Bukan Pakar SEO Ganteng

Showing posts with label Legenda Persija. Show all posts
Showing posts with label Legenda Persija. Show all posts

Mengenang Prestasi dan Jasa Surya Lesmana

ForzaPersija Berikut ini merupakan video mengenang prestasti dan jasa salah satu Legenda Persija Jakarta, Surya Lesmana (pemain Persija era 1962-1975) seperti yang dikutip dari Galeri Sepakbola Indonesia Trans 7 pada hari Minggu, 12 Agustus 2012 serta profilnya seperti yang dikutip dari Koran Tempo terbitan 15 Oktober 2006.

Setelah meninggalkan tim nasional pada 1973,  Surya Lesmana (Liem Soei Liang) mencatatkan diri sebagai salah satu pelopor pemain Indonesia yang merumput di luar negeri. Ia dikontrak klub Mac Kinan Hong Kong selama satu musim pada 1974 dengan gaji HK$ 2.000 per bulan, jumlah yang cukup besar saat itu. "Dulu saya gampang dapetin cewek," kata Surya dengan bangga.

Gelandang tim nasional itu telah pergi. Surya Lesmana -- lahir dengan nama Liem Soei Liang –  Rabu, 8 Agustus 2012, pagi  meninggal dunia dan jenazahnya langsung dikremasi di daerah Dadap, Tangerang, Banten.

Sebelum pergi, Surya adalah sosok lelaki gagah. Di usia ke-68, ia masih tampak gagah berbalut kaus sepak bola dan celana training. Rambut peraknya sudah mulai menipis. Sejumlah gigi seri atas dan bawah yang sudah tanggal seolah menggambarkan semua miliknya yang sudah hilang: harta, takhta, dan wanita.

Surya Lesmana, mantan gelandang tim nasional, hidup sebatang kara. Tak ada istri ataupun anak yang menemaninya. Ia bahkan harus tinggal menumpang di rumah orang di Gang Kancil, Glodok, Jakarta Barat.

Dulu ia menyewa kamar berukuran 3 x 3 meter persegi seharga Rp 180 ribu per bulan pada 2000-2002. Sempat berpindah-pindah kos, ia kemudian kembali lagi ke sana.

Karena jasanya mendidik anak bapak kos dan anak-anak di lingkungan itu mengolah kulit bundar, ia ditawari tinggal secara cuma-cuma. "Tapi saya makan sendiri di luar," kata Surya saat ditemui Tempo di lapangan sepak bola Union Makes Strength (UMS), kawasan Petak Sin Kian, Jakarta Barat, Rabu lalu.

Anak keempat dari enam bersaudara ini juga tidak punya pekerjaan lain. Tiap hari Surya ke luar rumah sejak pukul delapan pagi dan pulang jam delapan malam. Ia menghabiskan waktunya mengawasi latihan anak-anak sekolah sepak bola dengan imbalan ala kadarnya.

Rutinitas lain yang dilakoni lelaki keturunan Tionghoa ini adalah mengunjungi teman-teman lama seangkatannya. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol dan bercerita mengenang masa lalu.

Namun, sungguh mengenaskan. Dengan alasan berolahraga, ia berjalan kaki hingga belasan kilometer atau bahkan dua jam untuk sampai ke sana. "Saya sering jalan sampai ke Komdak, Slipi, atau Cempaka Putih. Tapi, kalau udah siang, saya naik bus," ujar Surya sambil menatap ke depan dengan pandangan kosong.

Siapa tak kenal Surya ketika masa jayanya pada 1960-an. Ia dikenal sebagai gelandang jempolan yang memiliki kemampuan menyerang ataupun bertahan sama baiknya.

Ia mengawali kariernya di klub UMS pada 1958. Karena kemampuan individunya yang bagus, ia bergabung dengan Persija Jakarta selama 1962-1975. Ia juga sempat memperkuat tim nasional dari 1963 sampai 1972.

Namanya kian tersohor seiring dengan kariernya yang mulus. Pria kelahiran Balaraja, Serang, ini menjadi pujaan banyak orang. Uang, pekerjaan, dan perempuan dengan mudah menghampiri dirinya.

Setelah meninggalkan tim nasional pada 1973, ia mencatatkan diri sebagai salah satu pelopor pemain Indonesia yang merumput di luar negeri. Ia dikontrak klub Mac Kinan Hong Kong selama satu musim pada 1974 dengan gaji HK$ 2.000 per bulan, jumlah yang cukup besar saat itu. "Dulu saya gampang dapetin cewek," kata Surya dengan bangga.

Sudah menjadi kodrat bahwa manusia adalah pelupa. Surya pun menjadi lupa diri dengan segala popularitas yang diraihnya. Ia tenggelam bersama kesenangan dunia. Ia tidak menikah, apalagi punya anak. Ia juga tidak memiliki rumah ataupun kendaraan. "Kadang-kadang manusia lupa sewaktu berjaya. Kalau punya keluarga mungkin saya bertanggung jawab," ujarnya.

Tapi Surya tak mau menyesali keadaannya saat ini. "Kita harus terima keadaan ini dengan lapang dada dan besar hati," ujarnya.

Lelaki yang berulang tahun setiap 20 Mei ini masih tetap menggeluti sepak bola, dunia yang pernah melambungkan sekaligus menenggelamkan nasibnya. Ia masih bermain bola bersama para manusia lanjut usia setiap Rabu dan Ahad di lapangan UMS, tempatnya pertama kali mengasah keterampilannya sebagai pesepak bola.

Meski harus menghadapi getirnya hidup di usia senja, ia masih berharap pemerintah mau memperhatikan nasibnya. Harapan ini sempat muncul ketika Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengunjunginya dua kali pada Januari dan September tahun ini. Ia memperoleh bantuan uang tunai, yang tak mau disebutkan jumlahnya. "Saya juga minta diberikan rumah yang layak," kata Surya.

 Bermain di Hong Kong

Tak sia-sia Surya Lesmana menggeluti sepak bola. Bakat yang mengalir dari ayahnya itu membuat ia menjadi salah satu andalan tim nasional pada 1960-an.

Pengagum pemain Jerman, Franz Beckenbauer, ini termasuk beruntung dapat meraih sejumlah prestasi di tingkat internasional. Ia pernah mengantarkan tim nasional menjuarai Aga Khan Gold Cup di Bangladesh (1966), Merdeka Games di Malaysia (1968), Kings Cup di Thailand (1969), dan Lion Cup di Singapura (1970).

Selain kenangan manis, ia dan rekan-rekan juga pernah merasakan pengalaman pahit di negeri orang. Ketika melakukan pertandingan persahabatan dengan Kamboja di Pnom Penh, kedua kesebelasan sempat baku hantam. Ia nyaris dipukuli para pemain Kamboja dalam keributan itu. Akhirnya Raja Kamboja minta maaf atas kejadian itu.

Meski pensiun dari tim nasional pada 1973, namanya tak lantas hilang dari dunia sepak bola Tanah Air. Kepiawaiannya mengolah kulit bundar juga membuat klub-klub asing meliriknya.

Salah satunya adalah Mac Kinan dari Hong Kong. Surya sempat mengecap atmosfer sepak bola di bekas jajahan Inggris itu selama satu musim pada 1974 dengan gaji HK$ 2.000 per bulan.

Widodo Cahyo Putra, Punggawa Peraih Emas 1991



ForzaPersija Jalan Tuhan selalu ada dimana-mana. Begitu pun dengan jalan Tuhan yang diberikan kepada Widodo Cahyo Putra, mantan bintang Timnas Merah-Putih dan Persija. Berikut ini merupakan profil Widodo Cahyo Putra seperti yang dikutip dari Tabloid Bola edisi 2.290 Sabtu-Minggu, 24-25 Desember 2011 halaman 27.




Begitu unik ketika mendengar cerita Widodo mendulang sukses di kancah sepak bola nasional. Siapa mengira bahwa cederanya Warta Kusuma, seorang pemain timnas yang kala itu membela klub Galatama Warna Agung, justru menjadi pembuka karier bagi Widodo.

Pada 1988, Warta yang mengalami cidera diberi rekomendasi oleh Pelatih Warna Agung, Endang Witarsa untuk menjalani terapi di Tasikmalaya, Jabar. Kebetulan saat itu disana terdapat terapis yang cukup populer di kalangan pelatih dan pemain Jabar. Di Tasik, Warta dititipkan kepada Oteng, seorang pengusaha yang masih punya hubungan dengan Endang.

Oteng yang merupakan warga keturunan Tionghoa itu ternyata juga pecandu sepak bola. Bahkan Oteng mmepunyai dua klub yang sedang mengikuti turnamen di kota itu. Satu klub milik Oteng telah tersingkir, sementara satu klub lagi masih berpeluang menembus babak final. Klub yang masih berpeluang inilah yang bermaterikan Widodo.

Kesempatan emas pun datang, dalam sebuah partai final turnamen antar kampung itu, Oteng, Warta dan Endang hadir.

"Saat itu saya bermain dengan tiga kakak kandung saya, yakni Immanuel Dwi Prio sebagai striker, Yoga Budi Pramono sebagai gelandang sayap, Karyono sebagai gelandang, serta saya sendiri bermain sebagai striker. Kami menang di final. Rasanya momen itu tak akan terlupakan, sebab saya bermain bersama tiga saudara kandung saya. Rasanya seperti sebuah kemenangan keluarga." kata Widodo sambi tersenyum.

Dewi fortuna ternyata tak hanya sampai disitu mengikuti Widodo. Endang juga begitu tertarik dengan penampilan Widodo.

Sebuah skill individu alami yang dimiliki Widodo membuang Endang mempunyai niat untuk memboyongnya ke klub Warna Agung yang bermarkas di Jakarta. Namun tawaran itu tidak lantas diterima Widodo. Sebuah pemikiran matang membuat Widodo tidak begitu saja tergiur dengan gemerlapnya klub besar di Jakarta.

"Saat itu bagi pemain kampung seperti saya tentu saja mempunyai mimpi besar bermain di klub sebesar Warna Agung yang bermarkas di Jakarta. Tapi saya berpikir, bahwa menyelesaikan sekolah dahulu itu lebih bijaksana. Apalagi saat itu saya sudah duduk di kelas tiga SMA. Tanggung rasanya jika harus ditinggalkan." ucap Widodo.

Pertengahan 1989, ketika Widodo telah resmi menamatkan sekolahnya, Widodo pun resmi memenuhi janjinya datang untuk bermain di Warna Agung.

Namun Widodo sadar, bahwa dari ibu kota ini semua kesempatan dan mimpinya sebagai pemain nasional bisa diraihnya. Proses dilalui dengan sabar dan telaten. Tidak mudah puas menjadi salah satu faktor yang membuat Widodo berkembang. Selain menyerap ilmu dari pelatih, Widodo juga belajar dari pemain-pemain lain yang lebih senior. Bahkan Widodo bekerja keras dengan menambah porsi latihan sendiri.

Usaha positif akan selalu membawa manfaat. Sebuah momen yang begitu penting dia dapatkan. Setahun bermain di level kompetisi profesional, nama Widodo langsung tercatat di sebagai salah satu pemain timnas junior yang ketika itu disiapkan mengikuti ajang Pra-Olimpiade.

Bahkan setahun kemudian pemain asal Majenang, Cilacap, Jateng itu sukses menembus skuad timnas senior dan mempersembahkan medali emas bagi Merah-Putih di ajang SEA Games 1991.

"Saya juga mencetak tiga gol di event ini dan kami mendapatkan emas. Inilah momen terpenting saya sebagai pemain timnas." kenang suami Adna Rohanny ini.

Widodo lantas hijrah ke klub Petrokimia Gresik yang kala itu ditangani oleh pelatih kawakan Andi Teguh. Disnilah Widodo semakin mendapatkan tempat di hati pecinta sepak bola nasional, khususnya masyrakat Gresik.

Polesan yang diberikan Andi semakin menyempurnakan kemampuan Widodo, terlebih ketika dipadukan pemain asal Brazil Jacksen Tiago serta Carlos De Melo. "Widodo adalah talenta terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan saya beruntung pernah bermain bersamanya." komentar Jacksen yang kini fokus melatih Persipura.

Gresik memang punya tempat tersendiri bagi Widodo. Baginya Gresik tak hanya kota yang telah membesarkan karirnya sebagai pemain. Namun dari Gresik, Widodo juga memulai peruntungannya sebagai pelatih. Seusai pensiun bermain, Widodo lantas menjajal berkarier sebagai pelatih.

Mendirikan Akademi Sepak Bola

Totalitas Widodo si sepak bola ternyata tak hanya terhenti ketika dirinya memutuskan gantung sepatu. Namun, sebuah mimpi besar sedang dibidikannya seusai pensiun sebagai pemain. Ya, Widodo ingin sekali menularkan ilmu yang telah didapatkannya kepada banyak pemain muda.

Jika kebanyakan para mantan pemain memilih berbisnis, Widodo memilih mendirikan Akademi Sepak Bola Wahan Cipta Pesepakbola (WCP) yang berkantor di Jl. Jawa 18 Komplek GKB Gresik.

Pilih membaktikan diri untuk sepak bola Indonesia

"Mulanya saya memang punya beberapa rencana untuk mencoba usaha yang murni berorientasi bisnis. Tapi setelah saya pertimbangkan dan berkonsultasi dengan istri, akhirnya saya mantap mendirikan akademi. Kebetulan ada beberapa teman seperti Sulkan, Sashi Kirono serta Nugroho juga mempunyai pandangan sama serta mendukung penuh rencana ini." ucap pria pengagum Juergen Klinsmann ini.

Widodo memang sadar bahwa usahanya membuat akademi masih jauh dari harapan jika dilihat dari sudut pandang bisnis. Namun hati kecil pemain yang terkenal dengan gol saltonya ke gawang Kuwait di Piala Asia 1996 itu tetap optimis dengan pilihannya.

Gol Spektakuler Widodo Cahyo Putra
"Saya tahu ini akan sulit mendapatkan untung secara hitungan bisnis. Tapi saya tidak bisa mengingkari hati nurani. Ada kepuasan tersendiri ketika saya berada di tengah pemain muda." jelasnya.

Apalagi sekarang banyak orang tua yang ingin memasukan anaknya ke akademi sepak bola. Plus, ilmu sepak bola yang semakin berkembang harus disalurkan.

Belum setahun memang akademi WCP ini berdiri namun sebuah pencapaian yang menggembirakan telah diraihnya. Setidaknya empat pemain pilar kesebelasan SMPN 3 Gresik yang tahun ini menjuarai Liga Pendidikan Indonesia adalah hasil binaan akademi WCP. Termasuk striker Dimas Malik yang punya kans besar sebagai pemain muda Indonesia yang dikirim berlatih di Spanyol.

Sorot Skill Individu

Widodo punya pengamatan tersendiri mengenai perkembangan sepak bola nasional. Ia membandingkan antara generasi sebelumnya dengan generasi sekarang. Menurutnya, perbedaan terlihat dari sudut pandang skiill individu pemain.

Menurutnya, generasi dulu adalah generasi pemuja teknik individu. Tak heran jika di masa tersebut prestasi timnas Merah-Putih cukup moncer.

Analisis Widodo bisa jadi benar, sebab menurut pengakuan, M. Basri, mantan pemain nasional yang kini melatih Persiba Bantul, pernah mengatakan bahwa jika timnas Merah-Putih bertandang ke Tokyo melawan Timnas Jepang, itu ibarat berwisata, sebab Merah-Putih pasti menang.

Mempertanyakan keahlian pemain generasi saat ini.
Kondisi telah terbalik. Jangankan untuk mengalahkan Timnas Jepang, merebut kampiun di Asia Tenggara saja timnas kesulitan. Menurut Widodo, hal ini disebabkan mulai merosotanya kualitas skill individu pemain. Padahal skill individu pemain adalah modal utama untuk menciptkan team work yang bagus dalam sebuah tim.

"Bagaimana permainan tim bisa bagus jika skill individu pemainnya tidak bagus? Akibatnya banyak terjadi kesalahan dalam permainan. Kita lihat Barca bisa menerapkan permainan dengan baik juga dengan dukungan skill individu yang mumpuni, setelah itu disempurnakan dengan fisik dan mentalnya." jelasnya.

Akan tetapi, penilaian Widodo tersebut bukanlah sebuah pesimistis. Dirinya menilai generasi mendatang justru bisa menjadi generasi emas dan mungkin akan bisa mencapai lebih jauh dari pendahulunya. Dukungan teknologi di era terkini memungkinkan pemain untuk mengembangkan skill individu.

"Sekarang begitu mudah kita mendapatkan informasi dari televisi maupun internet. Tak hanya yang  berbentuk turtotial dasar-dasar sepak bola, namun kita juga bisa dengan mudah melihat suara televisi maupun cuplikan-cuplikan video berkualitas di Youtube yang bisa dijadikan inspirasi bagi pemain untuk mengembangkan keterampilan mereka." ungkapnya.


Pramudya Ksatria Budiman Legenda Persija , Widodo Cahyo Putra

Risdianto, Striker yang Pernah Jajal MU


Risdianto menjadi striker PSSI Tamtama saat berhadapan dengan Manchester United 1975 lalu.


Risdianto menjadi striker PSSI Tamtama saat berhadapan dengan Manchester United 1975 lalu. Sayang, mantan pemain Persija Jakarta itu tidak bisa tampil optimal karena cedera.

Risdianto merupakan salah seorang legenda hidup sepakbola Indonesia. Pria kelahiran Pasuruan, Jawa Timur, 1950 itu merupakan bomber subur di masanya.

Kecepatan dan akurasi tembakan yang dimiliki Risdianto menjadi senjatanya dalam membobol gawang lawan. Sayang, Risdianto tak menunjukkan performa terbaiknya saat berhadapan dengan MU, 1975 lalu.

Sekitar 70 ribu penonton yang hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) tak bisa dibuatnya berdiri dan bersorak.

"Saya masih dalam kondisi cedera engkel saat itu. Jadi tidak bisa tampil maksimal," kata Risdianto saat dihubungi VIVAnews, Kamis, 16 Juli 2009.

Bagi Risdianto, MU tidak sebesar sekarang ini. Tommy Docherty cs masih berada di Divisi II Liga Inggris. Selain itu, MU juga hadir tanpa tiga pilar andalannya, yakni Lou Macari, Martin Buchan, dan Laez Fortsyth.

"Inggris bukanlah kiblat sepakbola saat itu. MU juga belum sehebat sekarang. Dulu klub-klub yang kuat itu ada di Brasil dan Belanda," kata Risdianto.

Tiga tahun sebelum bertemu MU, Risdianto sempat membuat penonton di SUGBK bersorak. Saat itu PSSI berhadapan dengan tim asal Brasil, Santos. Tim ini dihuni bintang legenda hidup sepakbola dunia Pele.

Meski PSSI akhirnya kalah dengan skor 2-3, Risdianto pada pertandingan ini mampu mengungguli produktifitas Pele. Risdianto berhasil mencetak dua gol sedangkan Pele hanya satu gol, itupun lewat titik putih penalti.

"Saya juga tidak menduga bisa mencetak gol saat lawan Santos. Saat itu saya hanya berusaha untuk bermain fokus dan percaya diri," kata Risdianto.

"Sepakbola selalu menjadi misteri hingga pluit panjang dibunyikan. Karena itu, meski di atas kertas kita tidak diunggulkan, namun apapun masih bisa terjadi," tambahnya.

Pesan ini jugalah yang ingin disampaikan Risdianto kepada bomber-bomber tim Indonesia All Star saat berhadapan dengan MU di SUGBK, 20 Juli mendatang. Meski tidak diunggulkan, Indonesia All Star harus tetap percaya diri.

"Kalau sudah tidak percaya diri sudah susah untuk cetak gol. Kita punya striker dengan karakter yang berbeda-beda. Mereka harus tetap mempertahankannya dan tetap yakin bisa cetak gol," kata Risdianto.

Ketua Umum PSSI Nurdin Halid memprediksi Indonesia All Star akan kalah menghadapi MU. Prediksi skornya pun lumayan telak, 1-4.


Risdianto, pemain Persija juara 1973 dan 1975


Biodata
Nama     : Risdianto
Lahir    : Pasuruan, 3 Januari 1950
Karir
Pemain
- Persekap Pasuruan (1964-1969)
- Pardedetex Medan (1969-1970)
- UMS (1971)
- Persija Jakarta (1971-1973)
- PON DKI Jakarta (1973)
- Mackinnons FC Hongkong (1974-1975)
- Persija Jakarta (1975-1977)
- PON DKI Jakarta (1977)
- Warna Agung (1978-1983)
- Tim Nasional (1970-1981)

Pelatih
- Menteng FC, klub internal Persija (1984-1987)
- Warna Agung (1988)
- Lampung Putra (1989-1990)
- Persegres Gresik (1991-1992)
- Petrokimia Gresik (1993-1994)
- Persija Jakarta (1996)
- Persikad Depok (2005)
- Persipur Purwodadi (2006)
- Tim Monitoring Badan Tim Nasional (2007-...)

Prestasi
-Turut mengantarkan Persekap Pasuruan promosi ke Divisi Utama (1964)
-Juara Galatama bersama Warna Agung (1979/1980)
-Juara Perserikatan bersama Persija Jakarta (1971/1973)
-Juara Anniversary Cup bersama timnas Indonesia (1972)
-Mencetak dua gol ke gawang Santos Brazil saat timnas
 Indonesia bertemu Santos (1972)
-Juara PON VIII bersama DKI Jakarta (1973)
-Juara PON IX bersama DKI Jakarta (1977)
-Perak SEA Games (1979)
-Perunggu SEA Games (1981)

Sumber: Vivanews
Pramudya Ksatria Budiman Legenda Persija , Risdianto

Hadi Mulyadi (Fam Tek Fong)


Fan Tek Fong alias Hadi Mulyadi alias Mulyadi (lahir di Serang, 19 September 1943 – meninggal 30 Januari 2011 pada umur 67 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia di era tahun 1960an. Pada masanya, Ia dikenal sebagai pemain belakang yang andal. Ia pernah memperkuat tim nasional PSSI, UMS, Persija, Pardedetex, dan Warna Agung.


Tek Fong, demikian ia biasa dipanggil, mulai mengenal sepak bola saat berusia 10 tahun. Ketika itu, ia hampir setiap hari datang ke Petak Sinkian untuk melihat Thio Him Tjiang, Djamiaat Dhalhar, Kwee Kiat Sek, Chris Ong, dan Van der Vin berlatih di bawah pimpinan pelatih Drg. Endang Witarsa (Liem Sun Yu). Pada tahun 1960 Tek Fong diterima masuk Union Makes Strength (UMS) setelah Dokter Endang melihat ada kelebihan di kakinya. Hampir bersamaan dengannya, masuk pula Surya Lesmana, Reni Salaki, Kwee Tik Liong, dan Yudo Hadianto.

Tek Fong adalah satu dari sekian banyak murid terbaik Endang Witarsa. Endang tak hanya menjadikannya sebagai libero andal di masanya, tapi juga mengajarkan bagaimana menjalani hidup di luar lapangan. Ketika Endang dipercaya menjadi pelatih Persija Jakarta pada tahun 1963, Ia juga membawa Tek Fong untuk bergabung. Tek Fong bersama dengan Soetjipto Suntoro, Taher Yusuf, dan Domingus Wawayae berhasil membawa Persija menjadi juara Perserikatan 1963. Tek Fong kemudian pindah ke klub Pardedetex Medan pada tahun 1969.

Saat Dokter Endang dipercaya sebagai pelatih tim nasional, Ia juga meminta Tek Fong untuk bergabung. Pretasinya di tim nasional semakin cemerlang. Tek Fong bersama dengan Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, Risdianto, Surya Lesmana, Yakob Sihasale, Reni Salaki, Yuswardi, serta Anwar Udjang berhasil membawa berbagai gelar juara ke Indonesia.

Tek Fong kemudian memperkuat Klub Warna Agung pada tahun 1972. Benny Mulyono, pemilik klub, memintanya untuk menarik sejumlah pemain nasional memperkuat klub pabrik cat yang bermarkas di Jalan Pangeran Jayakarta. Di bawah pelatih drg. Endang Witarsa, Tek Fong bersama dengan Risdianto, Rully Nere, M. Basri, Yakob Sihasale, Timo Kapissa, dan Robby Binur mengantar klub Warna Agung ke puncak kejayaan.

Tek Fong memang tak tergeserkan selama delapan tahun di tim nasional. Ia tidak hanya membawa Persija Jakarta menjadi juara Perserikatan pada tahun 1963 tetapi juga ikut mempersembahkan empat gelar juara bagi tim nasional Indonesia, yaitu; King's Cup 1968, Merdeka Games 1969, Anniversary Cup 1972, dan Pesta Sukan 1972.


Tek Fong menganggap drg Endang Witarsa sebagai guru besarnya. Dokter Endang adalah pelatih ketika Tek Fong memperkuat UMS, Persija Jakarta, Warna Agung, dan tim nasional PSSI. Baginya, dokter Endang adalah sumber inspirasi karena hidupnya benar-benar dibaktikan pada sepak bola.

Tek Fong tidak jauh dari Dokter Endang ketika sang legenda tersebut menjalani perawatan hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. Ia menangis ketika ikut merasakan apa yang dirasakan Dokter. Ketika Dokter Endang sedang menahan kesakitan, Ia masih sempat-sempatnya menanyakan kondisi lapangan Petak Sinkian.

Tek Fong masih teringat ajaran-ajaran yang diberikan Dokter Endang. Dokter Endang selalu mengingatkan agar Tek Fong bersikap jujur, tidak berbohong, dan memelihara pertemanan dengan baik. Ia baru menyadari pertemanan yang dimaksud ketika Dokter memindahkannya dari Persija ke Pardedetex Medan pada 1969. Ternyata Dokter sudah berteman dengan T.D. Pardede ketika pengusaha Medan itu mendirikan klub Pardedetex.


Setelah 12 tahun menjadi pemain sepak bola, Tek Fong kini menjadi salah satu pelatih Sekolah Sepak Bola Union Makes Strength (UMS), klub sepak bola yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. "Saya ingin menghabiskan masa tua di sini," katanya. Ia adalah sedikit dari banyak pemain nasional etnis Tionghoa yang masih tersisa.

Sebagian mimpi lelaki dengan dua anak ini kini terwujud. Tek Fong sangat bangga ketika memperkenalkan Robo Solissa, yang bermain untuk klub UMS, anggota Divisi Utama Persija Jakarta. Nyong Ambon itu adalah hasil didikannya selama tiga tahun di Sekolah Sepak Bola UMS di Petak Sinkian.

Tek Fong tidak terlalu peduli walau dia tak mendapatkan apa-apa kecuali kebanggaan saat membesarkan meteor bola baru. "Jangan tanya saya punya apa dari sepak bola," katanya. Kebanggaan baginya tak bisa dikalahkan dengan apa pun, bahkan dengan uang. Lelaki yang hampir setiap hari berada di lapangan Petak Sinkian itu memang tak punya apa-apa. Hidupnya jauh dari mentereng. Lelaki itu cukup puas hidup dengan kebanggaan.

Beristirahatlah Dalam Damai, Fan Tek Fong!



Sepakbola Indonesia kembali kehilangan salah seorang bintang masa lalunya. Fan Tek Fong, yang kemudian dikenal dengan nama Hadi Mulyadi, 67 tahun, telah berpulang pada Minggu (30/1) malam karena serangan jantung. Almarhum adalah salah seorang pemain besar pada zamannya, sebagaimana teman-teman seangkatannya yang telah mendahuluinya pergi, seperti Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, dan Yakob Sihasale.

Fan Tek Fong, lahir di Serang, Banten, 19 September 1943, adalah salah satu bintang timnas Indonesia era 1960-an dan 1970-an. Belajar sepakbola secara serius sejak usia 10 tahun di bawah bimbingan pelatih nasional legendaris (alm) Endang Witarsa, Tek Fong memulai karir fenomenalnya di klub UMS Petak Sinkian, sebelum kemudian bergabung dengan Persija Jakarta. Ia kemudian sempat bermain untuk Pardedex, Medan, walau kemudian kembali ke Jakarta memperkuat klub Warna Agung.

Minggu malam itu, sekitar pukul tujuh, Tek Fong tengah bersenda-gurau bersama sejumlah kerabat dan sahabarnya setelah sama-sama bersantap di sebuah kedai di bilangan Petak Sinkian, Jakarta Barat. Ia, menurut penuturan salah seorang kerabatnya, sempat tertawa terpingkal-pingkal menanggapi celoteh yang berkembang. Namun, derai tawanya tak sampai habis. "Kami kaget karena tiba-tiba saja tawanya terhenti," kata kerabatnya.

Tek Fong, ayah dari dua orang anak dan tiga cucu, kemudian sempat dilarikan ke RS Husada di kawasan Mangga Besar. Akan tetapi, Tuhan sudah memanggilnya sebelum sempat menjalani perawatan.

Saat ini, jenazah Fan Tek Fong masih disemayamkan di Ruang C RS Husada itu. Pihak keluarganya memastikan, almarhum akan dikremasi pada Rabu (2/2) sekitar pukul 10.00 wib. Tadi malam, ruang duka di RS Husada disesaki puluhan kerabat dan sahabat almarhum yang datang untuk memberikan penghormatan, termasuk pemain-pemain senior seangkatannya yang masih sehat, seperti Risdianto, Renny Salaki, Surya Lesmana.

"KIta kehilangan salah seorang bintang besar yang banyak berjasa pada persepakbolaan nasional," ungkap Sekjen PSSI Nugraha Besoes, yang terakhir bertemu almarhum saat berlangsungnya AFF Suzuki Cup bulan Desember lalu. "Dia pemain besar yang sangat bersahaja, tidak sombong, mudah diajak bicara oleh orang yang usianya jauh dibawah dia sekalipun," ujar Nugraha Besoes yang sudah mengenal Tek Fong sejak puluhan tahun silam.

Almarhum Tek Fong memang seorang bintang yang amat bersahaja. Jika tak sedang mendidik anak-anak remaja di lapangan Petak Sinkian, almarhum Tek Fong beberapa hari dalam seminggu bisa dijumpai di kantor sekretarist PSSI di kawasan Senayan. Almarhum betak berjam-jam berada di kantor PSSI, untuk bersenda-gurau dan berbagi cerita masa lalu dengan Idrus, karyawan paling senior di PSSI yang amat dikenalnya.

DELAPAN TAHUN DI TIMNAS

Tek Fong, demikian ia biasa dipanggil, mulai mengenal sepak bola saat berusia 10 tahun. Ketika itu, ia hampir setiap hari datang ke Petak Sinkian untuk melihat Thio Him Tjiang, Djamiaat Dhalhar, Kwee Kiat Sek, Chris Ong, dan Van der Vin berlatih di bawah pimpinan pelatih Drg. Endang Witarsa (Liem Sun Yu). Pada tahun 1960, Tek Fong diterima masuk Union Makes Strength (UMS) setelah DokterEndang melihat ada kelebihan di kakinya. Hampir bersamaan dengannya, masuk pula Surya Lesmana, Reni Salaki, Kwee Tik Liong, dan Yudo Hadianto.

Tek Fong adalah satu dari sekian banyak murid terbaik Endang Witarsa. Almarhum Endang Witarsa tak hanya menjadikannya sebagai libero andal di masanya, tapi juga mengajarkan bagaimana menjalani hidup di luar lapangan. Ketika Endang Witarsa dipercaya menjadi pelatih Persija Jakarta pada tahun 1963, Ia juga membawa Tek Fong untuk bergabung. Tek Fong bersama dengan Soetjipto Suntoro, Taher Yusuf, dan Domingus Wawayae berhasil membawa Persija menjadi juara Perserikatan 1963.

Saat dokter Endang Witarsa dipercaya sebagai pelatih tim nasional, Ia juga meminta Tek Fong untuk bergabung. Pretasinya di tim nasional semakin cemerlang. Tek Fong bersama dengan Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, Yacob Sihasale, Risdianto, Surya Lesmana, Reni Salaki, Yuswardi, serta Anwar Udjang berhasil membawa berbagai gelar juara ke Indonesia.

Tek Fong kemudian memperkuat Klub Warna Agung pada tahun 1972. Benny Mulyono, pemilik klub, memintanya untuk menarik sejumlah pemain nasional memperkuat klub pabrik cat yang bermarkas di Jalan Pangeran Jayakarta. Di bawah pelatih drg. Endang Witarsa, Tek Fong bersama dengan Risdianto, Rully Nere, M. Basri, Yakob Sihasale, Timo Kapissa, dan Robby Binur mengantar klub Warna Agung ke puncak kejayaan.

Tek Fong memang tak tergeserkan selama delapan tahun di tim nasional. Ia tidak hanya membawa Persija Jakarta menjadi juara Perserikatan pada tahun 1963 tetapi juga ikut mempersembahkan empat gelar juara bagi tim nasional Indonesia, yaitu; King's Cup 1968, Merdeka Games 1969, Anniversary Cup 1972, dan Pesta Sukan 1972.

Tek Fong menganggap drg Endang Witarsa sebagai guru besarnya. Baginya, dokter Endang adalah sumber inspirasi karena hidupnya benar-benar dibaktikan pada sepak bola.Tek Fong tidak jauh dari dokter Endang ketika sang legenda tersebut menjalani perawatan hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. Ia menangis ketika ikut merasakan apa yang dirasakan dokter. Ketika dokter Endang sedang menahan kesakitan, Ia masih sempat-sempatnya menanyakan kondisi lapangan Petak Sinkian. Selama masa hidupnmya Tek Fong berjuang keras untuk menjalani dengan baik apa yang telah diajarkan dokter Endang Witarsa kepadanya, yakni dengan senantiasa bersikap jujur, tidak boleh menyimpan rasa iri dan dengki pada orang lain, menjalani hidup apa adanya, dan memelihara pertemanan dengan baik.

Oleh karena itulah, Tek Fong tetap merasa nyaman di masa tuanya, tidak terlalu peduli walau dia tak mendapatkan apa-apa kecuali kebanggaan dari masa lalunya. Kebanggaan itulah yang membuat ia masih bisa merasa tenang dan selalu bisa bersikap easy going saja, walau kehidupan kesehariannya amat bersahaja.



Luciano Leandro


Pramudya Ksatria Budiman Legenda Persija , Luciano Leandro

Sinyo Aliandoe


Pramudya Ksatria Budiman Legenda Persija , Sinyo Aliandoe

Sofyan Hadi


Pramudya Ksatria Budiman Legenda Persija , Sofyan Hadi

Oyong Liza, Tak Silau dengan Kebesaran Setan Merah



Sama halnya dengan pesepakbola seangkatannya, Oyong Liza mengaku tidak memiliki banyak kenangan saat membela PSSI Tamtama menghadapi Manchester United pada 1975 lalu. Namun, Oyong yakin timnas senior saat ini punya peluang untuk mengimbangi Setan Merah.

Oyong Liza merupakan libero PSSI saat menahan imbang MU 0-0, 1975 lalu. Di mata Oyong, Setan Merah di masanya bukanlah tim yang menyilaukan. Kemampuan MU juga masih berada di bawah tim-tim asal Belanda dan Brasil.

"Kiblat sepakbola kita zaman dulu adalah Belanda dan Brasil. Sedangkan Inggris belum ada apa-apanya. Karena itu, saat berhadapan dengan MU waktu itu tidak lebih dari sekadar uji coba biasa," kata Oyong saat ditemui di Senayan, Senin 6 Juli 2009.

Sekilas, Oyong masih ingat bagaimana MU tampil. Gerry Dally cs menurut pria kelahiran Padang, 10 November 1946 ini masih memperagakan sepakbola khas Inggris, kick and rush.

"MU masih bermain dengan umpan-umpan panjang. Belum ada yang memiliki skill individu yang menonjol (seperti saat ini). Permainan mereka berbeda dengan MU yang sekarang," kata Oyong.

Indonesia All Star akan menjajal MU di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), 20 Juli 2009. Kunjungan ini merupakan rangkaian Tur Asia MU tahun ini.

Tantangan bagi timnas senior tentu saja berubah. Ponaryo Astaman cs akan berhadapan dengan raksasa Eropa yang punya sederet pemain kelas dunia.

Melihat kondisi ini, Oyong coba memotivasi pemain-pemain timnas yang akan berlaga nanti. "Saya pikir timnas masih punya peluang untuk mengimbangi MU. Asalkan mereka bermain disiplin dan percaya diri," kata Oyong.

Menurut mantan pemain Persija ini, kunci penampilan sebuah tim terletak di 15 menit pertama pertandingan. Bila pada masa itu tim mampu tampil nyaman, itu artinya tim sudah menemukan permainannya.

"MU punya pemain cepat, kita juga punya. Tinggal bagaimana membuat permainan nyaman saja. Kuncinya di 15 menit pertama. Kalau kita bisa mengimbangi MU di masa itu, timnas saya pikir mampu mengimbangi MU," tandas Oyong.


Oyong Liza ( 1969-1977 ), Kapten Persija juara 1973, 1975 dan 1979


Pramudya Ksatria Budiman Legenda Persija , Oyong Liza

Andi Lala




Andi Lala (lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 17 Juni 1950 – meninggal di Jakarta, 1 November 2004 pada umur 54 tahun) merupakan mantan pemain sepak bola berkebangsaan Indonesia. Dia pernah membela tim nasional pada berbagai kejuaraan, termasuk SEA GAMES 1977 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dia mengantarkan Persija menjuarai kompetisi PSSI (1972, 1975 ketika dengan PSMS dinobatkan sebagai juara bersama, dan 1977). Dia juga dipanggil Persija, saat tim ibu kota ini memenangi Piala Quoch Khan di Vietnam Selatan pada 1973. Berposisi sebagai sayap kiri.
Dia meninggal dunia pada 1 November 2004 akibat serangan jantung dan dimakamkan di TPU Al Kamal, Rawa Kopi, Kedoya, Jakarta Barat.

Indonesia kehilangan salah satu tokoh sepakbola dari era 1970-an. Mantan striker timnas Indonesia, Andi Lala, menghembuskan nafas terakhir karena sakit. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun detikcom, Andi meninggal Senin (1/11/2004) dinihari WIB di rumahnya yang terletak di kawasan Kedoya karena sakit jantung. Menurut rencana, jenazah akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Al Kamal, Kedoya, pukul 13.30 WIB. Turut mengantar hingga ke tempat peristirahatan terakhir adalah mantan rekan-rekan Andi di timnas Indonesia era 70-an. Mantan rekan Andi, Risdianto, mengungkapkan kalau ia adalah pribadi yang penuh semangat. Sebagai seorang pemain sepakbola, ia dikenal sebagai striker yang pandai dan punya reaksi cepat. "Andi Lala itu orang yang penuh semangat. Sebagai seorang striker, ia punya sprint yang cepat dan timing yang selalu pas. Saya beruntung pernah bergabung di timnas dengannya," ucap Risdianto, yang saat dihubungi detikcom tengah melayat di rumah duka, Jl. Rawa Kopi, Kedoya. Menurut rekan-rekannya, Andi memang sudah terlihat sakit sejak setahun ini. Namun demikian ia tak berhenti mengurusi sepakbola. "Dia orang yang terbuka, fair, bagus bergaul dan sederhana," ucap tokoh sepakbola Ronny Pattinasarani. "Beberapa minggu lalu saya masih bertemu dengannya di Senayan. Dia memang sudah kelihatan sakit. Namun hidupnya di sepakbola, jadi ia tak pernah berhenti mengurusi sepakbola," tambah komentator bola terkenal ini. Andi Lala merupakan mantan pemain timnas era 70-an dan pemain Persija Jakarta yang terkenal pada zamannya. Ia pernah menjadi bagian dari skuad emas "Macan Kemayoran" yang memenangkan tiga kali gelar juara Liga Indonesia (1972,1975, dan 1977) dan juara Piala Quoch Khan di Vietnam Selatan tahun 1973. Usai pensiun sebagai pemain, Andi tak kemudian berhenti berkarir di sepakbola. Ia kemudian beralih sebagai pelatih memoles beberapa klub diantaranya Persija, Persedikab Kediri dan Persikota Tangerang. Sewaktu masih melatih, Andi dikenal kritis terhadap pesepakbolaan Indonesia. Ia pernah beberapa kali dipanggil komisi disiplin PSSI karena menuding adanya praktek mafia wasit di Liga Indonesia.
Pramudya Ksatria Budiman Andi Lala , Legenda Persija

Andjas Asmara, Profile Sang Penakluk Uruguay




Sepintas kita pernah mengetahui bahwa di tahun 1974 Indonesia mampu menakluka Uruguay dengan skor 2-1. Salah satu pencetak gol pada saat itu adalah Andjas Asmara.

Tigapuluh empat tahun yang lalu, Andjas Asmara pernah pula memperkuat Indonesia menghadapi Manchester United. Kali ini, Andjas memberikan dukungan untuk junior-juniornya.

Tahun 1975, MU pernah berkunjung ke Jakarta untuk menghadapi timnas Indonesia. Andjas menjadi salah satu pemain Indonesia yang merumput kala itu untuk membawa 'Merah Putih' menahan 'Setan Merah' 0-0.

Andjas pun memberikan wejangan dan support moral kepada tim Indonesia All Star yang tanggal 20 Juli nanti akan jadi lawan MU di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta.

Andjas lebih lanjut juga meminta kepada Bambang Pamungkas dkk untuk tidak mencoba bermain cantik. Bermain efektif dan efisien menurutnya lebih logis untuk dilakukan menghadapi tim sekelas Uruguay.

"Jangan mencoba bermain cantik. Bermain simpel saja, oper, bergerak. Saya berharap Indonesia bisa mencuri 1-2 gol," ucap pria kelahiran Medan 59 tahun lalu itu.

"Saya harap mereka lebih sering bertanding melawan tim-tim kuat dari Negara lain agar mentalnya teruji. Itulah andalan kita sekarang," tuntas Andjas.

Inilah profile selengkapnya :
Andjas Asmara lahir di Medan, Sumatera Utara. Di tanah kelahirannya itu pula ia mulai meretas asa sebagai aktor lapangan hijau. Klub Yunior Medan Utara jadi tempat Andjas mendalami dan mematangkan teknik-teknik sepakbola. Ia bergabung dengan klub itu pada 1969.

Dua tahun kemudian, Andjas memutuskan untuk pindah ke klub Jayakarta dan selanjutnya Persija Jakarta. Di klub terakhir ini, Andjas menggapai prestasi puncak. Berposisi sebagai gelandang, Andjas berperan besar mengantarkan Persija jadi juara Perserikatan pada beberapa musim. Nama besar Persija dan Andjas jadi kian ditakuti musuh.

Mantapnya performa Andjas di kompetisi domestik membuat pintu timnas terbuka. Andjas dipercaya membela skuad Merah Putih pada beberapa ajang semisal Pra Olimpiade, Pra Piala Asia, dan Pra Piala Dunia.

Meski punya talenta mumpuni, tapi karir Andjas di lapangan hijau terbilang singkat. Penyebabnya tak lain hantu cedera yang terus membayangi Andjas. Ia pernah didera cedera lutut dan bahu. Mau tak mau, Andjas harus mengucapkan selamat berpisah dengan lapangan sepkbola.

Tak seperti pemain besar lain yang langsung banting stir menjadi asisten pelatih atau pelatih, usai gantung sepatu, Andjas justru memilih bidang lain yang benar-benar berbeda. Ia menekuni bisnis. Mulai dari telekomunikasi hingga penambangan batu bara pernah ditekuni Andjas.

Namun demikian, indahnya torehan karir di lapangan hijau tetap tak bisa dilupakan oleh Andjas. Bersama beberapa pemain legendaris lainnya seperti Ipong Silalahi dan Roni Paslah, pada pertengahan 2007 Andjas terlibat dalam sebuah acara reality show sepakbola yang diadakan oleh sebuah stasiun televisi swasta. Dalam acara itu, Andjas menjadi anggota tim pelatih yang memantau dan membentuk sebuah tim bermaterikan pemain-pemain muda dari berbagai daerah di Indonesia. (Daf)

DATA DIRI Tempat lahir: Medan Tanggal: 30 April 1950 Posisi: gelandang

KARIR di KLUB 1968: Klub Medan Utara 1970-1972: Jayakarta 1972-1979: Persija Jakarta

KARIR di TIMNAS 1972: Pra Piala Dunia 1974: Pra Piala Asia 1976: Pra Olimpiade 1977: Pra Piala Dunia 1978: Pra Piala Asia, Presiden Cup Seoul

PRESTASI 1973: Juara Perserikatan (Persija Jakarta) 1977: Juara Marah Halim (Persija Jakarta) 1974: Juara Piala Vietnam (Persija Jakarta) 1975: Juara Perserikatan (Persija Jakarta) 1978: Juara Perserikatan (Persija Jakarta) 1979: Juara Perserikatan (Persija Jakarta)



============================



Pramudya Ksatria Budiman Andjas Asmara , Legenda Persija

Van der Vin, Kiper Indonesia dan Persija era 1950an-1960an



Dalam kitab Peringatan Oentoek Hindia Beland (1923) yang ditulis JMW Demont disebutkan, di Hindia (Indonesia) sudah ada semacam permainan voetbal dengan bola yang dibuat dari rotan, buah jeruk, atau buah kelapa yang dikeringkan. Indonesia sebelum Perang Dunia II (1942-1945) sudah memiliki banyak pemain besar. Sebagai kontingen Hindia Belanda pada 1938, Indonesia menjadi peserta World Cup di Prancis. Pemain Belanda yang terkenal antara lain Denkelaar, Van der Poel, Van Leeuwant, dan bekas kiper Belanda, Backhuys. pemain pribumi yang terkenal adalah Mad Dongker, Abidin, Sumo, dan Tan Hwa Kiat (ayah pemain nasional Tan Liong Houw).

Orang-orang Belanda di Indonesia pada 1918 membentuk Nederlandsch Indie Voetbal Bond (NIVB) yang membawahi bond-bond yang pemainnya didominasi warga Belanda. Anggota-anggotanya dilarang bermain dengan perkumpulan-perkumpulan sepak bola inlander. Perkataan inlander yang merupakan penghinaan, sangat menyakitkan bangsa Indonesia. Maka pada 1928 berdiri Voetbalbond Indonesish Jakatra (VIJ). VIJ yang pada 1950 menjadi Persija, memiliki lapangan sepak bola di Petojo VIJ, belakang bioskop Roxy, Jakarta Pusat. Pahlawan Nasional M Husni Thamrin turun berperan dan banyak mengeluarkan uang untuk membangun lapangan ini. VIJ bersama dengan sejumlah perkumpulan lainnya pada April 1930 memsponsori berdirinya PSSI guna menyaingi NIVB.
Pada 1932 di lapangan VIJ diselenggarakan pertandingan antara PSSI – VIJ. Bung Karno yang baru dibebaskan dari penjara Sukamiskin, Bandung, diminta melakukan tendangan kehormatan. Setelah kemerdekaan, sejumlah kesebelasan Belanda masih ada. Tapi tidak lagi bersikap diskrimatif dan sudah mengikutsertakan pemain Indonesia. Seperti Hercules yang memiliki lapangan di Deca Park (kini Monas depan MBAD). VIOS di Menteng (kini lapangan Persija), BVC di depan Balaikota, dan Oliveo. Kala itu menonjol kesebelasan yang didirikan warga Tionghoa, yaitu UMS yang memiliki lapangan di Petaksinkian (Kota) dan Chung Hwa di Tamansari, Jakarta Barat.

Yang lainnya adalah Maluku, BBSA, Maesa, Bintang Timur, dan Setia. Seperti liga Eropa, tiap kesebelasan memiliki divisi utama, divisi I, II, dan III. Pada akhir pekan (Jumat hingga Ahad) warga Ibukota dengan bergairah menyaksikan pertandingan-pertandingan yang jadwalnya padat. Di antara pemain Indo Belanda terkenal kala itu adalah Van der Vin, kiper UMS. Boelaard van Tuyl, libero VIOS yang berbadan tinggi besar seperti Maldini, pemain nasional Italia dari AC Milan. Van der Berg, bek tangguh dari BBSA sekalipun postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi berbadan tegap. Pesch, kanan luar Hercules yang larinya kencang bagai kijang.

Ia sering merobek-robek pertahanan lawan dengan umpan-umpan akurat. Yang paling menonjol antara mereka Van der Vin. Kiper berbadan tinggi, tapi perawakannya tidak terlalu besar ini, cukup lincah gerakannya dalam menangkap bola-bola tinggi. Hanya sedikit kelemahannya menghadapi bola-bola bawah. Menghadapi lawan-lawan luar negeri, yang kala itu sering bertandang ke Indonesia, Van der Vin membuat para penyerang kenamaan kala itu menjadi frustasi karena gawangnya sulit ditembus. Dalam suatu pertandingan melawan suatu kesebelasan Hongaria di Ikada, ia menahan penalti pemain legendaris Puskav.
Pemain Hongaria yang saat negaranya diinvasi Uni Soviet pada 1960-an pindah ke Real Madrid, Spanyol, ketika mengeksekusi penalti berupaya menipu Van der Vin. Bola yang seolah-olah ditujukan ke arah kanan, tapi tiba-tiba dibelokkan ke arah kiri gawang, dapat ditangkap Van der Vin. Puluhan ribu penonton bertepuk tangan sambil berdiri, dan Van der Vin berjingkrak-jingkrak kegirangan.

Raymond Kopa, dari Prancis kala itu juga pernah bertanding di Indonesia dan mengalami kesulitan menembus gawang Van der Vin. Kiper tampan ini berangkat ke stadion selalu menggunakan sepeda motor Harley Davidson: silih berganti memboncengkan berbagai gadis Indo. Sejumlah penyerang PSSI yang disegani kala itu adalah Djamiat Dalhar, Liong Houw, Kiat Sek (Persija), Ramang (PSM), Witarsa (Persib), Ramli dan Ramlan (PSMS).
Menjelang 1960-an tampil Sutjipto Suntoro (Persija) dan Iswadi Idris (Persija), Yacob Sihasale dan Abdulkadir (Persebaya), dan Ronny Patinasarani (PSM). Sutjipto yang namanya harum di Asia, bersama dengan Yacob pernah terpilih dalam kesebelasan All Asian Stars. Sampai awal 1970-an Indonesia masih sangat disegani di Asia. Pernah mengalahkan RR Cina 2-0, menggasak Thailand 4 – 0, menghantam Korea 3 – 0 dan PSSI yunior menekuk Iran 3 – 0.
Jepang dan Arab Saudi yang kini jadi peserta World Cup belum ada apa-apanya. Wartawan Antara Sugiarto Sriwibowo, yang meliput Olimpiade Dunia di Jepang (1964) menuturkan, ”Orang Jepang bila menonton bola sangat geli. Apalagi bila melihat para pemain menyundul bola. Mereka takut kalau kepalanya nanti pecah.”




Tahun 1954an Van der Vin merupakan penjaga terbaik Asia

Pramudya Ksatria Budiman Legenda Persija , Van der Vin

Tan Liong Houw "Macan Betawi"






Tan Liong Houw atau Latief Harris Tanoto (lahir di Surabaya, 26 Juli 1930; umur 79 tahun) adalah seorang pemain sepak bola terkenal Indonesia di era tahun1950-an. Ia dikenal sebagai pemain lini tengah yang perkasa dan ditakuti lawan. Posisinya sebagai gelandang kiri, mengharuskan Liong Houw bermain keras untuk merusak formasi lawan.
Pada masanya, Tan Liong Houw menjadi pujaan tim nasional dan Persija Jakarta. Bahkan para pendukung Tim Persija memberinya julukan “Macan Betawi” walaupun Ia berasal dari etnis Tionghoa.

Tan Liong Houw tumbuh remaja di Jakarta. Nama “naga” (liong) dan “harimau” (hauw) yang diberikan orangtuanya adalah dua binatang lambang keperkasaan dalam mitologi etnis Tionghoa. Ibunya, Ong Giok Tjiam, semula tidak mengizinkannya menjadi pemain sepak bola. Adiknya, Tan Liong Pha, yang sempat bermain untuk Persib Bandung Junior terpaksa berhenti karena larangan sang ibu. Berbeda dengan adiknya, Liong Houw tetap bermain sepak bola secara sembunyi-sembunyi. Sang ibu memergokinya dan kemudian mengirimnya ke Semarang agar tak bermain sepak bola lagi.

Namun nasib baik justru mempertemukannya dengan orang-orang dari klub Tjung Hwa (sekarang PS Tunas Jaya), perkumpulan olah raga warga keturunan Tionghoa kala itu. Orangtuanya kemudian meminta Jaya, perkumpulan olah raga warga keturunan Tionghoa kala itu. Orangtuanya kemudian meminta Liong Houw kembali ke Jakarta. Sang ayah akhirnya mengijinkan bermain bola setelah menyaksikan kegigihan anaknya mengasah bakat. Liong Houw kemudian dipanggil masuk ke tim nasional dan prestasinya semakin bersinar.

Tanoto, demikian ia juga biasa dipanggil, tidak menggantungkan penghidupan dari bermain sepak bola. Bermain sepak bola baginya benar-benar karena hobi dan mengabdi kepada negara. Pada waktu itu sebagian dari pemain Tim Sepakbola Nasional Indonesia berasal dari keturunan Tionghoa, seperti Thio Him Tjiang, Kwee Kiat Sek, Phoa Sian Liong, Lie Kiang An, Chris Ong, dan Harry Tjong.

Tudingan bahwa para pemain keturunan Tionghoa akan bermain setengah hati dan kendur semangatnya bila Indonesia bertemu dengan pemain dari Cina sempat membuat Tanoto dan kawan-kawan sakit hati. Pada dekade 1950-an Indonesia sempat dua kali bertemu dengan Republik Rakyat Cina, yaitu pada kualifikasi Olimpiade 1956 dan kualifikasi Piala Dunia 1958. Faktanya, Indonesia selalu sukses melewati para pemain Cina.

Tanoto dan kawan-kawan berhasil masuk perempat final Olimpiade 1956 di Australia. Pada ajang inilah cerita legendaris itu tertoreh. Tim Merah Putih berhasil menahan Uni Soviet 0-0 sebelum akhirnya kalah 0-4 pada partai ulang hari berikutnya. Tanoto bermain dengan “keringat darah”. Kaus kakinya sampai robek di tengah pertandingan karena termakan permainan keras lawan.

Setelah Asian Games 1962 di Jakarta, Tan Liong Houw memutuskan pensiun. Hidupnya kemudian lebih banyak dihabiskan bersama istrinya, Loe Lan Eng atau sekarang lebih akrab dipanggil Hilda Lanawati, dan empat anaknya: Wahyu Tanoto, Budhi Tanoto, Indah Nurjani, dan Harijanto Tanoto. Dua anaknya, Wahyu Tanoto dan Budhi Tanoto, meneruskan bakat sang ayah. Keduanya sempat menjadi pemain nasional pada tahun 1980-an.

Tan Liong Houw bermain untuk Tim Merah Putih selama duabelas tahun sejak 1950. Ia memperkuat tim nasional dalam empat Asian Games dan banyak kejuaraan regional. Salah satunya menjuarai Merdeka Games 1961 di Malaysia setelah di babak final mengalahkan tuan rumah 2-1. Ia masih memberikan sumbangan pikiran untuk perkembangan sepak bola nasional dengan menjadi anggota Dewan Penasihat PSSI periode 1999-2003.




SEMANGAT bermain sepak bola tak ikut pupus meski usia kakek warga Tionghoa kelahiran Surabaya, 26 Juli 1930, itu sudah mulai menginjak kepala delapan. Meski tak segesit dan sepiawai dulu ketika muda, dia masih rutin melakoni olahraga yang banyak digemari masyarakat dunia, termasuk Indonesia, itu.

Setidaknya, seminggu sekali dia bergelut dengan salah satu permainan body contact tersebut. Lawannya, jangan dikira, rekan-rekan seusianya sesama manula. Selama ini hampir semua partner bermainnya adalah pemain-pemain muda usia 20"30-an tahun. Tentu, secara fisik jauh lebih fresh.

Seperti saat Jawa Pos menemui Tan Liong yang juga populer disebut Latief Harris Tanoto tersebut di Stadion Taman Sari di kawasan Mangga Besar, Jakarta, pada Sabtu sore (30/1). Dengan helm masih terpasang, Tanoto yang baru turun dari motor dengan dibonceng anaknya terlihat bersemangat masuk ke stadion.


Telah tiba silih berganti sebelumnya, belasan pemuda dan beberapa lelaki warga Tionghoa. Mereka berbaur dengan sejumlah orang dari kelompok etnis lainnya. "Ayo Papi, cepat pakai sepatunya, langsung kita main," teriak salah seorang di antara mereka dari dalam lapangan, menyambut kedatangan kakek yang suka disapa Tan Lion itu.

Sekilas dipandang, mungkin sebagian besar orang tak akan menyangka, masa muda lelaki yang rambutnya sudah memutih itu pernah menjadi pesepak bola terkenal. Sosok yang sangat disegani kawan dan lawan ketika bermain di lapangan bola.

Mantan pemain yang mendapat julukan "Macan Betawi" dari pendukung Persija pada masanya itu datang hanya mengenakan celana pendek dan bersandal japit. Sangat sederhana. Tangan kanannya menenteng tas kresek berisi sepatu bola. "Sejak dulu, saya ya seperti ini. Main di dalam maupun di luar negeri bawanya ya tas kresek kayak begini saja," kata Tan Liong, sambil mencari posisi duduk di pinggir lapangan.

Sepatu butut yang pasangan sebelah kiri sudah bolong kecil di bagian samping itu lantas dikeluarkan dari tas kresek. Jari tangan yang kulitnya sudah mengeriput masih tampak tetap terampil memasang dan mengencangkan tali sepatu bergigi di bagian bawah khusus untuk sepak bola tersebut. "Saya tinggal lari-lari dulu ya," kata Tan Liong, sambil beranjak masuk ke lapangan.

Di dalam lapangan, wajah pria yang usianya sudah mencapai 10 windu lebih itu tampak semringah. Meski hanya sesekali mendapat bola, mantan pemain yang dulu biasa bermain di posisi gelandang (pemain tengah) kiri tersebut tetap rajin berlari mengikuti arah bola. Ketika permainan berlangsung, sesekali dia terlihat memberikan arahan kepada pemain lain yang mungkin usianya sepantaran dengan cucunya.

Meski lahir di Surabaya, Tan Liong tumbuh remaja di Jakarta. Bakat dan hobi bermain sepak bolanya juga makin terasah di kota yang dulu sempat dikenal pada masa pra kemerdekaan sebagai Batavia tersebut. Saat berumur sekitar 17 tahun, dia bergabung dengan Chun Hwa, salah satu perkumpulan sepak bola Tionghoa saat itu, yang kini dikenal sebagai PS Tunas Jaya.

Namun, pihak keluarga awalnya tidak memberikan dukungan kepada Tan Liong menekuni sepak bola. Adiknya, Tan Liong Pha, yang bermain untuk Persib Bandung Junior juga terpaksa berhenti karena tidak mendapatkan izin. Sedangkan Tan Liong oleh ibunya, Ong Giok Tjiam, akhirnya dikirim ke Semarang, Jawa Tengah. Selain untuk bersekolah di sana, tentu tujuan keluarganya adalah menjauhkan dia dari aktivitas bola kaki.

Namun, hal itu tidak menghentikan hobinya itu. Dia secara sembunyi-sembunyi justru tetap bermain bola. Bahkan, beberapa kali dia ikut melakukan pertandingan lawatan ke luar kota. Namanya berkibar di kompetisi antarkota sebagai salah seorang pemain berbakat. "Tapi, sepintar-pintarnya saya, akhirnya tetap ketahuan juga," kisah Tan Liong, lantas terkekeh.

Kegiatannya tetap bermain bola terbongkar setelah dalam sebuah pertandingan dia mengalami cedera cukup parah. Dahinya robek karena berbenturan dengan pemain lawan sehingga harus mendapat perawatan di rumah sakit. "Orang tua langsung suruh saya balik ke Jakarta lagi," ujarnya.

Namun, garis sebagai pemain bola tak bisa dielak. Sepulang dari Semarang, sang ayah mengizinkan Tan Liong bermain bola. Kegigihan anaknya mengasah bakat sejak kecillah yang menjadi alasannya.
Tak berselang lama, berbarengan dengan momentum seleksi timnas untuk persiapan Asian Games I di New Delhi, India, dia yang saat itu berusia sekitar 20 tahun dipanggil masuk tim nasional. Prestasinya pun semakin bersinar sejak itu.

Berturut-turut pria yang juga akrab dengan sapaan Tanoto itu menjadi langganan timnas. Bersama The San Liong, Kwee Kiat Sek, Bee Ing Hien, dan beberapa pemain Tionghoa lainnya, dia kembali membela Merah Putih pada Asian Games II 1954. Kemudian, itu berlanjut pada prestasi spektakuler dalam ajang Olimpiade Melbourne, Australia, pada 1956. Timnas saat itu berhasil masuk babak perempat final dan menahan imbang tanpa gol negara kuat favorit juara Uni Soviet (sekarang Rusia).


Strategi permainan keras tanpa kompromi sengaja dipilih sejak awal karena sadar bahwa secara kualitas teknik maupun fisik kalah oleh Rusia. "Kalau main strategi biasa, pasti gampang sekali kita dikubur," katanya. Dia lantas menunjukkan jari manis dan kelingkingnya sebagai perbandingan perbedaan timnas Indonesia dan Uni Soviet yang saat itu merupakan salah satu negara adidaya di dunia.

Karena strategi bermain keras tersebut, Tan Liong sampai merasa perlu memasang pengaman untuk kakinya dua sekaligus. Tidak hanya bagian depan menutup tulang kering, tapi juga bagian belakang. "Mau mati kek, mau apa kek, saya sudah siap saat itu," tuturnya, penuh semangat.

Namun sayang, karena telah diforsir pada pertandingan pertama, di leg kedua dua hari kemudian untuk penentuan tim mana yang meneruskan ke babak berikutnya, Indonesia harus mengakui keunggulan Uni Soviet. Skor telak 4-0 untuk kemenangan tim lawan. Uni Soviet kemudian terus melaju dan berhasil menjadi juara pada ajang Olimpiade 1956 tersebut.

Namun, jangan membayangkan bahwa perjuangan timnas yang banyak digawangi pemain warga Tionghoa waktu itu mendapat support penuh dari publik Indonesia seperti saat timnas Indonesia berlaga dalam ajang AFF 2010 beberapa waktu lalu.

Sebelum melaju ke babak perempat final bertemu Uni Soviet, Indonesia terlebih dahulu harus menghadapi Republik Rakyat Tiongkok. Keraguan dan tudingan miring pun dialamatkan kepada para pemain timnas warga Tionghoa. Tan Liong dan kawan-kawan sempat dianggap akan bermain setengah hati bila bertemu pemain Tiongkok.

"Ini kalau diomongkan memang nggak enak. Tapi, kenyataannya kayak gitu. Seperti saya, biarpun WNI, tetap ada embel-embel Tionghoa-nya di belakang," keluh Tan Liong. Meski berhasil menjawab dengan kemenangan, tudingan yang sama ternyata masih dialamatkan saat Indonesia kembali harus melawan Tiongkok dalam pertandingan Pra Piala Dunia 1958.

Namun, untuk kali kedua, Tan Liong dkk kembali bisa menjawab dengan keberhasilan mengalahkan negara dengan penduduk terbesar di dunia tersebut. "Aku nggak ada pikiran kayak begitu-begitu, pokoknya aku dapat tugas main, ya main sebaik-baiknya. Saya Indonesia, lahir di sini, makan di sini, berak di sini, mati juga di sini," tegas mantan pemain yang juga pernah membela Persija itu.

Perlakuan diskriminatif kepada para pemain warga Tionghoa saat itu, menurut dia, menjadi salah satu alasan surutnya warga Tionghoa dalam dunia sepak bola tanah air hingga saat ini. Termasuk alasan terkuat dirinya mundur dari timnas pada 1962. "Jadi, saya mundur bukan karena tidak laku lagi. Saya masih dipakai waktu itu," ujarnya.

Padahal, lanjut dia, menjadi pemain timnas sepak bola Indonesia sesungguhnya merupakan impian dan kebanggaan tersendiri bagi bapak empat orang anak itu. Saking berartinya, sampai-sampai, kaus timnas yang dipakainya saat membela Merah Putih tidak pernah dikenakan di luar lapangan. "Saya nggak mau pakai sembarangan. Mentang-mentang menjadi pemain timnas, lalu ke mana-mana pakai kaus yang ada gambar garudanya itu. Kalau saya, enggak," tutur Tan Liong.

Sejumlah jersey timnas yang dimilikinya selama 12 tahun membela timnas Indonesia tetap disimpan rapi. "Yang namanya pusaka itu cuma dipakai saat berjuang. Ini bentuk penghargaan saya. Sebab, garuda benar-benar ada di sini," tandasnya, sambil menunjuk dada sebelah kiri.

Bermain sepak bola, baik di klub maupun timnas saat membela Indonesia, juga bukan pertimbangan uang atau materi. Menurut Tan Liong, sekali bermain di Persija dia hanya dibayar segobang atau 2,5 sen. Uang sebesar itu pada zaman tersebut bisa digunakan untuk membeli semangkuk soto betawi yang sekarang harganya sekitar Rp 10 ribu. Sedangkan di timnas, saat Olimpiade, dia hanya mendapat USD 1 dolar sehari. "Jadi, bukan uang pertimbangannya," tegasnya.

Dua anak Tan Liong, Budi Tanoto dan Wahyu Tanoto, sebenarnya juga sempat mengikuti jejak ayahnya sebagai pemain bola. Keduanya juga pernah masuk timnas dan Persija senior pada era 1980-an. Namun, kiprah keduanya cuma sekilas dan tidak sefenomenal ayahnya.



Pramudya Ksatria Budiman Legenda Persija , Tan Liong Houw

Sutan Harhara, Anak Jakarta Pilar Garuda



Di era 1970-an, pemain yang populer di indonesia selalu dari jajaran straiker, gelandang, atau kiper. Tapi ada pengecualian buat Sutan Harhara. Anak Kota (Jakarta Pusat) yang berposisi sebagai defender ini begitu spesial, hingga media massa tak mau melewatkan setiap aksinya yang memang layak jadi cerita. Wajar jika Sutan Harhara termasuk langka. Defender yang bisa dibilang sama populernya dengan penyerang kenamaan saat itu. Sebut saja Andi Lala, Anjasmara, dan Iswadi Idris.

Permainannya pun langka. Sebagai defender, dia termasuk serbabisa. Ketika dipasang sebagai libero, dia sangat jago. Saat diplot sebagai bek kanan atau kiri, dia tetap tangguh. Suka maju ke depan, tapi tak melupakan tugasnya sebagai pengawal pertahanan. Di klubnya, Persija, maupun timnas Indonesia, dia termasuk salah satu pilar. Bahkan, di era 1970-an, Sutan Harhara identik dengan jaminan kuatnya pertahanan Tim Garuda.

Hal langka lain dari seorang Sutan Harhara adalah kakinya. Sebagai pemain, dia termasuk spesialis kaki kanan (right footed). Maksudnya, kaki sebelah kanan jauh lebih baik daripada kaki kirinya. Namun, dia bisa memerankan bek kanan atau kiri dengan sama baiknya. Kemampuan istimewa itu sudah terlihat sejak dia masih muda. Begitu ditransfer dari Indonesia Muda (IM) ke Jayakarta pada 1973, dia langsung menarik perhatian banyak orang. Bahkan, pemain hebat waktu itu, Iswadi Idris, sempat memujinya. Menurut Iswadi, Sutan termasuk pemain yang berbakat.

Benar juga, saat membela Jayakarta di kompetisi Persija, dia menjadi salah satu bintang. Bahkan, dia membawa klub tersebut promosi dari Divisi II ke Divisi I, sampai akhirnya naik ke Divisi Utama.

BERGAYA TOTAL FOOTBALL

Tak kalah menarik, Sutan memiliki gaya tersendiri. Dia pengagum Total Football yang pada 1974 sangat populer diusung timnas Belanda. Meski di Indonesia waktu itu identik dengan skema 3-5-2 dan belum mengenal sepak bola yang sangat menyerang itu, Sutan berani menerapkan gaya itu dalam permainan individunya. Sebagai bek sayap, dia aktif membantu serangan. Saat timnya menekan, dia cepat berada di wilayah lawan. Bahkan tak jarang, serangan itu berawal dari akselerasinya di sektor sayap. Meski begitu, dia tak pernah lupa turun untuk memastikan pertahanan timnya aman.

Apalagi, Sutan dibekali teknik passing yang baik. Sehingga, dia banyak membuat assist buat para penyerang Indonesia. Terkadang dia juga mampu memanfaatkan peluang menjadi sebuah gol. Gaya permainannya itu yang membuat permainan Sutan jadi sangat menarik ditonton. Pertama, dia mengambil inisiatif sendiri untuk menjadi bek sayap yang aktif menyerang maupun bertahan ala total football. Kemudian, para pelatihnya menyetujui, bahkan mendukungnya.

Sutan bukan hanya bagus ketika menghadapi pemain-pemain lokal. Tapi juga teruji mampu mematikan bintang dunia. Saat Ajax Amsterdam datang ke Indonesia pada 1974, Sutan berhasil mengawal Gerth van Zanten. Bintang Ajax itu dibuat tak berkutik. "Saya waktu itu berada di kiri. Karena kesulitan melewati saya, dia tampak frustasi kemudian pindah ke kanan. Saya melawan Ajax dua kali. Saat membela Persija bermain imbang 1-1, dan saat membela timnas kalah 1-2," kenang Sutan.

Sutan juga pernah merasakan melawan timnas Denmark. Kala itu Sutan berhasil mematikan bintang mereka: Alan Simonsen. Sutan juga pernah berpengalaman melawan timnas Uruguay, Rapid Viena (Austria), dan Rosario Central (Argentina). Pengalaman itu membuatnya pemain yang begitu matang, hingga berkarier cukup lama.

Yang tak kalah penting, dia meninggalkan banyak catatan indah dalam persepakbolaan Indonesia. Meski tidak pernah membawa Indonesia juara di suatu turnamen, permainannya yang agresif dan menarik membuatnya dikenang sebagai salah satu pilar Garuda yang begitu tangguh. Di masanya, timnas Indonesia ditakuti di tingkat Asia.

FAKTA HARHARA.


Nama Lengkap: Sutan Harhara
Lahir: Jakarta, 19 Agustus 1952
Karier Pemain:
IM Jakarta (1972), Jayakarta (1973-1980), Persija Jakarta (1972-1980), timnas Indonesia (1972-1980)
Prestasi:
Juara Suratin Cup 1972, juara Kompetisi Perserikatan 1973 & 1975 (PERSIJA), Juara PON 1974 (DKI Jakarta)
Pramudya Ksatria Budiman Legenda Persija , Sutan Harhara

Soetjipto " Gareng " Soentoro, Pernah Ditawari Werder Bremen




Indonesia pernah memiliki pemain fenomenal dan terkenal di Asia, namanya Soetjipto Soentoro alias si Gareng. Bakatnya yang luar biasa telah terlihat ketika ia mengolah si kulit bundar di lapangan Blok A Kebayoran. Lahir dan besar di lingkungan keluarga Soentoro Djajasapoetro yang menyukai sepakbola. Kakak Si Gareng adalah Soegijo dan Soegito pemain Persija tahun 1956-1964. Dalam usia 16 tahun sudah memperkuat Persija ke Eropa dan ikut Pelatnas PSSI Yunior untuk Piala Yunior Asia 1959.



Di Piala Yunior Asia, Soetjipto Soentoro menjadi top skorer dengan 14 gol. Gol-golnya dihasilkan ketika Indonesia mencukur Taiwan 14-0 dan Jepang 13-1. Meski pada akhirnya Indonesia menjadi juara ketiga setelah tumbang oleh Burma (sekarang Myanmar) di semifinal yang akhirya menjadi Juara. Aksinya di Piala Yunior Asia membawanya menjadi pemain yang diandalkan dan dipromosi ke tim senior.

Pada tahun 1965, dalam lawatan PSSI ke Eropa. Tim nasional yang di manajeri oleh Maulwi Saelan (Kolonel,Wakil Komandan Pasukan Pengawal Presiden RI ketika itu) membawa mereka melawan dua klub tangguh Eropa, Feyenord-Belanda dan Werder Bremen-Jerman. Kata-kata motivasi yang diberikan langsung oleh Presiden RI Ir Sukarno kepada si Gareng sebelum berangkat ke Eropatertanam benar ke dalam hatinya. "Kau,Gareng lawan si Belanda itu. Tunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu bangsa besa." ujar Bung Karno.

9 Juni 1965, Soetjipto Soentoro yang dipercaya menjadi kapten tim PSSI menghadapi Juara Liga Kompetisi Divisi Utama, Belanda yang saat itu dikapteni oleh Guus Hiddink. Si Gareng main kesetanan, setelah melewati tiga pemain belakang Feyenord pada menit kedua babak pertama ia menciptakan gol yang bertahan sampai babak pertama berakhir. Meski skor berakhir 1-6 bagi kemenangan Feyenord itu tidak lebih disebabkan faktor wasit dan bersifat politis.

14 Juni 1965, pada lawatan keduanya di Jerman Barat melawan Juara Bundesliga, Werder Bremen, si Gareng dan kawan-kawanng membuat kejutan. Pertandingan berlangsung dramatis, tercipta banyak gol dan penuh semangat juang. Meskipun kalah 5-6 tetapi pelatih Werder Bremen yang merangkap pelatih nasional Jerman Barat,Herr Brocker terang-terangan memuji dan menawarkan Soetjipto,Max Timisela dan John Simon bermain untuk klub Werder Bremen. Namun, tawaran simpatik itu ditolak oleh Kolonel Gatot Suwago. "Mereka lebih mencintai main untuk bangsanya." ujar sang Kolonel. Alasan lain karena Soetjipto dan kawan-kawan sedang dalam rangka persiapan Asian Games 1966 di Tokyo.

Beberapa Presetasi Si Gareng bersama Tim Nasional:


1959 - Juara III Piala Yunior Asia, Top Skorer 14 gol
1967-1968 - Terpilih sebagai Pemain All Star Asia
1968 - Juara I Aga Khan Gold Cup-Pakistan
- Juara I Kings Cup I-Bangkok,Thailand
1969 - Juara I Merdeka Games,Malaysia - Top Skorer 11 gol
1970 - Medali Perak Asian Games, Bangkok



Pramudya Ksatria Budiman Legenda Persija , Soetjipto Soentoro

Iswadi Idris, Si Boncel yang Brilian




Sebelum bergabung dalam klub, saat berumur belasan tahun Soetjipto bermain sepak bola di jalanan di daerah Kebayoran Baru, Jakarta, pada tahun 1954. Selanjutnya, ia menjelma menjadi salah satu pemain hebat sepanjang sejarah sepak bola Indonesia hingga level asia.

Peruntungannya berubah sejak bergabung dengan IPPI Kebayoran. Namanya mulai dikenal publik ketika membela Setia Jakarta ( klub internal Persija ). Pelatih timnas junior, Djamiat Dalhar, mengetahui potensi yang dimiliki Soetjipto dan menarikanya ke timnas junior. Nama pria kelahiran 16 Juni 1941 itu kian menanjak ketika masuk dalam timnas senior yang dilatih Tony Pogacnik.

Di usianya yang baru 16 tahun  Soetjipto sudah memperkuat Persija. Gareng pun menjadi sebutan Soetjipto lantaran tubuhnya yang tak tinggi itu.

Kemampuan menjaga bola dari serangan lawan, tendangannya yang keras dan terarah dari berbagai sudut, serta kemampuan mengecoh pemain lawan menjadi contoh kelebihan Soetjipto. Penyerang kelahiran Bandung ini menyandang ban kapten timnas selama beberapa tahun.

Seperti dikutip dalam buku Sepakbola Indonesia Alat Perjuangan Bangsa, saat timnas melakukan lawatan ke beberapa negara di Eropa medio 1965, sosok Soetjipto cukup memukau publik di sana dengan mencetak gol-gol spektakuler, terutama ketika melawan Feyenord dan Werder Bremen.

Tahun 1970 Soetjipto memutuskan gantung sepatu. Setelah belajar ilmu kepelatihan di Jerman Barat (1978), Soetjipto beralih profesi menjadi pelatih. Tercatat Buana Putra Galatama, Persiba Balikpapan dan Persiraja Banda Aceh pernah dilatihnya. Soetjipto juga pernah membawa timnas junior ke Piala Dunia U-20 di Tokyo pada tahun 1979.


MEMBICARAKAN kebesaran sejarah sepak bola Indonesia, tak bisa melupakan era akhir 1960-an sampai akhir 1970-an. Saat itu Indonesia menjadi kiblat Asia. Dan, salah satu tokoh kebesaran itu adalah Iswadi Idris. Pemain yang dijuluki Boncel karena pendek (tinggi 165 cm) ini, termasuk pemain paling berbakat yang dimiliki Indonesia.




Karena kehebatannya pula, dia termasuk pemain yang ditakuti Asia. Meski pendek, Iswadi pemain ulet dan cerdas. Dia juga serbabisa. Mengawali karier sebagai bek kanan, tapi dia juga sering dipasang sebagai gelandang kanan. Bahkan di akhir kariernya di timnas tahun 1980, dia malah diplot sebagai sweeper.


Hebatnya, dia bisa menjalani semua posisi itu dengan baik. Bersama Sutjipto Suntoro, Jacob Sihasale dan Abdul Kadir, dia punya popularitas besar di Asia. Itu semua berkat permainan mereka yang memang luar biasa. Bahkan, empat sekawan ini dinilai sebagai penyerang tercepat.


Di masa itu, sepakbola Indonesia sangat dihormati Asia. Bahkan, bersama Burma (sekarang Myanmar, Red), Indonesia merupakan kekuatan utama. Apalagi, timnas Indonesia saat itu sudah biasa bertemu tim-tim besar seperti PSV Eindhoven, Santos, Fiorentina, Uruguay, Sao Paulo, Bulgaria, Jerman, Uni Soviet dan masih banyak lagi.


“Jepang, Korea Selatan dan tim Timur Tengah belum punya cerita. Kekuatan besar dimiliki Indonesia dan Burma,” jelas Iswadi dalam wawancara dengan Kompas.com di PSSI tahun lalu.


Tentang berbagai posisi yang dia jalani, Iswadi mengaku bisa menikmatinya. “Posisi yang sering saya perankan adalah sayap kanan. Saya suka menusuk ke gawang lawan. Entah sudah berapa gol yang saya ciptakan, yang jelas lebih dari 100 kalau dijumlah dari awal sampai akhir karier,” jelas Iswadi Idris yang juga pengurus PSSI itu.


Bakat yang dimiliki Iswadi memang istimewa. Dia tak hanya punya kecepatan lari, tapi juga teknik sepakbola yang baik. Selain itu, visi permainan Iswadi juga luas, ditopang kemampuannya memimpin rekan-rekannya. Wajar jika dia segera dijadikan kapten timnas sejak awal 1970-an sampai 1980.


Menjadi pemain sepakbola yang lama membela timnas dan dikenal luas sampai seantero Asia, sebenarnya tak pernah dipikirkan Iswadi. Awalnya dia malah menyukai atletik, karena punya kecepatan lari. Baru pada 1961, dia membaca temannya memperkuat Persija Junior di koran Pedoman Sport. Iswadi yang sejak umur 4 tahun tinggal di Kramat Lima, Jakarta Pusat, kemudian tertarik bermain bola. Awalnya bergabung dengan Merdeka Boys Football Association (MBFA), kemudian ke Indonesia Muda (IM).


“Kebetulan rumah saya dekat Taman Ismail Marzuki (TIM). Dulu masih berupa kebon binatang. IM berlatih di Lapangan Anjing, tempat melatih anjing. Akhirnya saya pindah ke klub itu,” katanya.


Iswadi pun semakin menikmati sepakbola, bahkan serius menggelutinya hingga menjadi salah satu legenda Indonesia. “Sepakbola hobi yang berharga. Dulu kami bermain ingin terkenal, juga demi pengabdian kepada bangsa. Jadi semangatnya berlebihan,” terangnya.


Selama kariernya sebagai pemain sepakbola, bukan sebuah gol indah yang membuat Iswadi Idris kepikiran sampai sekarang. Justru kegagalannya mencetak gol. Itu terjadi tahun 1972, ketika Indonesia menjamu Dynamo Moscow dalam partai uji coba di Senayan.


“Kiper Dynamo adalah penjaga gawang terbaik abad ini, Lev Yashin. Saya bertekad menaklukkannya agar menjadi kenangan terindah. Kesempatan ada, tapi tak saya manfaatkan. Itu penyesalan yang masih terpikir sampai sekarang,” tutur Iswadi.


Waktu itu, dia menerima umpan terobosan dari Sutjipto. Dalam keadaan bebas dengan posisi yang sama, dia biasanya menendang bola ke gawang dan hampir selalu gol. “Tapi karena karisma Lev Yashin, saya seperti tak melihat ada celah untuk mencetak gol. Saya justru mengumpankan bola ke Jacob Sihasale. Dia tak siap, karena biasanya saya menendang sendiri dan gol. Habis pertandingan, pelatih Djamiat Dahlar pun kecewa karena saya menyia-nyiakan kesempatan,” sesalnya lagi.






Diisukan Kena Suap


Menjadi bintang besar memang menyenangkan. Tapi, tak selamanya selalu penuh puja-puji. Demikian juga yang dialami Iswadi. Dia dan rekan-rekannya pernah syok karena diisukan terkena suap, saat membela Indonesia di babak Pra Piala Dunia 1978 lawan Singapura.


Pada pertandingan di Singapura, 9 Maret 1977, Indonesia secara mengejutkan dikalahkan tuan rumah 0-4. Padahal Singapura tim kecil dibanding Indonesia. Sebelumnya, koran-koran Indonesia dan Singapura meniupkan isu bahwa Iswadi dan kawan-kawannya menerima suap.


“Oleh sebuah koran, saya diceriterakan menyelinap lewat jendela keluar dari hotel pemain. Katanya saya mendatangi Karpak, sebuah nightclub di Singapura, dan menerima suap. Itu tak pernah terjadi. Saya dan teman-teman tak pernah menerima suap. Sueb Rizal (pemain seangkatannya, Red) tahu persis saya tak ke mana-mana, karena saya sekamar dengannya. Saya kira, isu suap sengaja diembuskan pihak Singapura agar mental kami turun dan tim Indonesia kacau,” tuturnya.


Kasus itu ternyata berbuntut panjang. Seminggu kemudian, Iswadi memperkuat Persija di Piala Marahalim di Medan. “Kebetulan, sebagian besar pemain timnas Indonesia memperkuat Persija. Begitu kami masuk lapangan, langsung dlempari benda keras oleh penonton. Kami mencoba tabah meski dituduh menerima suap,” jelasnya.


Untungnya, Persija tampil memukau. Setelah mengalahkan juara bertahan dua kali (Australia), kemudian menundukkan Thailand. Para penonton Medan pun akhirnya kembali memberikan dukungan penuh, apalagi PSMS Medan sudah teringkir.


“Di final lawan Jepang, kami seperti membawa nama Indonesia. Penonton memberi dukungan penuh dan kami menang 1-0. Itu pengalaman yang menyenangkan, sekaligus sangat memuaskan. Kami bisa menunjukkan sebagai pemain yang disiplin, meski dihantam isu suap,” ceritanya.


Iswadi sendiri tampil memukau di Piala Marahalim. Tapi, itu hanya salah satu pembuktian atas kehebatannya. Selama 12 tahun kariernya di timnas (1968-1980), dia ikut membuat sepakbola Indonesia disegani di Asia. Sebutannya boleh Boncel, tapi prestasinya mengangkasa. (Hery Prasetyo)


Data Iswadi
Nama lengkap: Iswadi Idris
Julukan: Boncel, Bos
Lahir: Banda Aceh (Indonesia), 18 Maret 1948
Posisi: Gelandang/bek kanan
No. Kostum: 13
Karier klub: MBFA (1957-1961), IM Jakarta (1961-1968, 1970-1974), Pardedetex (1968-1970), Western Suburb Australia (1974-1975), Jayakarta (1975-1981), Persija (1966-1980)
Karier timnas: 1968-1980
Prestasi: Juara TIM Cup (1968), Merdeka Games (1969), Pesta Sukan (1972), Anniversary Cup (1972), Pemain Terbaik Piala Marahalim 1973


alm. Iswadi Idris, pemain Persija juara 1973 dan 1975


Pramudya Ksatria Budiman Iswadi Idris , Legenda Persija