalani realitas hidup ini.


Denaihati

Istana Yang Paling Indah

Sahabat seangkatan saya tentunya masih ingat serial Little House on the Prairie?. Film yang dibintangi sekaligus disutradarai oleh Michael Landon ini ngetop banget di tahun 70-an - 80-an. Saya suka banget film ini. Film keluarga yang setidaknya memberikan kesejukan justru di tengah maraknya film Hollywood yang bertabur kekerasan waktu itu. Meski setting ceritanya nggak islami, tapi dari segi nilai memang mengajarkan hal-hal yang baik bagi sebuah keluarga. Keharmonisan, perjuangan, pengorbanan, kesetiaan, perhatian, dan kepedulian ditanamkan dalam keluarga yang punya rumah kecil di padang rumput yang luas itu.

Tahun 90-an, sinetron Keluarga Cemara yang pernah tayang di dua stasiun TV swasta juga lumayan bagus. Keluarga Cemara mengajarkan nilai kebaikan, bahkan menggambarkan realitas umum masyarakat kita. Bagi sebuah keluarga, apalagi dengan kondisi kehidupan yang amburadul, bisa membantu untuk mengajarkan nilai moral. Terutama dikalangan anak-anak kita yang seakan tergerus oleh kemajuan teknologi.

Dari sekian banyak film, yang juga sangat boleh jadi terinspirasi dari kehidupan nyata, setidaknya ingin memberikan suasana sejuk di tengah keluarga pemirsanya, meski selalu saja ada bias yang membuat kita sebagai penonton kesulitan untuk mewujudkan pesan yang ditawarkan itu.

Tapi kita yakin kok, bahwa banyak orang berharap tercipta suasana yang akrab di tengah keluarga. Jalinan komunikasi di antara mereka terus dikembangkan. Seluruh anggota keluarga pasti mendambakan kondisi yang harmonis. Tul nggak? Misalnya aja hubungan antara ortu dengan anak-anaknya, juga hubungan antara ayah dengan ibu kita sebagai ortu yang bisa mengarahkan dan membimbing kita. Pendek kata, semua orang menginginkan saat-saat indah bersama keluarga.

Kita semua mendambakan keluarga yang baik-baik. Ayah bertanggung jawab, ibu perhatian, kakak penyayang, adik juga penurut. Nenek dan kakek menikmati masa tuanya dengan melihat perkembangan pribadi anak dan cucunya dengan baik. Keluarga penuh ceria, saling mengingatkan, mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan penuh ketaatan. Duh, indah banget deh. Pantes aja kalo Rasulullah mengilustrasikan kehidupan keluarga beliau yang penuh dengan keharmonisan, kebahagiaan, ketenangan, sakinah, mawaddah, dan rahmah dengan ungkapan Baitiy jannatiy alias rumahku, surgaku.

Bersama keluargalah kita lebih banyak berinteraksi, bersama keluarga pula kita lebih banyak punya waktu untuk belajar tentang makna hidup. Kayaknya masih pada inget deh penggalan OST-nya Keluarga Cemara. Yup, “Keluarga adalah harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, dan mutiara tiada tara.”

Allah Swt. berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS an-Nisâ’ [4]: 9).

Kita semua berharap punya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Kalo ada konflik, kita selesaikan baik-baik. Jangan hawa nafsu yang jadi panglima, tapi keikhlasan kita yang dikedepankan. Konflik bukan berarti bencana, tapi kerikil kecil yang bisa mendewasakan kita semua. Tapi yang pasti, taburkan ajaran Islam di dalam keluarga kita, insya Allah berkah. Yuk, kita bangun istana paling indah dalam hidup ini. Syukur-syukur bisa dengan lega menyebut: rumahku, surgaku. ?



Denaihati
Pramudya Ksatria Budiman Pencerahan , Renungan , Sinetron