Bukan Pakar SEO Ganteng

Showing posts with label Film dokumenter. Show all posts
Showing posts with label Film dokumenter. Show all posts

Michael Jackson : The Life of an Icon

Saat dunia menunggu argumen penduduk dalam persidangan pembunuhan Michael Jackson dengan tersangka sang dokter, sebuah film dokumenter mengenai kehidupan penyanyi itu diputar di London.

Film berjudul Michael Jackson: The Life of an Icon diputar di Empire Leicester Square, London pada Kamis (3/11) dan dihadiri oleh dua kakak Jackson, Rebbie dan Tito.

Dalam jumpa pers sebelum pemutaran film tersebut, dua kakak Michael Jackson tersebut mengungkap bahwa
mereka telah berusaha untuk menghentikan penyalahgunaan obat yang dilakukan sang mega bintang namun selalu dihalangi tim pengawal raja musik pop tersebut.

Tito dan Robbie Jackson mengatakan keluarga telah menyadari masalah narkoba yang dihadapi Michael.

Tito mengatakan bahwa pasukan pengawal adiknya berlagak tengah mengawal Presiden Amerika Serikat dan selalu mengusir kerabat Michael. Tito pun mengaku pernah berkelahi dengan seorang pengawal Michael saat dia dilarang memasuki rumah adiknya tersebut.

Sutradara film tersebut David Gest menyebut film tersebut bertujuan untuk mengisahkan kebenaran mengenai sang raja musik pop yang meninggal dunia pada 2009.

"Saya bangun suatu pagi dan memutuskan untuk membuat sebuah film mengenai kehidupan Michael karena saya lelah membaca semua kisah yang sangat fiktif. Saya ingin membuat kisah yang sebenarnya," ujar Gest.

Gest mengatakan film itu juga menampilkan wawancara dengan keluarga dan sahabat dekat Jackson setelah beberapa rekaman yang belum pernah dirilis serta foto sang megabintang.

The Life of an Icon Trailer





Denaihati

Presiden Republik Abu-Abu | Film Terbaik Eagle Awards 2011

"Presiden Republik Abu-Abu" terpilih sebagai film terbaik dalam kompetisi film dokumenter Eagle Awards 2011. Film besutan Mutiara Paramadina itu mampu menyisihkan empat finalis lainnya.

Film yang mengisahkan tentang perjuangan sekelompok warga Jakarta untuk memperoleh pengakuan negara atas identitasnya itu, harus bersaing ketat dengan empat film lain. Keempat film itu antara lain Garamku tak Asin Lagi dari Aceh, Mutiara Pesisir Pantai dari Timika, Papua Barat, Adeus Timor Lorosae dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, serta Hutanku Sekolahku dari Padang, Sumatra Barat.

Penilain terhadap film tersebut didasarkan atas beberapa kriteria, yakni kesesuaian tema, keunikan ide, keutuhan cerita, sudut pandang pembuat cerita, serta sinematografi secara utuh.

Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2011. Sebuah kompetisi film dokumenter bagi kalangan pemula. Memasuki tahun ke-7 pelaksanaan, EADC tidak lagi terkonsentrasi (terfokus) pada satu isu/topic, namun melalui tema “Bagimu Indonesia” EADC 2011 terkonsentrasi pada 5 topik/isu secara langsung yaitu: “Pendidikan, Kesehatan, Lingkungan, Kesejahteraan sosial dan Kemanusiaan.

Melalui Eagle Awards 2011 diharapkan akan lahir kembali karya-karya film yang tidak hanya inspiratif namun juga memiliki bobot/kualitas penceritaan yang lebih baik dan menghibur, karena ditahun ini film-film Eagle Awards 2011 akan melirik bangsa pasar bioskop sebagai target utama penayangan film antologi Eagle Awards 2011 ”Bagimu Indonesia” nantinya.

Berikut Trailer 5 Film Dokumenter Finalis Eagle Award 2011

Trailer Film Presiden Republik Abu-Abu




Trailer Film Garamku Tak Asin Lagi




Trailer Film Mutiara Pesisir Pantai




Trailer Film Adeus Timor Lorosae



Trailer Film Hutanku Sekolahku





Denaihati

BUDRUS, Film Dokumenter Gerakan Nonkekerasan di Palestina


Tak banyak yang tahu bahwa sebuah gerakan nonkekerasan sedang tumbuh di Palestina, yang telah menyatukan faksi-faksi Palestina yang berseteru, termasuk Fatah dan Hamas, dan mendorong ratusan orang Israel untuk melintas ke Tepi Barat dan Gaza untuk pertama kalinya guna bergabung dengan gerakan ini.

Sepak terjang gerakan inilah yang terekam dalam film dokumenter baru Budrus yang diproduksi oleh Just Vision, yang bermarkas di Washington dan Yerusalem. Budrus meraih juara kedua Panorama Audience Award pada Festival Film Internasional Berlin pada Februari lalu setelah pemutaran perdana yang tiketnya terjual habis. Kini film itu sedang diputar di Kanada dan akan segera dipertontonkan di Eropa.

Film ini disutradarai dan diproduseri oleh pembuat film Julia Bacha dan produksinya dibantu oleh jurnalis Palestina, Rula Salameh, serta pembuat film yang juga pejuang hak asasi manusia, Ronit Avni. Budrus memadukan pengambilan gambar dari berbagai sumber dan mewawancarai orang-orang Israel dan Palestina yang diracik dalam tontonan sepanjang 82 menit dengan dialog dalam bahasa Arab, Inggris dan Ibrani.

Film ini menceritakan gerakan nonkekerasan warga sipil Palestina dan Israel untuk menyelesaikan konflik yang lahir di Desa Budrus, yang terletak di barat laut Kota Ramallah, Tepi Barat. Pendiri gerakan ini, Ayed Morrar, mengajak para perempuan sebagai pemeran utama perjuangannya melalui kerja sama dengan putrinya, Iltezam Morrar.

Pada 2003, untuk menanggapi pembangunan tembok atau pagar pemisah yang mengambil alih sebagian lahan mereka, sang ayah dan putrinya ini memprakarsai sebuah gerakan nonkekerasan yang masih berlanjut hingga hari ini. Gerakan ini bertujuan untuk melakukan protes damai untuk mengubah rute tembok itu agar tidak melewati tanah-tanah milik orang Palestina.

Film ini menayangkan orang-orang Palestina yang menangisi pohon-pohon zaitun yang hilang, polisi perbatasan Israel yang bimbang apakah harus menggunakan kekerasan terhadap para aktivis perdamaian Israel, dan pemuda Palestina yang dihukum karena lemparan batu mereka ke tentara Israel bisa mengubah sebuah gerakan damai menjadi sebuah konfrontasi kekerasan.

Di antara adegan paling mengharukan di film itu adalah saat para perempuan Palestina yang pontang-panting menghindari buldozer dan tentara perempuan Israel yang menjalin hubungan dengan para perempuan Budrus. Meskipun film ini menayangkan cerita tentang desa itu saja, tujuan besarnya adalah untuk menunjukkan bahwa perubahan bisa dicapai di Timur Tengah melalui cara damai.

Budrus menjalani debut dunianya saat diputar pada Festival Film Internasional Dubai pada Desember 2009. Malam itu diakhiri dengan sambutan utama oleh Ratu Noor Al-Hussein dari Yordania. Ia memuji film ini dan menyatakan bahwa Budrus telah memberi banyak harapan. “Film ini punya cerita yang akan memiliki pengaruh dan bisa membantu menciptakan perubahan,” katanya.

Just Vision didirikan pada 2003 untuk memastikan bahwa para pemimpin masyarakat sipil Israel dan Palestina benar-benar menjadi mitra dalam upaya perdamaian, serta diakui, dihargai dan berpengaruh dalam bidang mereka. Budrus adalah film kedua Just Vision. Film pertamanya, Encounter Point, menceritakan kisah nyata para rakyat jelata yang menolak untuk duduk tenang dan menyaksikan konflik Israel-Palestina meluas, dan alih-alih, memilih mendorong solusi nonkekerasan terhadap konflik ini.

Budrus mungkin akan sulit untuk dinikmati oleh mereka yang secara emosional terikat dengan masyarakat Israel atau Palestina, karena film ini memperlihatkan aspek-aspek negatif dari kedua komunitas. Namun, yang menjadi bagian daya tariknya adalah bahwa film ini menantang para penonton untuk merenungkan kembali beberapa stereotipe yang mereka yakini tentang konflik Israel-Palestina. Seperti Iltezam Morrar katakan, “Kini saya tahu bahwa tidak semua orang Israel sama.”

Mudah-mudahan, sikap yang tumbuh di kalangan orang Palestina dan Israel ini juga pesan nonkekerasan Budrus akan membawa kita selangkah lebih dekat menuju penyelesaian konflik ini.



Sumber :
http://www.tempointeraktif.com
http://www.youtube.com