Bukan Pakar SEO Ganteng

Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Manage Your Mind For Real Succes

Semua orang mempunyai potensi kekuatan pikiran, tetapi tak semua tahu dan mampu mengaktifkannya untuk mendapatkan manfaat yang luar biasa. Dr. Ibrahim Elfiky , Seorang Maestro Motivator Muslim Dunia tergerak untuk membantu anda mengenal kekuatan pikiran, cara kerjanya, dan cara mengaktifkannya dengan mudah, murah, dan efektif.

Demikianlah sekedar pengantar sebuah buku yang saya baru dapatkan dari
kang Isro Machfudin sebagai hadiah pemenang dalam Acara milad blog batavusqu yang ke 2.

Buku tersebut berjudul TERAPI BERPIKIR POSITIF. Buku setebal 347 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Zaman (cetakan I/2009) edisi Hard Cover adalah terjemahan buku berjudul Quwwat Al-Tafkir dengan penterjemah Khalifurrahman Fath dan M. Taufik Damas.

Dibawah judul tertera Biarkan Mukjizat dalam Diri Anda Melesat Agar Hidup Lebih Sukses dan Lebih Bahagia ditambah tulisan MAESTRO MOTIVATOR MUSLIM DUNIA di bawah nama penulisnya Dr. Ibrahim Elfiky, juga tulisan INTERNATIONAL BEST SELLER semakin menambah penasaran saya untuk segera menuntaskan membaca buku ini.



Pada Cover belakang tertulis pengantar berikut :

Apa yang anda alami hari ini adalah dampak dari pikiran anda kemarin. Apa yang akan anda alamai esok hari adalah dampak dari pikiran-pikiran anda hari ini. Pikiran yang sedang anda bayangkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan anda.

Anda berpkir bisa atau tidak bisa, dua-duanya akan benar, bila anda berpikir bisa, Insya Allah anda bisa, tetapi bila anda berpikir tidak bisa, Insya allah anda tidak bisa.

Tak aka nada yanbg dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negative.

Semua orang mempunyai potensi kekuatan pikiran, tetapi tak semua tahu dan mampu mengaktifkannya untuk mendapatkan manfaat yang luar biasa. Dr. Elfiky-motivator muslim dunia-tergerak untuk membantu anda mengenal kekuatan pikiran, cara kerjanya, dan cara mengaktifkannya dengan mudah, murah, dan efektif.

Kekuatan pikiran anda lebih dasyat dari yang anda bayangkan, di buku powerful ini, anda menemukan rahasia :
  • Bagaimana kekuatan pikiran akan mengubah hidup anda sehingga anda termotivasi kuat untuk meningkatkan kualitas berpikir anda.
  • Bagaimana dengan mudah mendiagnosis penyakit-penyakit pikiran anda dan mengobatinya.
  • Bagaimana membangun keyakinan dengan alami, dan anda akan yakin menatap masa depan hidup anda.
  • Bagaimana merumuskan visi anda agar anda lebih optimis, hidup lebih terarah, lebih efektif, dan yang terpenting lebih antusias.
  • Bagaimana menginstal suatu pikiran indah dan bahagia dalam pikiran anda sehingga hidup anda lebih indah dan bahagia.
  • Bagaimana anda mampu berpikir, bertindak, dan berkata dengan lebih bijak.
  • Bagaimana anda meraih kesehatan, kekayaan, kepercayaan diri, dan kreatifitas.
  • Bagaimana anda meraih hubungan positif, dan lebih banyak lagi…………………….
Seringkali masalah yang menghampiri kita tidaklah sebesar atau segawat yang kita hadapi namun karena pikiran negatif kita seringkali mendominasi menjadikan masalah-masalah yang timbul seakan-akan sangat gawat.

Dr. Ibrahim telah mengulas dengan jelas, jernih, mudah serta praktis berbagai tips, trik, strategi tentang berpikir positif.

Saya belum bisa memberikan ulasan secara tuntas karena buku ini baru saya baca sebagian. Yang jelas buku ini sangat sarat makna dan hampir seluruhnya penting. Saya harus menyiapkan waktu khusus untuk menyimaknya secara mendalam.

Semoga buku ini dapat menjadi trigger bagi saya untuk bisa mengubah keseharian saya menjadi lebih baik. Amin.

Terima kasih banyak kepada kang Isro yang telah mengirimkan buku ini pada saya dan terlebih khusus buat kang Bani Mustajab selaku sponsor.


CLIK HERE iPad 2 FREE
Photobucket

FILM RUMAH DARA

rumah dara
Di Negara kita, film dengan genre slasher memang jarang dibuat. Persoalannya karena film semacam ini ini memiliki tingkat kesulitan dan detail serta effect tingkat tinggi.

Disamping peƱata artistiknya membutuhkan keterampilan yang luar biasa. Efek darah muncrat, kepala menggelinding, anggota tubuh yang patah merupakan efek film yang sangat sulit dilakukan. Hanya pembuat film Hollywood dan Hongkong saja yang memiliki keterampilan yang baik membuat film jenis ini.


Untuk penggemar film yang bergenre seperti itu, besok tanggal 22 Januari 2010 secara serentak di beberapa bioskop tanah air akan diputar sebuah Film yang berjudul Rumah Dara.

Film garapan ciamik dari sineas Timo Cahyanto dan Kimo Stambul yang lebih dikenal dengan nama Mo Brother , mengaku dirinya lagi bokek berat saat menggarap film ini.
Meski tak punya biaya, Timo dan Kimo tidak patah arang.

Hingga akhirnya, mereka pun bertemu seorang produser dari Singapura yang mau memberikan modal untuk menggarap 'Rumah Dara'.
Dengan menggaet Shareefa Daanish dan Julie Estelle sebagai bintang utamanya, Timo dan Kimo pun memulai penggarapan 'Rumah Dara' pada November 2009, dengan harapan bisa rilis Agustus 2009. Namun, saat waktunya tiba, mereka terpaksa mengubah rencana tersebut. Karena apa? "Gue nggak mau ngeluarin 'Rumah Dara' Agustus karena ada 'Merantau' dan 'Merah Putih'," ucap Timo.

Sambil menunggu tanggal yang tepat, Timo dan Kimo pun mendaftarkan 'Rumah Dara' ke beberapa festival film di luar negeri. Alhasil, film tersebut mendapat penghargaan di Puchon International Fantastic Film Festival, Korea. Tak hanya itu, sang bintang utama, Shareefa Daanish yang berperan sebagai Dara dinobatkan sebagai Aktris terbaik di ajang tersebut.

Film ini tidak akan memperlihatkan ketakutan akan hantu tetapi membangkitkan rasa takut terhadap keluarga pembunuh. Film yang awalnya diberi judul Macabre dan berubah menjadi Rumah Dara ini merupakan versi panjang film “DARA” di seri kompilasi TAKUT. Sebelumnya, The Mo Brother menyajikan film ‘Dara’ dalam sebuah film kompilasi horor “Takut” yang membuat Dannish meraih best Actress di Puchon film festival.

Film Rumah Dara sendiri menceritakan pengalaman paling mencekam 6 orang teman lama.

Adjie dan Astrid, pasangan yang baru saja dikarunia anak bernama Nico pergi ke Bandung bersama tiga orang temannya Jimmy, Eko dan Alam. Mereka pergi ke Bandung untuk berpamitan dengan Ladya, adiknya karena Adjie dan Astrid akan pergi ke Australia dan memulai hidup disana.

Hubungan Adjie dan Ladya sebenarnya kurang harmonis semenjak kematian orang tua mereka. Dengan usaha keras, Adjie pun berhasil membujuk Ladya. Meski semula enggan, Lidya akhirnya luluh ketika mendengar sang kakak bakal tinggal di negara lain. Maka ketika Adjie meminta Lidya menemaninya ke bandara, Lidya pun tak keberatan.


Dalam perjalanan menuju bandara, secara tidak sengaja rombongan Adjie menemukan Maya (Imelda Therinne), seorang korban perampokan. Tak tega meninggalkan Maya, mereka pun sepakat mengantarkan Maya ke rumahnya. Dan di sinilah awal mula tragedi terjadi, namun keenam orang ini tidak menyadari bahaya yang mengancam nyawa mereka.

Disana, mereka disambut baik oleh penghuni rumah. Seorang gadis anggun bernama Dara dan menawan mempersilahkan menikmati makan malam yang telah disediakan. Disinilah pengalaman buruk 6 orang teman lama dimulai. Kebaikan hati penghuni rumah menjadi awal bencana di hari kelam itu. Mereka pingsan setelah menyantap makanan tersebut dan mendapati diri mereka terkurung ketika tersadar.

Kebaikan hati, kemurahan hati dan senyum manis berubah drastis di keluarga tersebut. Mereka menjadi pembunuh yang keji. Keenam orang tersebut terjebak dalam situasi mencekam dimana satu persatu mereka dibantai secara sistematis. Mereka harus berjuang melarikan diri dari rumah berdarah tersebut. Akankah mereka berhasil? Siapakah Dara dan keluarga tersebut? pertanyaan ini akan terjawab jika kita menonton film ini besok.

Film ini dibintangi oleh artis/aktor Julie Estelle, Shareefa Daanish, Ario Bayu, Sigi Wimala, Mike Muliardo, Imelda Theriine, Arifin Putra, Dendy Subangil dan Daniel Mananta.



Pengamat Film Indonesia Yan Widjaya mengatakan perkembangan film dengan genre Slasher memang minim. Pada periode 2009 hanya ada tiga film dari puluhan film yang beredar di Indonesia. Tiga film itu antara lain Pintu Terlarang, Darah Perawan Bulan Madu dan Air Terjun Pengantin. Setelah Pintu Terlarang, Film Rumah Dara merupakan film yang patut dibanggakan karena secara kualitas film ini jauh lebih baik dibanding film-film lainnya.


Bagi penggemar film ini silahkan langsung ke situsnya disini atau bergabung dengan twitternya disini



'300' HADIAH DARI PUTRI

300
Kemarin saya dapat hadiah dari PUTRI MALU berupa sebuah DVD Film dengan judul ‘300’, dan dia berpesan supaya harus diposting pada hari ini. Semalaman setelah nonton filmnya sempat saya berfikir, “Mengapa PUTRI mengharuskan saya mempostingnya hari ini?”.

Namun setelah membuka blog saya hari ini, barulah jawabannya saya temukan….. ternyata postingan kali ini tepat sama dengan judul film tersebut yaitu ‘300’. Ternyata si PUTRI sangat memperhatikan hal ini sampai dia menyempatkan diri untuk mencari hadiah khusus untuk postingan ke-300 ini.

Film ini menceritakan kembali pertempuran kuno Thermopylae yang ganas. Di mana Raja Leonidas (Gerard Butler) dan 300 tentara, berjuang mati-matian melawan Xerxes dan tentara Persianya yang berjumlah ribuan.

Ke 300 pasukan Spartan ini begitu tenang manghadapi musuh yang sangat banyak itu, hari demi hari mereka lewati dengan semangat juang mereka demi mempertahankan wilayah mereka. Tetapi Xerxes selalu memiliki taktik yang licik untuk mengalahkan pejuang Spartan ini.

Menghadapi kemungkinan tersebut, sikap satria dan pengorbanan mereka mengilhami seluruh Yunani untuk bersatu melawan musuh Parsia, membangun sebuah demokrasi.

Film ini sangat bagus untuk hal entertainment (hiburan) walaupun bisa dikatakan film ini bukan golongan film untuk semua umur mengingat banyak menyuguhkan darah dan kekerasan, tetapi hal tersebut memang tidak dapat dilepaskan dari tema dari film ini sendiri yang berusaha menggambarkan “suasana perang” .

Usaha untuk menggambarkan sisi sejarah dan legenda seperti “tertelan” oleh canggihnya teknik berperang Spartan dan terpesonanya kita kepada peperangan itu sendiri, dan tak luput juga film ini berisikan bumbu-bumbu Hollywood seperti pengkhianatan, kepahlawanan yang digambarkan di pihak Raja Leonidas dan pasukan Spartannya dan sijahat yang digambarkan pada pihak Raja Xerxes dan pasukan Persianya dan tentu saja sex dan tragedi.

Saya ingat betul Film yang dirilis di Bioskop 2 tahun yang lalu ini sempat menjadi Box Office, kalau dibandingkan dengan film sekarang mungkin setaraf dengan Film 2012 atau AVATAR.

Selain menghasilkan banyak uang, film ini juga menuai kritik pedas. Setelah diluncurkan, "300" langsung mendapat respon pemerintah Iran. Bahkan Presiden Iran Mahmoud Admadinejad mengungkapkan rasa marahnya terhadap film ini. Film ini dinilai mendeskreditkan bangsa Iran (Persia) yang digambarkan sebagai penjahat, tidak berprikemanusiaan, dan hanya berfikir menyerang bangsa lain serta suka membunuh.

Belajar dari kisah film diatas, ada 3 (tiga) point penting yang sempat menjadi bahan pembelajaran.

1.Kesungguhan ( totalitas )
Point ini menjadi paling penting, karena terbukti kisah patriotisme Pasukan Sparta tidak sia-sia. Walau kesemua 300 orang gugur sebagai martyr tetapi pengorbanan dan totalitas mereka membuat Pasukan Persia harus menghitung ulang keingian mereka dalam menaklukan daratan Eropa.

2.Strategi yang Matang
Celah sekecil apapun tidak akan menguntungkan pasukan Sparta, bila mereka tidak cerdik dalam menyusun strategi peperangan. Dengan strategi matang, mampu membuat “neraka” bagi para pasukan Persia.

3. Team Work dan Keikhlasan
Team tidak hanya mengandalkan kerja team yang memang telah ditugasi. Tetapi seluruh team mulai Penanggung Jawab tertinggi sampai PIC lapangan harus bekerja dalam satu langkah yang padu. 300 orang Pasukan Sparta tidak hanya terdiri dari orang yang memang terlatih tetapi juga rakyat biasa yang terpanggil membantu perjuangan mempertahankan wilayah mereka. Dan hal ini seharusnya dapat dikerjakan dengan rasa keikhlasan. Tanpa hal ini maka semua kerja keras team akan tidak berjalan dengan baik. Terbukti kekokohan “benteng” pasukan Sparta akhirnya harus jebol karena adanya salah satu anggota pasukan yang membelot dan menginformasikan kepada Pasukan Persia, akan adanya celah jalan lain menuju ke Sparta Athena.

Menonton film ini bagai menyaksikan pameran lukisan impresionistis sepanjang hampir dua jam. Dan bila dibandingkan dengan film-film terdahulu yang mengisahkan para ksatria Yunani. Terasa benar, setelah mengalami gelegar film 300, maka film-film seperti Troy, Alexander, dan Kingdom of Heaven menjadi film yang kelewat tenang dan sopan.

Berikut Trailer filmnya yang saya petik dari youtube.




Pramudya Ksatria Budiman 300 , Film , Resensi

HARI UNTUK AMANDA

HARI UNTUK AMANDA
Saya merasa penasaran setelah melihat cuplikannya di beberapa stasiun TV. Film 'HARI UNTUK AMANDA' yang sementara tayang di beberapa bioskop di Indonesia.

Sekilas Film ini terkhusus buat kaum wanita namun ternyata juga sangat penting ditonton oleh kalangan laki-laki sebagai pelajaran. Mengapa film Hari Untuk Amanda begitu menarik? Karena disini ada kisah cinta seorang wanita yang bimbang dengan pilihan pasangan hidup, hati yang pasti terpilih dan siapakah pilihannya ?

Pernikahan menjadi dambaan dua orang insan yang sudah menjalin hubungan, seperti yang dialami oleh Amanda Sudirdja(Fanny Fabriana) dan Dody Arifin (Reza Rahadian). Menjelang 10 hari pernikahan, secara tiba-tiba muncul sosok dari masa lalu Amanda, Hari Ananda (Oka Antara).

Amanda merasa bimbang dan cemas. Permasalahannya mantan pacarnya Hari hadir kembali dalam kehidupannya ketika dia akan menikah dengan Dody. Hubungan si Amanda dengan Hari pernah dibina selama 8 tahun ini kandas di tengah jalan.

Amanda berharap Dody adalah laki-laki yang didambakan dalam hidupnya. Oleh karena itu pernikahannya dengan Dody harus menjadi moment yang sangat sempurna. Namun disaat waktu persiapan pernikahan, Amanda dan Dody malah dilanda ketegangan. Hanya gara-gara masalah kecil, mereka bisa bertengkar. Mulai dari masalah tanggal salah cetak di undangan, sampai gedung yang mereka sewa harus direnovasi mendadak. Hal ini ditambah dengan Dody yang tidak bisa selalu menemani Amanda untuk mengurus pekerjaannya, dikarenakan posisinya sebagai junior brand manager yang dinilainya jauh lebih hectic daripada Amanda, seorang Public Relation. maka Amanda lah yang berusaha keras mengatur semua itu seperti membagi undangan dan sebagainya.

Disaat Amanda membagi undangan pernikahan, Amanda hendak mengirimkan ke Hari (mantan pacarnya dulu ) dan mantan pacarnya Dody.

Moment itu lah yang dimanfaatkan oleh Hari untuk mengenang masa lalu nya dengan Amanda. Benih cinta lama kembali bersemi kembali diantara mereka berdua, tetapi Amanda merasa bingung dengan keadaan ini. Waktu 10 hari lagi akan menjadi hari yang spesial untuk Amanda. Konflik akhirnya muncul diantara Amanda dan Dody akibat hadirnya Sang mantan Hari. Selain itu, Amanda mulai kesal dengan sikap Dody yang tidak pernah memberikan kesempatan berbicara dan selalu sibuk dengan pekerjaannya, sangat berbeda jauh dengan Hari yang selalu santai menjalani hidup.

Amanda pun mulai mengalami dilema. Di satu sisi, Dody begitu sibuk luar biasa sampai tidak bisa membantu Amanda dalam mempersiapkan pernikahannya. Sementara Hari, yang punya moto 'hidup itu santai seperti di pantai, slow kayak di pulau', memiliki banyak waktu dan benar-benar santai.

Rasa nyaman bersama Hari membuat Amanda hanyut dalam kenangan. Tapi saatnya bagi Amanda untuk memutuskan dan memilih siapa satu dari dua pria yang ada dihadapannya. Mantan kekasihnya yang hidup mengikuti arus, atau tunangannya yang sibuk hingga tak ada waktu tersisa?

Akankah Amanda tetap memilih menikah dengan Dody? Ataukah pilihannya jatuh pada Hari?



'Hari Untuk Amanda' adalah cerita yang mungkin dialami banyak pria maupun wanita di luar sana. Jangan heran saat Anda menontonnya, kata 'gue banget' bisa langsung terbesit di benak Anda. Siap-siap saja untuk mengikuti alur cerita dengan tawa canda hingga haru. Karena inti film ini memang tentang suatu hubungan, pilihan dan kepastian hati.

Film ini tak hanya menghibur, tapi menonton kisah "Hari Untuk Amanda" juga membuat kita berpikir ulang, sudah benarkah sesuatu yang kita pilih?

Dengan menghadirkan pemain berbakat seperti Reza Rahadian, Fanny Fabriana, Oka Antara, Kinaryosih, Aida Nurmala, Indra Herlambang dan disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko membuat Film Hari Untuk Amanda layak di tonton ! Semoga film yang ditulis oleh Ginatri S Noer ini akan sukses seperti Ada Apa Dengan Cinta.

*Kadang apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita. Bukan masalah siapa yang kita pilih, tapi mengapa kita memilihnya?*


Dirangkum dari berbagai sumber



FILM TOILET 105

TOILET 105
Usaha sineas dan pekerja film Indonesia yang telah memutar kembali roda industri perfilman Tanah Air setelah sempat mati suri selama beberapa tahun, memang patut di apresiasi.

Kerja keras, kreatifitas dan tekad mereka yang besar untuk memajukan perfilman dalam negeri memang membanggakan. Berkat kerja keras mereka, bioskop-bioskop di negeri ini tak lagi didominasi oleh film-film impor dari Hollywood, Bollywood, atau dari Asia Timur (Jepang, Taiwan, Korea, China-Mandarin). Film-film kita sudah mulai menunjukan taring. Tapi, itu hanya dari segi kualitas. Jika berbicara pada tataran kualitas tema, isi, serta ide cerita yang diusung oleh film-film buatan dalam negeri, kita masih jauh ketinggalan.

Berlebihan memang jika mengatakan bahwa film-film Indonesia kurang bermutu, demi mengingat ada beberapa film kita yang menda¬pat penghargaan di beberapa ajang berskala besar seperti film Pasir Berbisik Gie, Berbagi Suami, Opera Jawa atau Sampai pada Janji JoniJamila dan Sang Presiden. Tapi, jika kita melihat secara umum, film-film produksi Tanah Air memang kurang bersisi.

Tema-tema yang diangkat terasa monoton dan terkesan mengikut-ikut. Film-film kita banyak yang hanya mengang¬kat tema-tema tema humor serta horor dengan bumbu vulgar seperti Air Terjun Pengantin dan Suster Keramas.

Meskipun beberapa tahun terakhir muncul beberapa film bertema lain seperti, Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi namun Film Horor nampaknya banyak mendominasi industri film sekarang ini. Tren tampaknya memang menjadi suatu keniscayaan bagi kalangan sineas yang kurang produktif. Dan menurut penilaian saya pribadi film-film lokal yang diproduksi belakangan ini, maka kita akan melihat betapa tidak produktifnya ide/tema yang digarap dalam film-film tersebut.

Seperti halnya dengan film Toilet 105 yang akan dirilis di Bioskop mulai 14 Januari 2010 besok. Berikut adalah sinopsisnya :

Toilet umum biasanya tidak selalu bersih dan wangi, maklum namanya toilet umum, sehingga digunakan banyak orang. Tapi berbeda dengan toilet yang dimiliki oleh SMU Bina Persada. Selalu wangi dan bersih, dan jadi favorit, tak hanya siswa-siwa tapi juga 'penghuni' lainnya, yakni makhluk halus.

Okta (Ricky Harun), Ical (Lionil Tikoalu), dan Rio (Rizky Putra) adalah para siswa SMU Bina Persada yang selalu mendapat teror dari 'penghuni' toilet itu.

Dan teror itu pun semakin gencar ketika SMU Bina Persada kedatangan murid baru, Marsya (Coralie Gerald). Para warga sekolah semakin sering sering melihat penampakan-penampakan yang membuat bulu kudu kuduk berdiri, yakni berupa potongan-potongan tubuh. Sang satpam sekolah (Aming), guru favorit (Indra Birowo) hingga guru paling killer (Suti Karno), semua ketakutan dengan teror si 'penunggu' toilet.

Akhirnya, Marya sadar bahwa ialah yang diincar oleh setan penunggu toilet ini. Ia harus menuntaskan sebuah dendam, jika Marsya tak mau terus-terusan diteror oleh setan itu. Terlebih lagi, ia tak mau timbul semakin banyak korban di sekolah barunya.

Apakah yang akan dilakukan Marsya agar setan toilet itu tak lagi meneror seluruh isi sekolah? Lalu apa sebenarnya rahasia di balik teror setan toilet tersebut? Silahkan anda menyaksikannya besok. Awas, jangan pernah sendirian, karena sineas kita sangat ahli dalam menakut-nakuti penonton!



Selama kuasa pasar dan politik kapitalisme masih memainkan peran yang besar di hampir setiap lini kehidupan di negeri ini, kecil harapan industri perfilman Tanah Air akan terus berkembang. Industri perfilman Indonesia hanya akan berjalan di tempat. Jumlah film yang dihasilkan memang besar, namun dari segi kualitas, terkesan kurang berisi dan monoton. Pun, miskin nilai edukasi.

Mohon maaf… itu hanya sekedar penilaian pribadi saya.

Bagaimana dengan penilaian anda? Silahkan share di kotak komentar di bawah.

Pramudya Ksatria Budiman Film , Opini , Resensi , Toilet 105

FILM SANG PEMIMPI

ARIEL
“Tak bisa dipungkiri, JIFFest adalah sebuah festival secara keseluruhan yang menjadi etalase perkembangan film Indonesia di mata pelaku film internasional,”

kali ini film karya sutradara muda dan berbakat Riri Riza yang berjudul Sang Pemimpi menjadi pembuka Jiffest ke 11. Hal ini merupakan kali pertama dalam sejarah Jiffest berlangsung. Sang sutradara pun merasa sangat bangga mendapat kepercayaan ini.

Jiffest adalah sebuah ajang penting, untuk cinema pasca reformasi, dimana kita menandai reformasi dimulai itu ada saat tahun 1998, dimana ada beberapa film penting dirilis dan juga Jiffest dimulai, jadi kalau setelah sebelas tahun akhirnya film Indonesia diputar sebagai film pembuka Jiffest dan kebetulan itu film saya, saya sangat bangga,” ujarnya saat pembukaan Jiffest ke 11.

Sang Pemimpi adalah sebuah film Indonesia tahun 2009 yang diadaptasi dari tetralogi novel Laskar Pelangi kedua, Sang Pemimpi, karya Andrea Hirata. Film ini disutradarai oleh Riri Riza dengan produser Mira Lesmana. Pengambilan gambar dimulai di Belitung (Belitong, dalam bahasa setempat) pada 1 Juli 2009 dan selesai pada 21 Agustus 2009, dan akan dilakukan di beberapa lokasi di Manggar, Tanjung Pandan, Jakarta, dan Bogor. Film ini rencananya akan tayang di bioskop di Indonesia mulai 17 Desember 2009.

Sang Pemimpi adalah sebuah lantunan kisah kehidupan yang mempesona dan akan membuat Anda percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan. Lebih dari itu, akan membuat Anda percaya kepada kekuasaan Tuhan.

Andrea akan membawa Anda berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran di mana Anda akan menemukan pandangan yang berbeda tentang nasib dan tanangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap sekaligus kebahagiaan yang mengharu biru.

Film ini menceritakan mengenai Ikal dan saudara sepupunya, Arai, serta sahabatnya, Jimbron, pada usia remaja, dan mengisahkan mengenai anak remaja yang mencari identitas diri dan seksualitas pada usia 17 tahun.

Ikal masih merindukan cinta pertamanya yang telah pergi dari Belitung, menyisakan hanya kenangan dan sebuah kotak kaleng yang bergambarkan menara Eiffel. Arai, seorang playboy bergaya Melayu, jatuh cinta kepada teman sekelasnya Zakiah Nurmala yang tampaknya bertepuk sebelah tangan. Sementar itu, Jimbron berangan-angan untuk menyelamatkan Laksmi, seorang gadis muda yang bekerja di sebuah pabrik cincau. Bersama-sama, ketiganya berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi.

Arai Sang Simpai Keramat yang menjadi yatim piatu saat masih kecil, walaupun begitu ia memandang dunia dengan penuh warna dengan segala ide dan perbuatannya untuk selalu mendukung dan memberikan yang terbaik bagi orang2 di sekitarnya.

Setelah bertemu dengan guru idolanya yaitu Pak Balia sang guru muda yang inspiratif dan bersemangat membuat ketiga sahabat karib itu mempunyai impian yang bagi penduduk kampung Belitong sangat tinggi yaitu menginjak altar suci Universitas Sorborne Prancis.



Sang Pemimpi diperankan oleh beberapa artis terkenal serta artis film pendatang baru asli Belitung. Hanya beberapa pemeran dari Laskar Pelangi yang dipertahankan untuk turut dalam film ini. Vikri Setiawan, Ahmad Syaifullah, Azwir Fitrianto, Sandy Pranatha, dan Zulfanny adalah para pemeran asli Belitung.
  • Vikri Setiawan sebagai Ikal remaja.
  • Lukman Sardi sebagai Ikal dewasa (juga dalam Laskar Pelangi).
  • Zulfanny memerankan Ikal kecil (juga dalam Laskar Pelangi)
  • Ahmad Syaifullah sebagai Arai remaja. Arai merupakan sepupu jauh Ikal yang ditinggal mati kedua orang tuanya dan kemudian diangkat sebagai anak oleh orang tua Ikal. Bagi Ikal, Arai adalah pahlawannya.
  • Nazriel Ilham (Ariel "Peterpan") sebagai Arai dewasa. Mira Lesmana menyatakan bahwa Ariel Peterpan sebagai Arai dipilih melalui proses casting, bukan karena kepopulerannya.
  • Sandy Pranatha sebagai Arai kecil.
  • Azwir Fitrianto sebagai Jimbron remaja.
  • Mathias Muchus sebagai Seman Said Harun, Ayah Ikal (juga dalam Laskar Pelangi).
  • Rieke Diah Pitaloka sebagai Ibu Ikal (juga dalam Laskar Pelangi).
  • Nugie sebagai Pak Balia, seorang guru muda pengajar sastra yang inspiratif dan bersemangat, yang menginspirasi Ikal dan Arai untuk bermimpi kuliah di Perancis. Nugie mengatakan bahwa demi tampil maksimal dalam film ini, ia belajar jadi orang culun, memakai kemeja lusuh, dan celana di atas perut. Ia juga harus mempelajari dialek Belitong dengan mendengarkan rekaman percakapan orang-orang Belitong. Film ini dianggapnya sebagai sebuah batu loncatan.
  • Landung Simatupang sebagai Pak Mustar, kepala sekolah yang keras dan galak.
  • Maudy Ayunda sebagai Zakiah Nurmala, gadis Melayu nan cantik yang menjadi obsesi cinta Arai.
  • Yayu Unru sebagai Bang Rokib, pelaut Melayu yang berpengalaman.
  • Jay Widjajanto sebagai Bang Zaitun, pemusik Melayu lokal yang lihai soal asmara.
Semoga saja Film yang berdurasi 120 menit dan menelan biaya produksi 11 Milyar ini, dapat bersaing dalam kancah perfilman International JIFFest 2009, minimal dapat mengulangi kesuksesan Film Laskar pelangi.

Pramudya Ksatria Budiman Film , Resensi , Sang Pemimpi

XXL BERSAING DENGAN 2012 DAN NEW MOON

XXL
"Walah ndak bosen bosennya sih Bang, membahas tentang politik yg udah di bahas di tipi dari pagi hingga malam hari...."

Demikian salah satu komentar sahabat dalam postingan saya kemarin yang berjudul SKPP BIBIT-CHANDRA, emang rada bosen sih.... berita di TV cuman sekitar KPK, Bibit-Chandra, Angket Centry dan lainnya.

Pada postingan kali ini saya akan kembali membahas tentang sebuah film. Meskipun pembicaraan tentang hal ini masih ramai diberitakan tentang film 2012, NEW MOON, ataupun fose syur TAMARA BLESZYNSKI dalam Film AIR TERJUN PENGANTIN.

Film komedi bertajuk XXL (Double Extra Large) akan menjadi satu-satunya produk Indonesia yang bersaing dengan box office asing di bioskop tanah air pada akhir November hingga awal Desember ini, demikian yang diungkap oleh Chand Parwez Servia , produser film tersebut.

XXL merupakan film lanjutan dari film produksi Starvision di tahun 2007 yakni antara XL antara AKU, KAU DAN MAK EROT.

Secara keseluruhan, film XXL menawarkan komedi segar yang akan membuat penontonnya terhibur dengan paduan kekuatan peran dari para pemainnya yang memberikan unsur komedi yang kuat dalam masing-masing karakter yang dimainkan.

Penulis skenario Monty Tiwa mengatakan, dalam film XXL itu dirinya memadukan tema ketidakpercayaan diri dengan isu hubungan antar etnis sehingga konflik yang ditampilkan lebih luas cakupannya.

Film tersebut dibuka dengan kisah Mak Siat yang baru selesai menjalani masa hukuman penjara dan bertekad untuk menaikkan pamornya yang sempat jatuh dengan cara membesarkan alat kelamin pria hingga ukuran yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sementara itu, seorang pemuda biasa bernama Kasep (Aming) didaulat memimpin sejumlah preman tua yang tergabung dalam geng Barudak Lieur guna menggantikan posisi ayahnya (Candil) dalam menghadapi geng saingan mereka Wong Kenthir yang dipimpin oleh Soemanto (Dwi Sasono).

Namun, Kasep merasa rendah diri dan tidak yakin menjadi seorang pemimpin geng karena ukuran alat kelaminnya tidak menunjang sehingga harus berobat kepada Mak Siat. Sementara itu, alur cerita akan berkembang pada adegan ketika Kasep jatuh hati pada Melati (Mey Chan) adik kandung Soemanto.

Yang menarik dalam film ini adalah pendatang baru Mey Chan, personil Duo Maia. MeyChan mengaku penampilannya di ‘XXL-Double Extra Large’ sangat berbeda dengan kesehariannya. Ia pun mendapat tantangan baru di dunia film.

MeyChan berakting sebagai Melati. Ia pun beradu akting dengan beberapa aktor-aktris yang sudah berpengalaman. Di antaranya, Aming, Meriam Bellina dan Dwi Sasono.



Kekuatan cerita yang berhasil di visualisasikan oleh Ivander Tedjasukmana tidak terlepas dari sosok yang membesut film sebelumnya, XL. Ya, Monthy Tiwa yang berhasil menurunkan ilmunya kepada anak didiknya, Ivander, kali ini bertugas mengemas cerita.

Maka dari itu tidak dapat dipungkiri jika film ini bisa disebut sebagai film berkualitas dan layak tonton. Tanpa esek-esek, tanpa wanita seksi, dan tanpa setan-setanan, murni komedi segar disajikan untuk Anda.

Jadi jika Anda sudah lama tidak tertawa puas, atau Anda sedang butuh media untuk merelaksasikan diri jauh dari berita politik yang rada negebosenin, silahkan kunjungi bioskop terdekat, mumpung filmnya masih diputar.

Bagi yang sudah nonton..... silahkan dishare dikotak komentar ....




Pramudya Ksatria Budiman Film , Resensi , XXL

3 DOA 3 CINTA

3 doa 3 cinta
Film Indonesia "3 Doa 3 Cinta" yang sudah dirilis setahun yang lalu ini nampaknya sudah dilupakan karena waktu putarnya di bioskop pada bulan Desember 2008, tapi sejak kemarin... Film ini kembali diberitakan oleh beberapa media cetak dan eletronik.

Pesantren adalah subkultur? Bisa jadi pernyataan Abdurrahman Wahid beberapa dekade lalu itu ada benarnya. Namun Nurman Hakim tak repot dengan itu. Film 3 Doa 3 Cinta yang disutradarainya ini terasa dibuat tanpa ambisi berlebih dan seakan berkata: ‘ini adalah pesantren yang saya kenal dan saya tak terlalu peduli pada definisi dan segala anggapan tentangnya’. Namun dengan bicara itu, ternyata Nurman Hakim bicara tentang sesuatu yang lebih besar: Islam di Indonesia.

Film ini meluruskan pandangan pihak luar terhadap dunia pesantren yang terlanjur diberi stereotype sarang teroris dan cap negatif lainnya. kata sutradara yang juga pernah mondok di sebuah pesantren di kawasan Demak.

Film Indonesia "3 Doa 3 Cinta" kembali masuk nominasi bersaing dengan empat film karya sineas Selandia Baru/Jerman, India, Korea Selatan/Prancis, dan Turki untuk memperebutkan kategori film feature terbaik anak-anak pada Festival Film Asia Pasifik (Asia Pacific Screen Awards/APSA) 2009.

Dalam festival film yang berlangsung di Hotel Marriott, Gold Coast, Australia, film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra tersebut masuk nominasi bersama film "The Strength of Water" (Kekuatan Air) dari Selandia Baru/Jerman, "Tahaan" (India), "Ye Haeng Ja" (Korsel/Prancis), dan "Mommo-Kizkardesim" (Turki).

Minister Counselor Fungsi Pensosbud KBRI Canberra, Raudin, yang hadir memberikan dukungan moril kepada karya sineas Indonesia yang masuk nominasi di festival film Asia Pasifik itu mengatakan, para pemenang diumumkan Kamis malam.

Selain kategori film feature anak-anak terbaik, "APSA" 2009,ada delapan kategori lain, yakni film feature terbaik, film feature animasi terbaik, aktris terbaik, aktor terbaik, film feature dokumenter terbaik, pencapaian dalam penyutradaraan, skenario terbaik, dan pencapaian dalam sinematografi.

Dalam setiap kategori terdapat lima film yang masuk nominasi. Film-film itu dinilai sebuah tim yang terdiri dari Huang Jianxin (ketua), Tahmineh Milani (Iran), Pryas Gupta (India), Gina Kim (Korea Selatan), Andrew Pike (Australia) dan Aden Young (Australia).

Selain karya insan perfilman Indonesia, APSA 2009 yang penyelenggaraannya didukung pemerintah negara bagian Queensland, Stasiun TV "CNN", dan Badan PBB untuk Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) itu juga diikuti film-film dari Australia, China, Iran, Jepang, dan Rusia.

Pada APSA 2007, film Indonesia yang disutradari Ari Sihasale, "Denias, Senandung di Atas Awan" merupakan pemenang kategori film feature anak-anak terbaik.

Sebelumnya, Film 3 DOA 3 CINTA berhasil lolos dalam official selection competition di Dubai Internasional Film Festival yang diselenggarkan 9 hingga 18 Desember 2008 setahun lalu.

Film ini, terpilih dari 1800 film dari berbagai dunia yang diterima oleh panitia festival saat itu. "Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, karena sebelum dirilis di negeri sendiri, film ini sudah lolos dalam berbagai festival film Internasional.. sebelum lolos seleksi di official selection competition di Dubai Internasional Film Festival, film ini juga diputar di Pusan Internasional World Premiere bulan Oktober lalu.

Dan merupakan sebuah kebanggaan tersendiri untuk film yang proses penggarapan skenarionya memakan waktu 3 tahun lebih. Bahkan skenario film ini berhasil mendapatkan script development grant dari Global Film Initiative di San Fransisco, USA; Goteborg International Film Festival Fund dari Swedia dan Fond Sud Cinema dari Perancis. Dan pada bulan Mei lalu film 3 DOA 3 CINTA diundang dan diputar di Cannes Film Festival di Perancis.

Kita patut mengacungkan jempol buat Sang Sutradara Nurman Hakim

Meskipun mengangkat realita kehidupan tiga orang santri di lingkungan pesantren, sang sutradara, enggan menyebut bahwa film ini adalah sebuah film religi seperti AYAT-AYAT CINTA.

Ia mengatakan, jika di film-film religi Indonesia selalu menampilkan tokoh atau pemeran utama yang 'suci' atau 'sempurna'. Hal itu, berbanding terbalik dengan film 3 DOA 3 CINTA. Film ini malah memvisualisasi tokoh utama sebagai seorang manusia yang biasa yang tak luput dari dosa namun tinggal di sebuah pesantren.



Film ini berkisah tentang tiga sahabat, Huda, Rian dan Syahid, tiga remaja yang tinggal di pesantren di sebuah kota kecil yang terletak di daerah Jawa Tengah. Mereka punya rencana dalam hidup mereka masing-masing setelah lulus dari pesantren dan SMA sebulan lagi. Mereka memiliki sebuah lokasi rahasia, sebuah dinding tua di belakang pesantren, di mana mereka menulis harapan-harapan mereka di dinding. Hingga sebuah situasi merubah hidup mereka

Huda (Nicholas Saputra), ingin mencari ibunya yang kabarnya berada di suatu tempat di Jakarta. Huda bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo) seorang penyanyi dangdut pemula yang sangat seksi ketika di panggung dan terobsesi menjadi bintang terkenal di Jakarta. Diantara mereka tertanam benih-benih asmara

Rian (Yoga Pratama) santri dari suatu kota besar. Dia mendapatkan sebuah kado handycam dari ibunya pada saat ulang tahunnya. Rombongan pasar malam terutama layar tancap yang kebetulan sedang singgah di desa itu membuat Rian semakin obsesif terhadap kamera.Rian ingin melanjutkan usaha Ayahnya

Syahid (Yoga Bagus), berasal dari keluarga miskin. Ayahnya sakit keras. Syahid merencanakan sesuatu yang besar dalam hidupnya yang akan memberikan dampak bagi kedua temannya.

Bagaimana kehidupan mereka bertiga dan terwujudkah segala impian dan harapan mereka yang pernah mereka tulis di tempat rahasia itu? untuk mengetahui kelanjutan ceritanya,... silahkan berkunjung KESINI

Pramudya Ksatria Budiman berita , Film , Resensi

JAMILA DAN SANG PRESIDEN

jamilaMeskipun Film ini sudah lama diputar serempak di bioskop, namun awal November ini kembali jadi sorotan, karena Film "Jamila dan Sang Presiden" besutan Ratna Sarumpaet ini berhasil meraih NETPAC Award pada festival Asiatica Film Mediale yang berlangsung di Roma sejak 29 Oktober.

Dalam wawancaranya pagi tadi di salah satu stasiun TV swasta, Ratna Sarumpaet mengatakan "Jamila dan Sang Presiden" mengalahkan karya film unggulan dari negara-negara Asia lainnya, diantaranya, China, Jepang, Korea, India, Iran, Thailand dan Vietnam.

Selain meraih penghargaan The Network for the Promotion of Asian Cinema (NETPAC) juga terpilih untuk mewakili Indonesia pada kompetisi Piala Oscar pada bulan Februari 2010.

Sebelum berlaga di Oscar, "Jamila & Sang Presiden" akan mengikuti Asia-Pacific Film Festival di Sydney, Australia dalam waktu dekat.

Dikatakannya, NETPAC Award diberikan kepada film-film terbaik Asia saat acara penutupan festival Asiatica Film Mediale di Cinema Capricana, Roma .

NETPAC merupakan organisasi yang mewakili para kritikus, produser, distributor, curator, eksibitor, dan edukator yang bergerak di dunia perfilman.

NETPAC bertujuan untuk memajukan perfilman di kawasan Asia, dan telah dianggap oleh dunia sebagai otoritas yang sangat berkompeten dalam perfilman Asia.

Dewan juri yang diketuai kritikus film sangat disegani di Jepang Tadao Sato menilai keunggulan "Jamila & Sang Presiden" bukan saja terletak pada aspek artistik dan originalitasnya tetapi juga pada ketajaman kritik sosial dalam memotret kondisi sosial dan kemasyarakatan di Indonesia.

Ide cerita JAMILA DAN SANG PRESIDEN berawal dari tiga tahun yang lalu, UNICEF meminta Ratna Sarumpaet, sutradara teater handal yang juga aktivis perempuan, untuk menjalankan sebuah penelitian mengenai woman trafficking di Indonesia.

Ratna berkelana ke Batam, Solo, Indramayu, Surabaya, dan kota-kota di Kalimantan, merekam beragam cerita dari ratusan ribu korban perempuan yang kemudian disatukannya dalam sebuah pementasan teater yang sangat membuka mata. Dua ratus ribu anak di bawah umur diperdagangkan di Indonesia setiap tahunnya untuk alasan yang sangat menyedihkan, kemiskinan dan kurangnya pendidikan.

“Sebuah refleksi yang diharapkan dapat membuka mata masyarakat betapa masalah ini adalah masalah amoral yang datang dari kemiskinan, kebodohan, kemunafikan, keserakahan dan lemahnya penanganan hukum,” ungkap Ratna dalam rilisnya.

Jamila dan Sang Presiden dibintangi oleh beberapa actor antris senior antara lain, Christine Hakim, Ria Irawan, Ade Irawan, Dwi Sasono, Surya Saputra, Fauzi Baadillah, Atiqah Hasiholan, Adji Pangestu serta Melissa Karim.

Jamila dan Sang Presiden berkisah mengenai Jamila, seorang anak perempuan berusia enam tahun yang lahir di tengah kehidupan masyarakat di mana menjual atau menggadaikan anak untuk dijadikan pelacur adalah hal yang biasa. Alhasil Jamila dijual oleh sang ayah di usianya yang masih enam tahun.

Namun ibu Jamila berhasil merebut kembali Jamila dari mucikarin dan menitipkannya di rumah keluarga Wardiman, sebuah keluarga terhormat di Jakarta. Di rumah ini Jamila hidup berkecukupan dan tentram, hingga sampai akhirnya masalah muncul ketika Jamila beranjak dewasa.

Tanpa setahu Bu Wardiman, setiap malam Jamila telah menjadi budak seks yang dipakai secara bergiliran oleh Pak Wardiman dan Hendra, putra mereka hingga hamil. Akhirnya dia membunuh lelaki-lelaki tersebut dan melarikan diri.

Dalam pelariannya, dia tak lepas dari pria-pria yang tertarik hanya pada tubuhnya. Hingga akhirnya dia melarikan diri lagi. Apesnya saat melarikan diri berbarengan dengan adanya razia WTS. Karena dia pun sedang berlari-lari, akhirnya dia ikut dibekuk. Peristiwa inilah yang membuahkan perkenalannya dengan Susi (Ria Irawan).

Setelah ditahan, Jamilah juga dikaitkan dengan terbunuhnya seseorang dari gembong perdagangan wanita di Kalimantan. Ternyata pembunuhan ini memang terkait dengan Jamila, saat dia melakukan pelacakan keberadaan adiknya, Fatimah yang menjadi korban perdagangan anak perempuan. Fatimah dijadikan pelacur kecil yang merangkap menjadi pengedar narkoba ke pelanggannya.

Jamila memang dengan mudah membunuh sejak dirinya dinodai, maka dari itulah ketika dijatuhi hukuman mati dia tidak ingin minta grasi karena dia tidak ingin jika dirinya bebas dia dengan mudah membunuh lagi.

Padahal sang pengacara yang yang disewa oleh Ibrahim sudah menjelaskan jika tidak mengajukan grasi, Jamilah akan dijatuhi hukuman mati kecuali jika presiden berinisiatif memberikan grasi. Namun di luar sana juga banyak demonstrasi, entah itu demonstrasi yang dipolitisir oleh suatu front yang mengatasnamakan agama. Front tersebut menuntut hukuman mati bagi Jamilah, karena Jamilah dianggap telah melakukan dosa besar dengan melakukan pembunuhan dan menjadi pelacur. Tak ada yang peduli alasan yang menjadikan Jamila menjadi sosok tersebut.

Ria, sipir penjara Jamilah yang semula juga bertindak keras terhadap Jamila lama kelamaan pun menjadi lunak setelah membaca catatan harian Jamilah dan melihat keteguhan hati Jamila yang sama sekali tak peduli akan dihukum mati dengan tidak meminta pengampunan.

Menjelang ending penonton baru disuguhi bagaimana praktek perdagangan manusia itu dilakukan. Sayang justru isu yang cukup berbobot ini hanya mendapat porsi sangat kecil. Selama film berlangsung, rasa penasaran yang digarap hanyalah penyebab kenapa Jamila sampai membunuh menteri dan siapa itu Ibrahim.

Walaupun ternyata pembunuhan terhadap menteri hanyalah persoalan klise seorang wanita yang dikhianati, itu pun pembunuhan bela diri karena sang menteri sendiri yang tadinya mengarahkan pistol ke Jamila.


Film Indonesia yang juga pernah menerima NETPAC Award adalah "Bird Man Tale" karya Garin Nugroho pada Berlin International Film Festival tahun 2003,
Pramudya Ksatria Budiman Film , Jamila , Resensi , trailer

RUMA MAIDA

ruma maida
Sejarah adalah kata yang “kering” yang cenderung termarginalkan di mata dunia pendidikan kita saat ini. Isinya melulu tentang tanggal dan hafalan tanpa makna. Generasi kita butuh penyegaran untuk senantiasa menjadi pengingat dalam keterlenaan bangsa ini dalam melihat sejarah.


Mungkin kita pernah membaca ungkapan Milan Kundera, sastrawan Ceko, pemenang Nobel Kesusastraan. Ia berkata,”Langkah pertama untuk memusnahkan suatu bangsa cukup dengan menghapuskan memorinya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya dan sejarahnya, maka tak lama setelah itu, bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau. Dunia sekelilingnya bahkan akan melupakannya lebih cepat”.

Kalimat Kundera ini sangat dengan kalimat , ”Jangan sekali-kali melupakan sejarah!'' Rangkaian kata-kata yang lebih dikenal dengan istilah 'Jas Merah' . Kalimat yang begitu melegenda dicetuskan oleh Putra Sang fajar 'Soekarno', tatkala dilengserkan dari tampuk kekuasaanya sebagai presiden RI pertama.

Respons dan persepsi rakyat Indonesia beragam, ada yang memperhatikan dan mempelajarinya secara serius, ada yang sekedar tahu lalu EGP ( emang gue pikirin…)….. dan nampaknya Teddy Soeriaatmadja terusik dengan kalimat Kundera dan Bung Karno, bersama Ayu Utami yang menjadi penulis naskah skenario, Teddy menjadikan pijakan semangat untuk tidak melupakan sejarah tadi lewat sebuah film yang diberi judul "Ruma Maida". dengan menggandeng Pemain:

Atiqah Hasiholan ... Maida
Yama Carlos ... Sakera
Davina Veronica Hariadi ... Ratu
Imelda Soraya ... Nani Kuddus
Nino Fernandez ... Ishak Pahing
Wulan Guritno ... Bertha
Verdy Solaiman ... Kolonel Maruyama
Frans Tumbuan ... Dasaad Muchlisin
Hengky Solaeman ... Kuan
Imam Wibowo ... Bung Karno
Rizal Edwin Manangsang ... Bung Hatta

Maida, gadis kikuk dan cuek yang idealis, yang mengelola sekolah bagi anak jalanan di sebuah bangunan tua yang terbengkalai.

Setelah dua tahun bergelut bersama anak-anak jalanan, memberikan pendidikan, Maida harus menghadapai kenyataan pahit. Rumah tempat mereka bernaung akan segera dihancurkan untuk kemudian dibangun pusat pertokoan.
Maida dan sekolah liarnya terancam terusir.

Maida berjuang keras untuk mempertahankan sekolahnya. Tak ada celah untuk menghindar membuat gadis itu gusar dan beringas, insinyur pembangun rumah tersebut dihadapinya dnegan ketus.
Adalah Sakera (Yama Carlos), sang insinyur yang rupanya juga mantan seorang aktivis semasa kuliahnya, tertarik dengan kegiatan yang dilakoni Maida.

Setelah serangkaian kesalahpahaman, mereka akhirnya sepakat sama-sama berupaya mempertahankan sekolah tersebut.
Dalam perjuangannya, Maida justru menyibak misteri rumah tua tersebut. Bangunan itu adalah saksi bisu atas kisah cinta yang syahdu dan tragis antara dua insan di tengah perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.

Alur cerita mulai berputar ke masa lampau dan kembali ke kenyataan sekarang. Penonton harus cermat mengenang waktu dan sejarah kebangsaan kita agar tidak kehilangan alur cerita.
Tokoh lain yang penting dalam film ini adalah Bung Karno. Dalam film ini Bung Karno digambarkan bukan sebagai orator yang ulung. Tapi sebagai negosiator yang memiliki apresiasi seni yang tinggi.

Selain itu, kita akan dibuai dengan beberapa soundtrack dari grup band Naif dengan mengaransemen ulang lagu-lagu Juwita Malam, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Ibu Pertiwi selain lagu Keroncong Tenggara yang diciptakan Ayu Utami dan dinyanyikan langsung oleh pemeran Nani Kuddus (Imelda Soraya).


Nani adalah garis penghubung Bung Karno dengan tokoh imajiner dalam cerita Ruma Maida. Selain tokoh sejarah yang sudah terkenal, tokoh baru seperti Ishak Pahing (Nino Fernandez), Nani Kudus adalah imajiner. Karakter yang sengaja dimunculkan Ayu Utami untuk menunjukkan sisi lain Bung Karno.

Rumah tempat Maida mengajar, konon, adalah rumah di mana Bung Karno sering berbincang dengan Iskak Pahing dan keluarga.




Film ini bukan sekedar memberi hiburan yang bermutu. Selain lokasinya yang menarik di kota tua Jakarta dan Semarang, kualitas akting jebolan teater juga menghidupkan film ini. Bahkan jika Anda termasuk orang yang kurang peduli sejarah, bisa-bisa Anda menangkapnya sebagai kebenaran sejarah. Padahal tidak seluruhnya benar-benar pernah terjadi.

RUMA MAIDA percaya bahwa masih banyak anak-anak muda yang ingin meneruskan cita-cita mulia para pelopor bangsa, yakni mencerdaskan bangsa dan hidup damai berdampingan dengan semangat bhinneka tunggal ika.

~~~000oooo000~~~

Postingan ini saya peruntukkan buat anak-anakku yang tergabung dalam 'SMANSALILIRIAJA BLOGGER COMMUNITY', agar senantiasa dapat mempelajari sejarah, bukan cuman melalui bangku sekolah yang jumlah beban belajarnya semakin sedikit, dan jangan dibuai dengan kehadiran film-film horor dan sinetron cengeng.

Sumber : KapanLagi.com



Pramudya Ksatria Budiman Film , Resensi , Ruma Maida , Sejarah

SERIGALA TERAKHIR MAFIA INDONESIA

Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, Anas Urbaningrum, menyerukan pembersihan mafia dari semua lembaga hukum di Indonesia.

Kasus dua pimpinan nonaktif KPK harus menjadi momentum pembenahan wajah penegakan hukum Indonesia. ''Para pimpinan lembaga-lembaga (penegakan hukum) tersebut tersebut harus benar-benar berkomitmen membersihkan lembaganya,'' kata Anas dalam jumpa pers kemarin..

Mafia, ujar dia, harus hilang dari Polri, Kejaksaan, Pengadilan, dan KPK. Kasus terakhir terkait dua pimpinan nonaktif KPK, kata Anas, justru harus dijadikan momentum untuk benar-benar mendirikan martabat dan kehormatan lembaga penegak hukum.

Istilah Mafia nampaknya sudah melekat di bumi Indonesia, bahkan sudah menjadi predikat bagi oknum pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan.

Sedangkan bagi-bagi kalangan anak-anak, banyak yang sudah mengenal istilah ini, karena salah satu game Online yang banyak digemari di Facebook adalah 'MAFIA WAR'

Kalau kita telusuri makna Mafia yang sebenarnya sesuai dengan pengertian yang terdapat di Wikipedia :

Mafia, dirujuk sebagai La Cosa Nostra (bahasa Italia: Hal Kami), adalah panggilan kolektif untuk beberapa organisasi rahasia di Sisilia dan Amerika Serikat. Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi yang orang-orang di Sisilia masuki pada Abad Pertengahan untuk tujuan perlindungan dan penegakan hukum sendiri (main hakim). Konfederasi ini kemudian mulai melakukan kejahatan terorganisir.

Anggota Mafia disebut "mafioso", yang berarti "pria terhormat".

Mafia melebarkan sayap ke Amerika Serikat melalui imigrasi pada abad ke-20.

Kekuatan Mafia mencapai puncaknya di AS pada pertengahan abad ke-20, hingga rentetan penyelidikan FBI pada tahun 1970-an dan 1980-an agak mengurangi pengaruh mereka. Meski kejatuhannya tersebut, Mafia dan reputasinya telah tertanam di budaya populer Amerika, difilmkan di televisi dan bahkan iklan-iklan.

Istilah "mafia" kini telah melebar hingga dapat merujuk kepada kelompok besar apapun yang melakukan kejahatan terorganisir

Kita tidak perlu membahas terlebih jauh tentang Mafia, yang penting kita tidak terlibat dalam salah satu kelompok terselubung yang bertujuan melakukan kejahatan yang terorganisir seperti yang sedang mengemuka sekarang ini.

Kalaupun anda tergolong penggemar film yang bertema action, tidak ada salahnya nonton Film 'SERIGALA TERAKHIR' yang serentak di putar di beberapa bioskop dalam minggu ini.(kayaknya nggak nyambung nih dengan pembuka postingan.

Berawal dari persahabatan 5 pemuda, Ale (Fathir), Jarot (Vino G Bastian), Lukman (Dion Wayoko), Sadat (Ali Syakieb), dan Jago (Dallas Pratama). Umur yang masih muda, membuat mereka sangat berambisi dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Ale yang terlihat memiliki jiwa kepemimpinan, dianggap sebagai leader kelompok ini.

Suatu hari dalam pertandingan sepak bola, mereka terlibat perseteruan dengan kelompok lain. Ale saat itu sedang terdesak, namun Jarot datang menyelamatkannya. Sayang, secara tak sengaja Jarot menusuk lawan dengan pisau. Ale dkk yang panik melihat korban jatuh bersimbah darah, langsung meninggalkan Jarot sendirian.

Akibat perbuatannya, Jarot harus mendekam di dalam penjara seorang diri. Tak ada satu pun sahabat-sahabatnya yang mau peduli. Ia pun merasa telah dikhianati teman-temannya sendiri. Perasaan kecewa dan sakit hati membuat Jarot ingin membalas dendam.

Selepas dari penjara, ia langsung bergabung dengan kelompok Naga Hitam yang notabene musuh dari kelompok Ale dkk. Permasalahan pun semakin rumit. Mulai dari Jarot yang tidak sengaja bertemu adik Ale, Aisya (Fanny Fabriana), perempuan yang dulu pernah ia cintai, hingga perdagangan narkoba antar dua kelompok ini.

Film dengan tema gangster mungkin baru SERIGALA TERAKHIR yang cukup menonjol. Upi Avianto sebagai sutradara cukup berani membuat film seperti ini, mengingat negara kita tidak terlalu terkenal dengan kelompok-kelompok mafia semacam ini.


Lihat Trailer Lainnya
Dengan durasi film selama 135 menit, film menjadi sedikit membosankan. Beberapa adegan drama dibuat lambat, sehingga cenderung membuat penonton sedikit bosan. Namun hal itu tertutupi dengan adegan action yang apik dan akting Vino sebagai Jarot yang cukup menawan. Ia mampu mengekspresikan rasa kecewa dan sakit hatinya akibat dikhianati dengan baik.

Sumber dari sini

Pramudya Ksatria Budiman Film , Mafia , Resensi , Serigala Terakhir

RESENSI FILM THE POLICE


Kemarin secara tidak sengaja ketika pulang dari Makassar, saya satu mobil dengan orang tua siswa. Dalam perjalanan kami banyak berserita tentang anaknya yang pernah saya bina di SMA dulu yang kini baru menyelesaikan studinya di perguruan Tinggi. Salah satu potongan percakapan kami tentang anaknya yang sempat saya ingat adalah, " Dulunya anak saya pengen jadi polisi, tapi nggak saya ijinkan. Polisi sekarang sudah gak dihormati lagi Pak, berbeda sama Angkatan Darat, kayaknya kharismanya jauh lebih baik".

Akupun terhenyak, sudah seburuk itukah citra kepolisian Indonesia?

Sungguh ironis, pihak yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat justru dibenci oleh masyarakat itu sendiri. Apa yang menyebabkan masyarakat belum bisa menunjukkan kebanggaan akan eksistensi polisi? Apa karena kinerja polisi yang tidak memuaskan masyarakat, atau polisi terlalu arogan dalam menjalankan tugas dan kewajibanya?

Namun kalau melihat fenomena sekarang, pernyataan orang tua tadi, mungkin tidaklah terlalu tepat. Karena hal itu hanya pendapat pribadi. Tapi kita tidak bisa mengingkari bahwa Citra polisi masih terkadang dipandang sebelah mata. Masih ada saja segelintir masyarakat yang memberikan stigma negatif pada insitusi ini dengan hal-hal yang berbau sangar, kejam dan menakutkan.

Tudingan pelanggar HAM dan pelaku kekerasan bukan ‘mainan baru’ yang seringkali dialamatkan pada mereka ketika menjalankan tugas. Padahal konotasi pelanggar HAM itu sendiri selama ini sering salah tafsir. Dan kewenangan polisi untuk melakukan kekerasan yang dilindungi Undang-Undang justru terabaikan.

Kemana polisi unjuk profesionalismenya, ketika masyarakat tetap memandang sebelah mata? Disamping meningkatkan kinerjanya, POLRI ingin ‘bicara’ lewat film layar lebar.

Untuk meluruskan dan menegakkan citra polisi yang cenderung miring dan tidak sewajarnya di mata masyarakat, Mabes Polri melalui Kadiv Humas Polri bekerja sama dengan Putra Kusuma Production untuk memproduksi film berjudul THE POLICE.

The Police merupakan film Indonesia yang dirilis mulai 8 Oktober 2009 ini disutradarai oleh A Leung Wong. Film ini akan dibintangi antara lain oleh Vino G. Bastian, Marissa Nasution, Ki Kusumo, Ferry Irawan, Teguh Leo, Malih Tongtong, dan Fairly Wattimena.

Sebuah helikopter polisi terbang rendah mengitari bundaran Hotel Indonesia Jakarta. Di bawahnya, nampak mobil hitam bernomor B 2 KJ meluncur dengan dengan kecepatan tinggi, diikuti beberapa patroli polisi. Sesekali suara letusan senjata api terdengar memecah keriuhan suasana di siang bolong jalanan ibukota.

Aksi kejar-kejaran dan baku tembak yang menegangkan itu, berakhir menggelikan. Roy (Fairly Wattimena), gembong penjahat yang memimpin aksi tersebut berhasil meloloskan diri, hanya karena berpindah ke mobil bajaj. Tawanya meledak, bangga merasa dirinya bisa mengelabuhi polisi. Padahal, itu hanya strategi Komandan Surya (Ki Kusumo), sosok polisi berpangkat Komisaris Besar yang tegas dan menggelikan, agar bisa mengetahui keberadaan sarang mafia Coki (Ferry Irawan), bos besar dari Roy.

Ya. Jaringan mafia Coki cs memang meresahkan masyarakat. Dengan menggandeng Govinda Kumar (Ferry Fernandez), mafia narkoba dari India, Coki mengepakkan sayapnya di bisnis barang haram tersebut. Namun berkat kesigapan polisi dibawah kendali Komandan Surya yang menggabungkan empat personil terbaiknya, sindikat narkoba besar-besaran berhasil diringkus. Tentu saja, setelah melewati perjalanan panjang, menegangkan, konyol dan lumayan rumit.

Tiga diantara personil itu adalah teman satu angkatan semasa pendidikan polisi. Mereka berasal dari daerah berbeda. Jono (Vino G Bastian), berdarah Betawi, gokil dan menyebalkan, Ucok (Teguh Leo), asli Batak khas dengan logat kerasnya, dan Albert (Diaz Theo) dari Ambon yang jago otomotif. Semuanya memiliki kisah masing-masing dalam menjalani profesi sebagai polisi. Yang memilukan hingga menggelikan.

Ditangan A Leung Wong—Sutradara handal dari Hongkong yang kerap menggarap film-film Stephen Chow, tiap adegan dari film ini sarat dengan aksi yang menegangkan. Dengan bumbu komedia yang segar, A Leung Wong siap mengocok perut Anda.

Lewat mata kamera, A Leung Wong begitu fasih memanfaatkan alur cerita. Pertentangan peran menuju titik klimaks digambarkan begitu apik.

Jono dengan ayahnya H. Dulloh (H Malih) misalnya. Status sang ayah yang begitu kolot dibesut dengan pribadi sang anaknya yang hidup di era modern. Di usia yang cukup matang dengan profesi sebagai polisi, H Dulloh berharap anaknya segera menikah. Sebaliknya, hidup menjomblo juga bukan pilihan Jono.

Dibantu Ucok—sahabatnya, Jono berusaha mengejar cintanya. Sialnya, cinta Jono justru jatuh pada sosok gadis bernama Anita (Marrisa Nasution), yang belakangan diketahui adalah atasan Jono. Anita tipikal Polwan jujur dan berprestasi, disamping memiliki paras yang cantik, yang ditugaskan Komandan Surya untuk bergabung di tim pemberantasan jaringan mafia Coki Cs. Lantas, bagaimana ending kisah cinta mereka?

Peran Vino G Bastian sebagai Jono dalam film THE POLICE benar-benar di pertaruhkan. Adegan penyamaran yang mengharuskan dirinya menjadi waria, atau mesti tampil syur dengan memamerkan pantatnya, benar-benar dihayati Pemeran Pria Terbaik FFI 2008 ini. Adegan-adegan berbahaya yang menegangkan dan penuh tantangan, mampu dijalani Vino G Bastian dengan mulus.

“Film ini sarat dengan tantangan dan adegan action yang berbahaya, lengkap dengan peralatan taktis serta persenjataan milik polisi seperti helikopter, kapal perang hingga tank lapis baja. Meski demikian, kami mencoba mengemasnya dengan bumbu komedi. Drama percintaan dan aksi yang menegangkan, menjadi lain daripada yang lain jika dipadukan dengan komedi. Tentu saja tidak mengurangi citra polisi di mata masyarakat,” terang Ki Kusumo, Executive Producer Putra Kusuma Picture.

Selain dibintangi Pemeran Pria Terbaik FFI 2008 dan para artis papan atas, beberapa petinggi di lingkungan POLRI ketiban peran dalam film yang diperkirakan menghabiskan biaya produksi hingga 8 Miliar ini. Ki Kusumo sengaja mencomot A Leung Wong—Sutradara handal dari Hongkong yang kesohor menangani film-film action Stephen Cow.


Pramudya Ksatria Budiman Film , Resensi , The Police

'HARRY POTTER AND THE HALF-BLOOD PRINCE' Cinta Segitiga Harry Potter

Pemain: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Michael Gambon, Jim Broadbent, Alan Rickman, Tom Felton, Bonnie Wright

Years ago, I knew a boy who made all the wrong choices. His name was Tom Riddle. Today, the world knows him by another name…, Voldemort!”

Kalimat itu diucapkan oleh Kepala Sekolah Sihir Hogwarts paling terkenal, Albus Dumbledore (Michael Gambon), saat menjalani tugas barunya sebagai private lecturer alias pembimbing pribadi Sang Terpilih, Harry Potter (Daniel Radcliffe).

Di tahun ke-enamnya di Hogwarts, Harry memang sedang disiapkan untuk sebuah tantangan besar, menaklukkan penyihir hitam paling berbahaya sepanjang masa, Lord Voldemort (Ralph Fiennes). Sesuai kalimat pembuka di atas, dalam persiapannya Dumbledore dan Harry mengajak penonton menelusuri sejarah dan masa lalu si Pangeran Kegelapan.

Harry Potter (Daniel Radcliffe) menyadari bahwa ancaman Lord Voldemort belumlah usai. Walaupun keadaan cukup tenang, namun Harry yakin bahwa musuh besarnya ini sedang merencanakan sesuatu. Harry bahkan yakin bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam Hogwarts.

Bersama gurunya, Dumbledore (Michael Gambon) dan Professor Horace Slughorn (Jim Broadbent), Harry mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan terakhir dengan Voldemort.

Di saat yang sama, Harry menemukan sebuah buku ramuan sihir milik seseorang bernama Half-Blood Prince. Dari buku ini, Harry kemudian mempelajari banyak ramuan sihir yang berguna bahkan cenderung membahayakan.

Di sisi lain, Harry kemudian terlibat cinta segitiga antara dirinya, Ginny Weasley (Bonnie Wright) dan Dean Thomas (Alfie Enoch). Apakah mereka akan menyadari bahwa bahaya sedang mengancam ketentraman Hogwarts?

Semakin mendekati ending, suasana suram makin terasa karena lebih banyak adegan kekacauan dan pertempuran yang ditampilkan. Makanya Motion Picture Association of America (kayak badan sensor-nya gitu deh) memberi label “PG” alias “Parental Guidance suggested” untuk film ini.

Selain Half Blood Prince, The Prisoner of Azkaban juga punya label yang sama. Tapi ada kabar bagus buat yang kangen pingin nonton Quidditch. Tenang ajaaa…, setelah absen nongol di dua film Harry Potter sebelumnya, David Yates (sutradara) akhirnya menyajikan pertandingan Quidditch full seperti yang ada di The Sorcerer’s Stone.

Seperti pada film-film Harry Potter sebelumnya, Half Blood Prince nggak setia dengan bukunya. Ada cerita penting di buku yang nggak dimasukkan di sini, dan ada beberapa adegan tambahan yang nggak ada di buku. Katanya sih supaya makin seru…!!

Film keenam dari serial HARRY POTTER disutradarai oleh David Yates yang juga menyutradarai film kelimanya, HARRY POTTER AND THE ORDER OF THE PHOENIX.

Film ini menghabiskan biaya sekitar Rp. 2,5 triliun rupiah.

Berikut Trailler Film HARRY POTTER AND THE HALF-BLOOD PRINCE






Sumber : KapanLagi.com